Hai Azhariyyin, Kurangi Mubadzir, Tingkatkan Faidah
Disusun oleh Muhammad Qurrotul Aynan
Ditulis untuk Mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir
I. Di Antara Dua Dunia
Kalian datang ke Kairo membawa cita-cita. Di dalam koper kalian ada pakaian, kitab, mungkin sedikit bekal kiriman orang tua, dan harapan yang lebih berat dari semua itu: harapan keluarga, harapan kampung, harapan diri sendiri. Kalian menjejakkan kaki di kota para ulama, belajar di lembaga tua yang telah melahirkan generasi demi generasi penjaga ilmu. Kalian duduk di majelis, mencatat syarah, menghafal matan, berdiskusi tentang dalil dan tarjih.
Namun di sela-sela semua itu, ada kenyataan yang mungkin tak kalian sadari: waktu kalian bocor. Energi kalian terhambur. Uang kalian terkuras pada hal-hal yang tak perlu. Percakapan kalian berputar di tempat. Langkah kaki kalian bolak-balik tanpa perhitungan. Kalian sibuk, tapi tidak selalu produktif. Kalian bergerak, tapi tidak selalu bertumbuh.
Di sinilah kalian perlu berhenti sejenak.
Bukan untuk menyalahkan diri.
Bukan untuk mengeluh.
Tetapi untuk bertanya dengan jujur:
Apakah hari-hari kalian benar-benar penuh faidah? Atau justru sarat mubadzir?
II. Mubadzir: Bukan Hanya Soal Uang
Ketika kalian mendengar kata “mubadzir”, yang terlintas biasanya adalah uang. Makan berlebihan. Belanja tak perlu. Boros kuota. Tetapi mubadzir jauh lebih dalam daripada itu.
Mubadzir adalah:
• Waktu yang habis tanpa hasil.
• Energi yang terkuras tanpa arah.
• Potensi yang tak pernah dikembangkan.
• Ilmu yang didengar tapi tak dipahami.
• Peluang yang lewat karena kalian tak siap.
Di Kairo, mubadzir bisa berbentuk:
• Duduk lama di kafe tanpa agenda jelas.
• Diskusi panjang yang tidak mengarah.
• Scroll media sosial berjam-jam atas nama “istirahat”.
• Bolak-balik talaqqi tanpa catatan rapi.
Dan ironisnya, semua itu terasa wajar.
Padahal kalian jauh dari rumah.
Setiap hari di situ mahal.
Setiap bulan kiriman orang tua adalah amanah.
Setiap menit di majelis adalah kesempatan yang tak akan kembali.
III. Makna Faidah: Sebuah Cara Pandang
Secara bahasa, faidah berarti manfaat, hasil, buah, atau dampak yang nyata.
• Apa yang benar-benar bernilai?
• Apa yang hanya pemborosan?
• Bagaimana membuat alur kegiatan harian lebih ringan?
• Bagaimana mengurangi hambatan?
• Bagaimana memperbaiki sedikit demi sedikit setiap hari?
Hilangkan kelalaian dan fokus pada keikhlasan.
Biasakan amal kecil dengan istiqomah.
IV. Tiga Amanah Besar Mahasiswa Al-Azhar
Mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar memikul tiga amanah besar:
1. Amanah Ilmu.
2. Amanah Kemandirian.
3. Amanah Perkembangan Diri.
Ketiganya saling terkait. Ketiganya bisa saling menguatkan. Tetapi ketiganya juga bisa saling mengganggu jika tidak dikelola dengan baik.
V. Akademik: Dari Banyak ke Bermakna
Berapa banyak kitab yang sudah kalian miliki?
Berapa banyak majelis yang sudah kalian hadiri?
Berapa banyak catatan yang sudah kalian tulis?
Pertanyaan yang lebih penting:
Berapa banyak yang benar-benar kalian pahami?
Berapa yang bisa kalian jelaskan ulang?
Berapa yang mengubah cara berpikir kalian?
Faidah dalam akademik berarti:
• Tidak mengejar banyaknya kajian, tapi kedalaman pemahaman.
• Tidak sekadar mencatat, tapi meringkas.
• Tidak hanya mendengar, tapi mencerna.
Bayangkan dua mahasiswa.
Mahasiswa pertama:
• Hadir di banyak majelis.
• Catatannya tebal.
• Jadwalnya padat.
• Tetapi sulit menjelaskan satu bab secara runtut.
Mahasiswa kedua:
• Memilih kajian dengan selektif.
• Meringkas tiap pelajaran menjadi satu halaman inti.
• Mengulang dan mengajarkan kembali ke teman.
• Sedikit, tapi matang.
Renungkan,
Siapa yang lebih sedikit mubadzir?
Siapa yang lebih besar faidahnya?
.
VI. Ketika Pulang Nanti
Suatu hari kalian akan pulang.
Kembali ke keluarga.
Kembali ke masyarakat.
Kembali ke realitas Indonesia yang kompetitif.
Pertanyaannya:
Apakah kalian pulang hanya membawa ijazah?
Atau membawa sistem hidup?
Jika selama di Kairo kalian menerapkan alur kegiatan harian yang penuh faidah:
• Waktu kalian terjaga.
• Uang kalian terkendali.
• Energi kalian terarah.
• Ilmu kalian matang.
• Skill kalian terasah.
Maka adaptasi tidak akan terlalu sulit.
Karena kalian tidak bergantung pada situasi.
Kalian punya sistem internal.
VII. Penegasan
Kurangi mubadzir.
Kurangi kesia-siaan.
Tingkatkan faidah.
Tingkatkan istiqomah.
Jangan tunggu semester depan.
Jangan tunggu pulang.
Mulai hari ini.
Mulai dari satu perubahan kecil.
Karena perubahan besar lahir dari perbaikan kecil yang istiqomah.
Semoga kalian memilih dengan sadar.
Semoga kalian pulang bukan hanya sebagai alumni,
tetapi sebagai pribadi yang tertata, matang, dan siap memberi manfaat.
Kurangi Mubadzir. Tingkatkan Faidah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar