---Di mana pun adalah ruang kelas---

Senin, 21 Mei 2018

Tentang Peradaban: Tanggapan Receh Untuk Kajian Semalam*


Oleh : M. Q. Aynan

      Sebelum peradaban modern ada, telah banyak peradaban yang ada di bumi.  Peradaban itu identik dengan keanekaragaman sistem kepercayaan dan kemajuan bidang kehidupan misalnya intelektual, militer, sastra, dll. Yang bisa dilacak misalnya, antara lain Mesir, Babilonia, dan Mesopotamia.

      Peradaban-peradaban tersebut selain bisa dijumpai dalam buku sejarah modern, kita juga bisa menemukan di teks kitab suci. Salah satu kandungan dalam Alquran adalah kisah, baik kisah masa lampau, saat itu, maupun masa sesudah Alquran diturunkan. 

      Tiap peradaban punya masa lahir dan tenggelamnya masing-masing. Ibnu Khaldun dengan Muqaddimah-nya memiliki teori ashabiyyah. ‘Ashabiyah mengandung makna Group feeling, solidaritas kelompok, fanatisme kesukuan, nasionalisme, atau sentimen sosial. Ibn Khaldun dalam hal ini memunculkan dua kategori sosial fundamental yaitu Badawah yang berarti komunitas pedalaman, masyarakat primitif, atau daerah gurun, dan Hadharah yang berarti kehidupan kota, masyarakat beradab.

      Ibnu Khaldun juga menuturkan bahwa sebuah Peradaban besar dimulai dari masyarakat yang telah ditempa dengan kehidupan keras, kemiskinan dan penuh perjuangan. Keinginan hidup dengan makmur dan terbebas dari kesusahan hidup ditambah dengan ‘Ashabiyyah di antara mereka membuat mereka berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita mereka dengan perjuangan yang keras. Impian yang tercapai kemudian memunculkan sebuah peradaban baru. Dan kemunculan peradaban baru ini pula biasanya diikuti dengan kemunduran suatu peradaban lain (Muqaddimah: 172). Tahapan-tahapan di atas kemudian terulang lagi, dan begitulah seterusnya hingga teori ini dikenal dengan Teori Siklus.

      Mesir misalnya, mundur salah satunya karena diserang bangsa Hikos. Bangsa Hikos mempunyai hubungan dengan romawi.  Bangsa Hikos inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Yunani Kuno.

      Menurut Bertrand Russel-dan di buku-buku sejarah filsafat barat-berpendapat bahwa Yunani Kuno adalah yang paling berpengaruh. Sebagai bukti, pemikiran filsafatnya masih terus dipelajari hingga kini. Pendapat ini bisa diterima, namun tak sepenuhnya benar. Menurut penulis, pendapat seperti itu patut untuk diwaspsdai. Yunani Kuno adalah yang paling berpengaruh pada saat itu, tapi bukan satu-satunya. Pendapat seperti itu terdengar bias Barat dan Eropasentris. Masih ada peradaban yang lain yakni India Kuno dan Tiongkok Kuno. 

      Hal ini bisa dilihat tatkala peradaban Islam maju.  Saat itu penerjemahan buku berbahasa asing sangat digalakkan. Filsafat Yunani kemudian mempengaruhi para tokoh seperti al-Kindi, al-Farabi, dll. Sedangkan India Kuno, kemudian mempengaruhi tokoh-tokoh seperti al-Khawarizmi, al-Biruni, dll.
     
      Penulis disini bukan ingin membantah pengaruh Yunani Kuno. Akan tetapi, yang ingin ditekankan di sini adalah bahwa setiap peradaban setara, dalam arti memiliki sisi menonjolnya masing-masing. Kesadaran akan hal itu kemudian justru bukan menimbulkan benturan antar peradaban akan tetapi saling meminjam dan saling mengerti antar satu sama lain.
Wallahu a'lam bishshawab

*Tulisan iseng setelah kajian bersama beberapa sahabat PMII

Tidak ada komentar:

Posting Komentar