Oleh: M. Q. Aynan
Setiap bagian dari hidup kita memiliki warnanya sendiri. Tak terkecuali saat menjadi mahasiswa. Terdapat banyak perbedaan dengan bagian sebelumnya baik dari segi tempat, waktu, suasana, dan lingkungannya.
Bangunan kampus hampir tidak ada yang terletak di desa. Mungkin semua universitas beralamat di kota. Ya, meskipun tidak kota-kota banget. Yang pasti, anak desa, atau bahkan dari pelosok, akan tinggal di kota. Ini artinya banyak hal baru yang akan dijumpai.
Pertama, dan yang paling utama menurut saya adalah biaya hidup. Meski barang yang dibeli sama, bisa jadi harganya lebih mahal jika di kota. Semakin besar kotanya, akan semakin mahal harganya. Akan tetapi, terdapat beberapa pengecualian. Antara lain adalah barang-barang yang sudah ditentukan satu harga, atau kebetulan toko atau warungnya memang terkenal murah. Kebutuhan pun bertambah. Berbeda dengan saat di pesantren, hidup di kota menuntut kita untuk beli pulsa, internetan, mengisi bahan bakar, dll.
Kedua, suasananya. Jika di desa tidak ramai, maka di kota akan mendengar suara bising kendaraan bermotor. Kalau di desa mungkin hanya mendengar adzan, suara sungai, atau apalah. Malah, bisa jadi suara bising itu menggangu kita dalam beraktivitas.
Ketiga, orang-orangnya. Dari jenis kelaminnya, hidup di kota memberi kesempatan untuk lebih banyak berinteraksi dengan lawan jenis daripada di pesantren dan di desa. Dari hobinya, hidup di kota membuat kita akrab dengan orang-orang yang suka menonton film, suka membaca novel, menggemari musik populer.
Perpindahan ke kota telah membuat gaya hidup bergeser dari yang tradisional menuju sistem yang berpusat kepada informasi. Kondisi ini tentu berpengaruh pada pembentukan sistem pengetahuan, keagamaan, tradisi, dan kebudayaan. Di satu sisi, kondisi seperti itu membuat kita berpikiran terbuka. Kita juga naik kelas menjadi "kelas menengah", bukan hanya tentang keuangan melainkan juga tentang pemikiran.
Di sisi lain, kondisi itu bisa membuat kita tercerabut dari akar. Perlahan, kita sudah mulai tidak terlihat darimana kita berasal. Istilahnya, kita menjadi manusia yang modern, manusia yang berjarak dengan lingkungan sekitar.
Di balik potret senyuman manusia yang memodern tadi, terdapat narasi yang tak tertangkap. Kita seringkali tenggelam dalam rutinitas modern. Akibatnya adalah merasa terasing, merasa berantakan, merasa kehilangan, ingin kembali ke masa lalu. Hingga suatu saat berinisiatif untuk melakukan penemuan diri kembali.
Tak ada yang bisa menemukan diri kita kecuali diri kita sendiri. Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk memuluskannya? Saya rasa, salah satunya dengan menulis.
Tak ada yang bisa menemukan diri kita kecuali diri kita sendiri. Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk memuluskannya? Saya rasa, salah satunya dengan menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar