---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 24 Januari 2019

,


M. Q. Aynan

Setelah lulus dari pendidikan tingkat menengah, salah satu pilihannya adalah melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Dalam memilih perguruan tinggi, terdapat banyak pertimbangan. Ada pertimbangan-pertimbangan yang sudah umum diketahui, tetapi ada pula yang baru terpikirkan oleh saya.

Di lingkungan asal saya daerah timur Bondowoso, umumnya perguruan tinggi yang menjadi tujuan adalah kampus yang ada di Jember. Salah satu alasannya tentu karena paling dekat dibanding kota lainnya seperti Malang atau Surabaya. Nah, paling tidak, ada tiga kampus negeri yang ada di Jember yakni POLIJE, UNEJ, dan IAIN Jember.

Kalau memilih kampus berdasarkan besaran UKT-nya, saya pikir setelah tanya-tanya kepada teman-teman, relatif sama, tergantung program studinya. Meski, kalau dilihat secara gamblang, IAIN Jember masih lebih murah dibanding  dua kampus itu. Itu memang karena di IAIN belum terlalu banyak prodi-prodi yang "mahal".

Meski demikian, daya tarik IAIN Jember masih kalah dibanding dua kampus itu. Ini bisa dilihat dari jumlah pendaftar tiap tahunnya dari masing-masing prodi. Faktor lainnya memang karena jumlah prodi yang tidak banyak dan prodi-prodi yang ada adalah umumnya prodi-prodi keagamaan. Tentu, namanya saja sudah IAIN.

Di sisi lain, kurangnya peminat tidak selalu karena prodi-prodinya yang dipandang kurang "favorit", tetapi ada juga alasan-alasan lainnya. Salah satunya karena IAIN Jember dinilai "menyeramkan" oleh sebagian siswa tingkat menengah, sebagaiman yang dituturkan oleh salah satu siswa SMK di kabupaten Bondowoso kepada saya, apalagi kalau misalnya si siswa tidak terlalu lancar membaca Alquran. Bagaimana tidak "menyeramkan" kalau saat seleksi lewat jalur yang terdapat tes, bukan hanya tes ilmu alam, sosial, dan humaniora, melainkan juga ilmu pengetahuan keislaman. Belum lagi komposisi mata kuliahnya, seperti Bahasa Arab baik yang nazhariyah maupun tathbiqiyah, Ulumul Quran, Ulumul Hadits, Ilmu Kalam, dll. Itu yang membuat sebagian siswa lebih memilih POLIJE atau UNEJ. Membuat kita tersenyum, bukan?

Selasa, 08 Januari 2019

,


Oleh: M. Q. Aynan

Isu mengenai pemilihan rektor baru IAIN Jember tahun ini sudah saya dengar, meskipun hanya bisikan-bisikan, sejak sekitar setahun yang lalu. Pemilihan rektor baru tentunya merupakan hal yang sensitif, mengingat  jabatan itu adalah jabatan kelas satu. Meski demikian, dalam menyikapi hal tersebut terdapat beragam tanggapan dari mahasiswa IAIN Jember sendiri.

Ada sebagian kecil mahasiswa yang peduli dengan pemilihan rektor karena menyadari besarnya dampak yang akan ditimbulkan. Meski yang nantinya terpilih hanya satu orang, akan tetapi dari satu orang itulah kemudian jajaran para pejabat sampai ke tingkat bawah sangat ditentukan. Selain itu, tiap calon jelas menyimpan wajah-wajah yang tersembunyi.

Di sudut yang lain, ada pula para mahasiswa yang entah itu tidak peduli atau karena tinggal di gua, tidak tahu-menahu mengenai pemilihan rektor baru. Beberapa yang tidak peduli diketahui mempunyai alasan karena belum selesai dengan urusannya sendiri, entah karena terlalu jenuh disebabkan UAS yang terlalu menumpuk akibat akreditasi, atau karena memiliki aktivitas lain selama liburan. Itu masih lebih baik daripada mengantri kue kekuasaan tapi akhirnya telanjur dilahap. Yang lain, tergilas oleh paradoks yang timbul akibat teknologi informasi. Paradoks itu adalah di satu sisi terdapat kemudahan akses informasi, tetapi di saat yang sama karena terlalu melimpah, akhirnya kebingungan untuk memperoleh informasi yang diperlukan.

Tentu, pemilihan rektor baru adalah hal yang tidak buruk bagi civitas akademika. Kampus jelas diuntungkan sebagai lembaga pendidikan tinggi. Apalagi, kampusnya Islami, berstatus negeri pula. Orang-orang yang berhasrat memimpin dan berkuasa juga memiliki kesempatan untuk mencicipi citarasa rektorat kampus yang konon menjadi pusat kajian dan pengembangan Islam Nusantara. Mereka yang sebelumnya hanya menunggu sambil mengambil ancang-ancang, kini tiba lah tanggal mainnya.

Nah, bagi para mahasiswa yang tidak tahu-menahu serba-serbi pemilihan rektor baru ini, memalingkan wajah adalah gerakan yang jos sekali. Rezim pemilihan jelas punya watak yang oligarkis. Tidak tahu-menahu dalam konteks ini bisa diartikan hilangnya kepercayaan pada produk pemilihan, bahkan pada titik tertentu, pemilihan apapun. Toh, nantinya keputusan tetap berada dalam genggaman Menteri Agama, bukan?

Lalu, apa yang perlu dilakukan? Kalau melihat "zaman", tak perlu lah jauh-jauh ke urusan pemilihan rektor baru, apalagi kalau sampai mengorganisir massa. Sekarang kan zamannya buat start up, buat acara motivasi, buat seminar anti-pacaran, buat seminar nikah muda, atau apalah. Diskusi ideologi, tak perlu. Toh, ideologi sudah mati. Tak perlu bertanya siapa nanti yang akan jadi rektor baru. Kita tonton saja. Bukan menonton pemilihan rektor, tonton saja anime Jepang atau drama Korea. Ngomong-ngomong, Memories of Alhambra ongoing. Sekian.