oleh: Dasuki, Af (Moh. Dasuki)
Hal yg paling mendasar dari puasa adalah menahan, menahan rasa lapar dan dahaga. Ini menurut ulama', adalah puasa yg dilaksanakan oleh level bawah atau golongan awam dari umat Islam, yg puasanya hanya untuk menjalankan kewajiban dengan menahan rasa haus dan lapar.golongan ini hanya sebatas menggugurkan kewajiban dan memburu pahala sebanyak-banyaknya. Karena bagaimanapun puasa model ini pretensinya terletak pada relasi kepatuhan agama dan pengorbanan Biologis atau basis material yg menjadi dasar kebutuhan primer manusia. Sehingga ukuran kepatutan keberagamaan seseorang hanya diukur seberapa besar dan kuat ia bertahan secara biologis. Disini sebagian golongan awam memaknai puasa sebagai perintah tuhan dengan perjuangan pada pengorbanan Raga atau material,yang memversus antara hegemoni perintah tuhan dan hegemoni material, antara takut neraka dan mendapat surga. Jika seseorang sejak dini tidak dilatih melawan kuasa material, maka besar kemungkinan ia akan selalu memandang remeh perintah-perintah tuhan yg berhubungan dengan basis material,seperti sholat yg dianggap melelahkan, zakat mengurangi kekayaan, ngaji Alquran buang-buang waktu dan aspek-aspek material lainnya yg dianggap hilang secara matematis dalam aktivitas hidupnya.
Kuantifikasi pemaknaan puasa hanya berkisar pada bagaimana individu menundukkan nafsu biologisnya atau hegemoni materialnya.Mafhum puasa awam tidak berefek pada terciptanya partikel partikel perubahan, kecuali hanya persoalan takut neraka serta ingin mendapat surga tersebut. Berbeda dengan kelompok spesial yg membangun pemaknaan puasa bukan hanya sekedar lapar biologis, lebih dari pada itu lapar merupakan sebentuk gumpalan, teriakan dan perjuangan kemanusiaan untuk mencapai egalitarian serta keadilan sosial. Puasa model ini mencoba mengartikan puasa sebagai alat kelas sosial yg dapat membangun demensi kemanusiaan yaitu sebagai bahan refleksi kritis filosofis dalam memperjuangkan kelas-kelas marjinal yg banyak tersingkir secara material sehingga mereka banyak yg harus menahan lapar setiap harinya. Pelaku puasa diajak melakukan refleksi bukan hanya mencari surga dan menolak neraka,puasa memberi nalar ideologis sejauh mana orang yg mengaku beragama,harus berbanding lurus seberapa besar perjuangannya untuk kemanusiaan (khalifatullah),yg terus menerus diperingatkan dengan nada awas oleh Tuhan sebagai status hamba pendusta Agama.lapar dalam puasa menjadi fungsi ortopraxis, dari tuhan menjadi instrumen perjuangan kemanusiaan.
Lapar dalam konteks artikualasi eksistensial dapat keluar dari persoalan biologis ke persoalan sosiologis, dari teologis ke antropisentris. Lapar dalam kontek puasa model ini, adalah lapar yg tidak lagi berurusan dengan perut, berurusan dengan menu makanan, lauk Pauk dan Beras, tetapi lapar sebentuk perjuangan kaum beragama pada persoalan pengangguran dan kemiskinan dengan segala resiko sosial yg ditimbulkannya. Maka puasa tidak hanya memperkuat ketaatan teologis, lebih dari pada itu Puasa sebagai jembatan dari ketahanan antropologis dalam memperjuangkan hak-hak dasar kemanusiaan.Bila puasa atau lapar dipahami secara mendalam banyak hikmah-hikmah puasa yg dapat dieksplorasi untuk memberi pengetahuan yg lebih bagi kaum beragama agar melekat pada dirinya kecerdasan personal dan sosial, melekat pula status hamba yg sholeh individual dan sholeh secara sosial. Betapa indah Islam itu yg tidak hanya mengajarkan bagaimana bermimpi tentang masuk surga dg lapar tetapi bagaimana seseorang diberi jalan mendapatkan surganya dengan berbagai cara dan pendekatannya.
REFLEKSI, 17/5/2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar