---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 25 April 2020

,



Hari itu tak seperti biasanya. X baru kali ini memberi peringatan kepada Y. Y, yang biasanya selalu tersenyum dan tertawa lepas, tiba2 terdiam. Mendadak suasana menjadi hening tanpa kata. Y meninggalkan X sendirian.

X mungkin tidak menyangka setelah hari itu Y tidak mau lagi bertemu dengan X. Beberapa bulan kemudian peringatan yang pernah diberikan X sungguh terjadi. Y terseret sebuah insiden, sehingga ia kehilangan popularitasnya.

Meski "diusir", X masih saja terus menceritakan pesona luar-dalam Y. X akan menyela pembicaraan dengan suara keras tiap kali ada ungkapan yang menjelekkan Y. Bahkan X pernah menantang seseorang yang menjadikan Y sebagai bahan candaan meski secara fisik seseorang itu lebih gagah daripada X.

Setelah kehilangan popularitasnya, Y terbaring sakit. X tak bisa menahan diri untuk tidak mengunjungi Y meski bisa saja dia diusir untuk kedua kalinya.

 Untungnya, Y menerima kunjungan X, bahkan sempat berucap bahwa X memang berkata jujur dulu.

Setelah Y sembuh, betapa kagetnya ia mendengar kematian X. Padahal saat itu menurutnya sangat pas untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan X, bisa rukun kembali.

Di rumah duka, lagi2 Y heran mengapa sepi pengunjung. Ahli waris menuturkan bahwa semasa hidupnya, X banyak menghabiskan waktunya untuk menjaga Y dan ia bukanlah figur yang populer. Y menghampiri jenazah X. Ia sedih dan sangat menyesal mengapa dulu tidak memperhatikan peringatan X. Sesal tinggal sesal.

Kesetiaan luar biasa tidak pernah luntur, dibawa hingga ke liang kubur.

Jumat, 17 April 2020

,
M. Q. Aynan

Ada sebagian kader yang menurut saya muda, tidak hanya usianya tetapi juga pola pikir mereka. Bagi saya, pikiran-pikiran mereka segar, meski belum tentu diterima secara luas. Bagi mereka, di era platform serba baru ini, jumlah sama sekali kurang begitu penting.

Pada masanya, jumlah banyak memang menjadi kebanggaan tersendiri. Akan tetapi, seiring waktu, sampailah kepada titik jenuh, ketika jumlah banyak tadi menjadi seperti buih di lautan, mengambang.

Inilah yang membuat bingkai pemahaman determinasi jumlah menjadi tidak relevan lagi dan malah bisa berubah menjadi beban. Para kader muda tadi mengajarkan bahwa jauh lebih penting saling berkarya, memfungsikan diri, dan berkolaborasi, ketimbang persoalan jumlah.

Pada masanya pula, kita menyaksikan betapa hasrat untuk merekrut sebanyak-banyaknya yang begitu besar pada akhirnya membuat banyak anggota menjadi merasa pasif. Kohesi retak dan tidak terawat. Manusia yang berada di dalamnya tidak menjadi sumber daya, karena tak pernah merasa diberdayakan.

Mau diapakan sumber daya itu? Tidak sedikit pihak pengelola yang tak tahu mesti berbuat apa. Atau bisa saja tahu namun takut melangkah dan tidak berani mengambil keputusan. Lainnya sudah terlalu lama hidup dalam penantian kesadaran kolektif.

Memang, risiko sebagai penerus yang muda dan remaja, dalam bidang apa pun.  Masih berfungsikah mesin peremajaan?

Kamis, 16 April 2020

,

Dalam tulisan Ketika Saya Dijadikan Moderator ada potongan begini, Kalau ngotot, apalagi dengan restu pembicara, saya lagi-lagi tidak segan untuk menguliti pertanyaanya. 

Sikap seperti itu kemungkinan besar terbawa dari kebiasaan saya menerima instruksi dan menjadi instruktur dalam pelatihan. Terkadang ada saja sebagian kecil peserta yang celometan, seseorang yang banyak omong kosong, omongannya tidak relevan, tidak terampil dalam melaksanakan tugas.

 Instruktur, apalagi dalam militer misalnya, akan sangat membenci peserta pelatihan yang celometan dan tidak cekatan. Tamparan adalah wajar. Akan tetapi, karena bukan di militer maka saya tidak punya kewenangan untuk menampar, jadi saya pilih untuk menguliti pertanyaannya. Kader dilatih untuk siap di belantara kehidupan dan bukan untuk berdebat, apalagi untuk hal yang tidak prinsipil.
,
M. Q. Aynan

Ada yang mengeluh ke saya. Keluhannya muncul ketika saya saat beberapa waktu lalu meningkatkan intensitas pertemuan kami. Ia merasa bahwa saya baru saat itu sering menemuinya. Hal itu berbanding terbalik dengan kakak yang lain. Mereka dulunya sering menemuinya, sekarang tidak lagi. Saya sampaikan bahwa memang saya lebih sering menemuinya sebab saya melihat ia sudah mulai ditinggalkan kakak yang lain.

Ketika kader tidak lagi sering ditemui kakaknya, setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, bukannya tidak mau menemui tetapi sang kakak sudah bertambah sibuk sebab mengemban amanah yang lebih besar. Kedua, sang kakak tidak bertambah sibuk tetapi sudah tidak butuh lagi.

Mengapa tidak butuh? Bisa jadi ada kemungkinan-kemungkinan. Akan tetapi, satu kemungkinan yang sering saya temui adalah kader dianggap sebagai target ekonomi-politik. Ia hanya akan dianggap apabila menguntungkan secara ekonomis atau menguatkan secara politik. Jika pesta ekonomi-politik sudah usai, ia tidak dibutuhkan lagi dan tidak dihubungi lagi.

Berbeda jika kader dianggap aset, ia akan dijaga sungguh-sungguh. Ada atau tidak hajat ekonomi-politik, ia akan terasa penting dan akan dihubungi. Sebab, jika dianggap aset, kader akan di-berdaya-kan. Sebaliknya, jika ia dianggap target, ia akan di-perdaya-kan.

Rabu, 15 April 2020

,
M. Q. Aynan

Cukup banyak jenis forum entah dalam rangka ilmiah maupun kaderisasi. Akan tetapi, terkadang saya merasa kurang terdorong untuk mengikuti forum tersebut disebabkan faktor moderatornya. Terkesan bahwa panitia kurang teliti memilih moderator entah memang begitu atau karena tidak ada orang lain.

Moderator secara sederhana dapat dimengerti sebagai orang yang diberi tugas untuk mengelola forum sebagai penengah. Penengah di antara siapa, di antara pembicara dan pendengar. Untuk itu, seorang moderator mesti menguasai tentang dasar-dasar topik yang akan dibahas, tahu latar belakang pembicara, tahu latar belakang pendengar.

Tak jarang saya amati, orang yang menjadi moderator jauh di bawah pembicara. Misalnya topiknya tentang konflik Palestina, namun moderatornya tidak memahami dasar geopolitik. Paling tidak, moderator berada satu tingkat di bawah pembicara, sama dengan pembicara, atau bahkan bisa lebih tinggi.

Kejadian yang lebih menyebalkan bagi saya adalah ketika moderator yang kurang cakap itu dipakai lagi, diberi penghargaan pula. Saya ragu tidak ada yang lebih pantas sedikit.

Saya secara pribadi enggan dijadikan moderator. Malas saja, kecuali saya lihat sekiranya tidak ideal, terpaksa bersedia. Saya berusaha menjadi moderator yang sungguh siap dengan mengetahui peserta, pembicara, topik, waktu, dan suasananya, dan tidak bisa mendadak. 

Di permulaan moderator menggambarkan forum secara singkat. Lalu memperkenalkan riwayat hidup pembicara dan menjelaskan latar belakang pembicara dalam forum setidaknya untuk mengira-ngira apa yang akan dipaparkan oleh pembicara.

Di sesi tanya-jawab, tidak semua peserta punya kesempatan bertanya. Saya punya dua pilihan. Pertama, jika saya memilih untuk menggunakan kewenangan saya, dan juga waktunya mepet, saya akan membatasi pertanyaannya. Kedua, jika agak longgar saya biasanya mempersilakan siapa pun untuk bertanya, lalu pembicara memilih pertanyaan mana yang akan dijawab. 

Ada kemungkinan lain sebenarnya yang sangat jarang saya lakukan. Jika pembicaranya setingkat dengan saya, dan pendengarnya mengajukan pertanyaan yang tidak relevan dengan fokus pembicaraan, saya tidak segan-segan menganulir pertanyaan tersebut. Pernah terjadi beberapa kali, dan ada dua tanggapan. Kalau tidak ngotot maka saya menyarankannya untuk bertanya di lain kesempatan atau lewat pribadi. Kalau ngotot, apalagi dengan restu pembicara, saya lagi-lagi tidak segan untuk menguliti pertanyaanya. Masih lebih efisien begitu daripada dipaksa untuk dijawab, justru membuat pembicara bingung bagaimana menjawabnya.

Senin, 13 April 2020

,
M. Q. Aynan

Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata bahwa sanad itu bagian dari agama (Din). Kalau bukan karena sanad, pasti siapaun bisa berkata apa yang dia kehendaki. Berdasarkan perkataan tersebut, saya katakan bahwa sanad juga bagian dari ikatan kaderisasi. Kalau bukan berdasarkan sanad perjuangan, maka arah kaderisasi bisa dibelokkan semaunya.

Jika sanad perjuangan terus terjaga, setidaknya kita bisa meminimalisir kecelakaan kaderisasi yang dilakukan oleh sebagian oknum yang dianggap senior, yang tiba-tiba muncul tanpa diketahui asal-usul prosesnya, siapa guru dan senior sebelumnya, dan seterusnya. Membahas panjang-lebar tentang proses namun kehadirannya sendiri tidak berdampak signifikan.

Yang lebih parah adalah jika sanad perjuangan ini tidak dipedulikan maka silakan tunggu kemerosotan proses angkatan yang lebih muda. Yang lebih muda nantinya akan semakin bingung arah proses mereka sendiri, terlebih bagaimana memfasilitasi dengan memberi alternatif arahan bagi orang lain.

Sanad secara bahasa berasal dari kata sanada yang berarti “bersandar”. Dari kata sanada juga muncul kata asnada yang berarti “menyandarkan sesuatu”. Sedangkan kata sanad berarti “sesuatu yang dibuat sandaran”.

Sanad perjuangan disini adalah silsilah nama-nama senior pembina yang mengkader melalui berbagai jalur kaderisasi. Dinamakan sanad, karena junior dibawahnya menjadikannya acuan dalam menilai kualitas suatu proses apakah proses tersebut shahih, valid, jelas, atau tidak.

Karenanya, kita harus membaca urutan sanad dalam memilih proses, memilih senior, memilah-milahnya, mengolah, dan memisahkan mana yang jelas dan tidak. Dengan cara ini, proses dan hasilnya bisa tampak dalam waktu dan kesempatan tertentu. Jadi, pilih sanad yang jelas atau tidak?


Sabtu, 11 April 2020

,
M. Q. Aynan

Judul tersebut sengaja mengambil empat kata kunci. Dua kata kunci awal dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi selama sekitar lebih dari tiga tahun. Sebagai pengemban amanah di beberapa organisasi dan berkarya lewat pengajaran dan penulisan, setidaknya ada dua tema yang sering dibahas yaitu "sistem" dan pikiran seseorang. Akan tetapi, sistem dan pikiran seseorang menurut saya sulit dibahas dan abstrak. Akibatnya, jika dibahas jauh malah pembahasannya menjadi absurd. Untuk itu, yang bisa diamati menurut saya dari sistem adalah kebijakannya, jika pikiran seseorang maka karyanya, baik tulisan dan karya lainnya.

Sedangkan kata kunci kedua yaitu kritik dan propaganda, juga masih berkaitan dengan dua kata kunci sebelumnya karena dua kata kunci terakhir menjadi instrumen untuk menanggapi dua kata kunci pertama. Hal itu dilatarbelakangi oleh tanggapan baik yang berupa tulisan saja maupun disertai gambar. Banjir tanggapan tersebut dalam amatan saya mengaburkan perbedaan antara kritik dan propaganda, atas nama kebebasan berbicara. Padahal menurut saya, bebas berbicara tidak identik dengan sembarangan berbicara.

Ada kecenderungan tertentu pada sebagian orang, khususnya di lingkungan mahasiswa atau secara umum di lingkungan masyarakat, yakni cerewet menyerang pengemban amanah baik eksekutif di mahasiswa maupun eksekutif di dosen, namun ketika ia sendiri mengemban amanah ia tidak mau dikomentari. Bagi saya itu standar ganda. Standar yang tidak ganda adalah menanggapi orang lain sebagaimana ketika ditanggapi oleh orang lain. Apabila sudah merasa, dan perasaannya betul, bahwa sudah menanggapi secara baik tetapi mendapat balasan yang tidak linier, bisa jadi ada kemungkinan lain, salah satunya adalah miskonsepsi.

Miskonsepsi yang pernah terjadi dalam pengalaman saya pada konteks ini adalah miskonsepsi tentang kritik. Saya pernah menulis dan saya meminta seorang adik tingkat saya memberikan kritik. Ia tidak mau dengan alasan tidak suka memberi kritik. Saya balas justru karya yang bagus itu perlu dikritik. Kalau tidak dikritik bisa jadi karya itu buruk sehingga istilahnya under-critic. Pembaca karya tidak mengomentari sebuah karya karena tidak ada pencapaian kualitas baik bobot estetik maupun bobot politik yang bermutu sehingga tidak perlu dilakukan kritik atas karya tersebut. Bobot tersebut yang membuat berharga 

Saya tidak melanjutkan percakapan tersebut. Akan tetapi, dalam amatan saya, adik saya itu memiliki kesan kurang baik mengenai istilah kritik. Ada miskonsepsi disana disebabkan menurut saya banyak orang yang mengklaim mengeluarkan kritik, tetapi justru bukan kritik yang muncul, melainkan propaganda. Sebagaimana sudah tertulis, kritik justru menunjukkan penghargaan dan ada nilai dan bobot tertentu. Jika tidak berharga, justru tidak perlu ada kritik.

Berbeda dengan propaganda. Yang utama dalam propaganda adalah bagaimana mempengaruhi, terlepas berharga atau tidak, serta nilai dan bobotnya. Kalau ada sebaran tulisan saja atau disertai gambar, yang tanpa mencantumkan data dan argumen pendukung yang valid, tentu itu bukanlah kritik menurut saya, melainkan propaganda. Bahkan, propaganda tersebut bisa tergolong propaganda hitam apabila menimbulkan konflik horizontal, permusuhan, memecah belah, melanggar etika atau norma tertentu, menyebarkan teror atau membentuk stereotype serta stigma negatif. Jadi, pilih mengeluarkan kritik atau propaganda?

Kamis, 09 April 2020

,

Ada sebagian kakak tingkat, bahkan alumni yang selisih usianya jauh mengamuk karena tidak dikenal oleh juniornya. Saya pribadi terkadang merasa aneh dengan keberadaan orang ini. Saya pribadi kurang suka jika saya terlalu diseniorkan. Seperti ketika saya sedang buru-buru untuk ke suatu tempat atau mengerjakan sesuatu, malah ada junior menjabat tangan dan basa-basi panjang-lebar.

Orang-orang seperti itu seharusnya belajar dari senior saya yang berbintang Libra, seorang instruktur dalam acara-acara PKD dan PKL yang berprofesi sebagai dosen. Si Libra di suatu hari menemui saya di salah satu warung. Pertemuan ini berkaitan dengan kesibukannya dari dulu sampai sekarang yang dikenal sebagai instruktur untuk mendiskusikan rancangan pelatihan dengan saya.

Si Libra hanya mengenakan kaus oblong berjaket dan celana olahraga. Tiba-tiba salah satu adik tingkat menghampiri kami  dan langsung sok kenal sok dekat, sampai ada kata-kata yang hanya pantas diucapkan kepada orang yang sudah kenal lama.

Bukannya menegur, senior saya ini justru mengatakan mantap sambil mengacungkan jempol. Agak lama kemudian, adik tingkat itu bertanya siapa yang bersama saya dengan berbisik. Saya jawab apa adanya, dia konfirmasi, "yang terkenal itu namanya?". Saya tanggapi, "iya namanya cuma, tapi banyak yang Ndak tau". Seketika itu juga dia pamit meninggalkan kami.

Saat saya tanya si Libra mengapa tidak menegur, beliau menjawab, “Mungkin memang sayanya, kenapa saya kurang "turun" biar mereka kenal saya". Padahal jika mau, beliau bisa saja memberi teguran kepada adik tingkat yang agak kurang sopan itu.
,


Dia tidak ikut apa-apa. Ormek tidak, UKM tidak, apalagi eksekutif mahasiswa. Dia kuliah saja. Baca buku pribadi atau pinjam di perpustakaan. Dia juga belajar menulis semaunya. Lebih sering di rumahnya bantu pekerjaan orang tua. Tidak punya pacar tapi dekat dengan banyak perempuan. Dia terkadang mengajari anak-anak seusia SD mata pelajaran dan baca-tulis Alquran.

Kalau ada aksi gerakan mahasiswa tidak ikut, namun mendukung. Dia tidak ikut ormawa beranggapan bahwa justru semacam itu dapat membuatnya stagnan. Mau melancarkan kritik terhadap senior takut su'ul adab. Takut mendapat stigma, entah "dihapus","digaris", atau "dicoret" .

Tapi dia tetap kenal bacaan di luar mata kuliah. Buku teori-teori sosial marxis, buku ekonomi politik, buku motivasi, jadi bacaannya. Selain itu juga buku-buku panduan praktis seni menulis dan berbicara juga kerap dibacanya seperti public speaking, lobby, negosiasi, diplomasi, persuasi, dan marketing.

Dari segi bacaan, dia merasa diatas angin. Biasanya anak-anak lain kata dia bahas urusan urusan yang sama saja dari zaman dulu sampai sekarang itu-itu aja. Buku mata kuliah dan buku-buku diwajibkan memang yang patut didahulukan. Masalahnya kata dia adalah orang di organisasi malah sering tidak membaca buku wajib mereka, bahkan tidak membaca buku kuliah. Kata dia mending baca buku kuliah, buku pemikiran, buku panduan praktis.
,




Ini bukan berita, dan bisa saja terjadi. Seorang junior dijegal prosesnya karena tidak mengikuti "arahan" kakak angkatannya yang menjadi salah satu elite di periode sebelumnya. Sang senior terkenal sebagai "preman flamboyan" yang gemar tebar pesona.

Y, menceritakan pada reporter bahwa seniornya itu dikenal sebagai figur pengayom. Akan tetapi, "Pengayoman apanya, itu cuma pencitraan. Omong kosong. Kalau memang ngayomi mana kadernya yang hebat," sanggah Y di warung kopi, beberapa saat lalu.

Mahasiswa yang sering menginap di sekretariat bersama tersebut, menceritakan pertemuan keduanya di sebuah forum. Sang senior diceritakan sedang membangun citra palsu dengan pura-pura menjadi pengayom di depan para juniornya. Kemudian sang senior bertanya kepada Y, dan Y tidak menjawab. Sang senior berkata,"bukankah dulu pernah saya ajari?". Merasa tidak pernah diperhatikan dulu, Y menolaknya mentah-mentah,"ajari apanya, bangsat!".

Merasa tidak suka dan beda "aliran", Sang senior menghentikan paparannya. Y pun keluar dari ruangan. Y masih terpicu emosinya dan mengumpat kakak tingkatnya tersebut.

Tiba-tiba, dari arah belakang ada yang memukulnya dan Y pun membalasnya. Setelah beberapa saat seseorang melerai aksi saling pukul tersebut. Orang tersebut bertubuh lebih gemuk dari Y mengatakan kepadanya permasalahan tersebut harus diselesaikan malam itu atau kemudian hari Y mendapatkan masalah. 

Tidak suka perkelahian, Y memilih langsung meninggalkan area acara. Dan benar, Y mendapat masalah berupa dijegal saat akan membina karirnya sendiri di jenjang yang lebih tinggi.

Ilustrasi tersebut menegaskan bahwa pengalaman, wawasan, kemampuan memberikan solusi, tidak selalu berkorelasi positif dengan usia/senioritas. Dengan kata lain, seniorisme (pandangan bahwa senioritas itu jaminan kualitas) adalah ILUSI! Apalagi jika seniorisme ditambah premanisme dan flamboyanisme, komplit!
,

M. Q. Aynan

Secara umum, mahasiswa berdasarkan kegiatan di luar kelas dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu yang berorganisasi dan yang tidak berorganisasi entah sebab sambil bekerja atau yang lain. Bagi yang berorganisasi, secara umum juga dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu berdasarkan minat atau unit tertentu dan berdasarkan nilai yang bersifat ideologis. Salah satu yang kental sekali dalam memilih organisasi berdasarkan nilai ideologis adalah sikap dan pandangan keagamaan. 

Jika berdasarkan sikap dan pandangan keagamaan, maka dalam konteks organisasi karena berhubungan dengan tata pemerintahan, yang menjadi pokok pertimbangan disini adalah persepsi terhadap relasi agama dan negara. Dalam mengukur pandangan generasi milenial tentang hubungan agama dan negara, survei yang dilakukan oleh Alvara Research Center menggunakan tujuh indikator. Ketujuh indikator itu telah digunakan sebelumnya untuk menemukan 3 tipologi umat islam Indonesia berdasarkan survei bulan Juli 2018. Dengan menggunakan K-Mean Clustering Analysis dan Discriminant Analyis, 3 tipologi masyarakat muslim Indonesia tersebut adalah sebagai berikut:

Nationalist-Oriented, mereka adalah umat islam yang menganggap bahwa tidak boleh ada ada idelogi selain Pancasila di Indonesia, mereka juga berpandangan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam, dan dalam bermasyarakat harus memperhatikan norma dan adat yang berlaku.

“Nationalist Religious”-Oriented, mereka adalah umat islam yang berpandangan bahwa agama dan negara bisa saling melengkapi, mereka berpandangan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan inklusif, namun disisi lain mereka juga mendukung penerapan perda syariah diterapkan di Indonesia.

Religious-Oriented, mereka adalah umat islam yang memiliki kecenderungan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia, mereka berpandangan seharusnya seorang pempimpin dari berbagai tingkatan harus dari kalangan islam, bahkan mereka menolerir penggunaan kekerasan dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar.

Berdasarkan survei terhadap 1097 responden generasi milenial Indonesia di 33 Provinsi pada bulan Oktober 2018, Alvara menemukan komposisi tipologi milenial Indonesia terkait hubungan agama dan negara adalah sebagai berikut, milenial muslim Indonesia ternyata paling banyak masuk dalam kategori Nationalist-Religious Oriented sebesar 40,9%, disusul kemudian Nationalist Oriented sebesar 35,8%, dan Religious Oriented sebesar 23,3%.

Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas generasi millennial Indonesia masih menunjukkan keberpihakannya terhadap sistem kenegaraan yang dianut sekarang yaitu negara yang berdasar Pancasila dan UUD 1945. Karena mayoritas adalah berorientasi nasionalis-religius, maka jika anda termasuk tipologi ini, anda dapat memilih organisasi ekstra kampus yang berorientasi nasionalis-religius juga. Ciri paling tampak adalah nama, yaitu ada Islam-nya, ada Indonesia-nya. Bukan salah satu, tapi keduanya.

Rabu, 08 April 2020

,


M. Q. Aynan

Apa yang dimaksud dengan membangun jaringan dan bagaimana melakukannya?
Membangun jaringan berarti bekerja bersama dalam suatu kelompok, antar kelompok, antar komunitas atau antar daerah. Membentuk grup adalah salah satu cara membangun jaringan. Misalnya dengan organisasi yang sama di daerah lain atau organisasi berbeda dalam pekerjaan tertentu.

Apa manfaatnya?
Dimungkinkan untuk bekerja dan berhasil bersama. Ini mengurangi ongkos, termasuk mobilitas.

Apa saja teknik dalam membangun jaringan?
Pada tahap awal, apakah itu membentuk grup, atau membangun jaringan, tidak harus ada banyak anggota. Anggota kelompok atau jaringan seharusnya dipilih karena minat, tekad, daya tahan, semangat juang, rela berkorban dan mendengarkan orang lain. Mereka harus menerima aturan kelompok dan tidak mencari keuntungan pribadi lebih dari manfaat kelompok. Jika memilih banyak orang tanpa memilih kesesuaian, ini akan membuat pengelolaan grup menjadi sulit. Ketika orang-orang yang memiliki masalah masuk ke dalam kelompok, itu akan membuat manfaat kelompok lebih sulit diperoleh. Ini akan membuat grup pecah dan larut. Lebih baik memilih orang untuk membentuk grup. Awalnya memiliki kelompok kecil dan kemudian secara bertahap memilih orang untuk menambah kelompok. Ini lebih baik daripada memiliki kelompok awal 40-50 orang yang berkurang menjadi 5-10 orang. Jadi, menurut saya, bukan soal berapa jumlahnya, melainkan seberapa solid. Meski lingkarannya kecil tapi solid maka kerjasamanya akan berkelanjutan.

Selain itu, saya yang lebih dominan sebagai seorang introvert mengakui bahwa saya merasakan kecanggungan, kegelisahan, dan ketidakpastian yang sama dengan yang dialami banyak dari kita ketika bertemu orang-orang baru dan jejaring yang disengaja. Karenanya, maka yang paling penting adalah saya dapat dipercaya, dapat meyakinkan orang lain, dan orang lain itu juga dapat saya percayai. Saya juga berusaha untuk fokus pada apa yang dapat saya lakukan untuk orang lain, bukan pada apa yang dapat mereka tawarkan kepada saya. 

Untuk itu, saya berusaha menjaga rekam jejak dan, dalam prosesnya, memperkuat hubungan dengan orang-orang yang akan 'bersama seumur hidup' begitu mereka telah melihat apa yang dapat saya capai dan nyaman bekerja bersama. Singkatnya, mengenal, memahami, bertahan.
,

M. Q. Aynan

Ada salah satu kecenderungan yang secara sadar atau tidak dianut oleh sebagian pengurus dalam organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Kecenderungan itu adalah tidak menempatkan diri sebagai seorang pelayan. Kata pelayan memang sering mengalami penurunan makna, namun sejatinya pelayan sangat mulia sekali. Ketika sebagian pengurus tidak menempatkan dirinya sebagai pelayan maka yang mengalami dampaknya bukan hanya kalangan pengurus, melainkan juga para kader dan anggotanya. 

Setiap kader dan anggota merupakan pendukung roda organisasi untuk terus berlangsung. Mereka yang akan menjadi generasi penerus dan pengganti periode selanjutnya dalam rotasi kepengurusan. Langsung atau tidak, pengurus dituntut untuk memenuhi suatu standar kualitas tertentu, dan karena itu akan memberikan pengaruh pada kinerja organisasi. Anggota atau kader tidak bergantung pada pengurus, tetapi justru pengurus yang bergantung pada mereka. Mereka adalah orang yang teramat penting yang harus dipuaskan dalam pelayanan.

Namun masih banyak orang yang berfokus pada target jumlah kuantitatif dan hal yang bersifat formal lainnya, dan mengabaikan sisi pelayanan dalam standar kualitas. Mereka bahkan tidak sadar bahwa kini trennya adalah anggota dan kader tidak lagi sekedar mempertimbangkan jumlah massa, karena terbukti mereka bersedia bertahan dan memberikan lebih demi pelayanan, demi khidmat. Bahkan yang tertulis dalam tiap periode adalah masa khidmat, bukan masa kuasa. Khidmat berarti pelayanan. Karena itulah, suatu pergeseran pola pikir merupakan keharusan untuk membentuk pola pikir yang berfokus pada pelayanan.

Tulisan ini mengingatkan pentingnya pelayanan dan upaya meningkatkannya. Pemahaman ini sangatlah penting karena jika kecenderungan untuk tidak menempatkan diri sebagai pelayan sebab belum paham pada akhirnya mereka kehilangan perhatian anggota dan kader mereka. 

Pemahaman ini juga harus secara menyeluruh dan kolektif. Jika tidak, maka yang akan merasa kurang puas bisa saja dari sesama pengurus yang sudah berusaha melayani tetapi merasa dibiarkan sendirian. Untuk itu, selain kolektif pada akhirnya, pemahaman untuk pergeseran pola pikir ini perlu diawali memang dari pimpinan umum dan badan pengurus harian, bidang dibawahnya, hingga pembagian kerja masing-masing personel(job description). Pembagian kerja agar tidak tumpang tindih di satu sisi dan ada yang menganggur di sisi lain. Jangan sampai masih tersisa pertanyaan: saya disini, mau melakukan apa?

Selasa, 07 April 2020

,

M. Q. Aynan

Dengan adanya lembaga semi otonom termasuk yang mewadahi jurnalistik, selayaknya kualitas layanan anggota dan kader yang diberikan terus mengalami peningkatan. Selain itu, proses pemberian status semi otonom yang luas pada lembaga akan berdampak pula pada peningkatan kontrol anggota dan kader. Sehingga harapan untuk mengembangkan suatu proses kaderisasi dengan pertanggungjawaban, memiliki dukungan yang semakin meringankan amanah.

Konsep semi otonom merupakan konsep dalam rangka peningkatan kinerja personel pengurus melalui penguatan partisipasi anggota dan kader termasuk di dalamnya dalam aspek pengawasan. Namun, dari fenomena di lapangan ternyata masih kurang sesuai dengan harapan. Kondisi kinerja pengurus selama ini seolah kurang terpantau, seolah tanpa pengawasan. Salah satu dari sekian aspek yang perlu mendapat perhatian dalam penguatan kinerja pengemban amanah ini ketidak mampuan personel dalam menyelenggarakan pengelolaan, baik itu langsung atau tidak pada gilirannya akan ditanggung oleh anggota dan kader.

Oleh karena itu, keterlibatan dan pemberdayaan anggota dalam proses kaderisasi, khususnya pengawasan dalam berbagai aspek perlu memperoleh media yang memadai. Persoalan yang timbul adalah, bagaimana mekanisme pengawasan, yang dimulai dari pelaporan, pemrosesan, hingga penyampaian hasil pelaporan dapat diketahui oleh anggota secara transparan. Hal ini menjadi pertanyaan mengingat nampaknya pengawasan kurang efektif karena memang belum kondusifnya pelaksanaan demokrasi yang demokratis.

Untuk itu, nampaknya perlu ada upaya yang sungguh-sungguh dari semua pihak. Sebagaimana paragraf sebelumnya, mekanisme dan media yang dapat menjalankan fungsi pengawasan adalah mekanisme penerbitan dan media jurnalistik dari lembaga semi otonom. Fungsi pengawasan bisa keluar, ke pihak eksternal, atau bahkan bisa juga ke dalam. Fungsi pengawasan internal dapat berupa pengingat atau peringatan. Sebab, pengawasan internal dapat dijalankan oleh (a.) pengawasan langsung oleh anggota; (b.) pemberitaan media massa; (c.) pengawasan legal yang ditetapkan oleh produk hukum yaitu majelis pengawas. Anggota bisa jadi apatis. Majlis pengawas tidak ada, hanya majlis pembina. Maka yang paling mungkin adalah lembaga semi otonom jurnalistik.

Bahkan, dalam imajinasi yang lebih liar, saya teringat dulu para wali penyebar agama Islam adalah wali dalam wilayah perdikan yang punya hak suara dalam memilih sultan. Bisa saja, suatu hari mekanisme pemilihan ketua umum tidak melalui pemilihan langsung, tetapi seperti para wali memilih sultan. Tidak ada pemilihan langsung, yang memiliki hak suara adalah ketua lembaga semi otonom. Jadi, bukan ketua umum yang mengangkat ketua LSO, tapi sebaliknya, tiap ketua LSO masing-masing punya satu hak suara untuk mengangkat ketua umum.
,

Oleh : M. Q. Aynan

Saya sudah lama tertarik untuk menanggapi tulisan Sahabat Maulana, Ketua Bidang Keilmuan PMII Rayon FTIK IAIN Jember 2016-2017, namun baru bergairah untuk menanggapi. Selain tulisan tersebut mudah dimengerti, mengusik pembaca agar tercerahkan, penulisnya juga saya kenal secara pribadi, dan pendampingannya pada kader tidak basa-basi. Tulisan itu berjudul "METRA POST, RIWAYATMU KINI". Judulnya mengingatkan saya kepada syair lagu "Bengawan Solo, riwayatmu kini".

Dalam keterangan, tertulis bahwa tulisan tersebut sengaja diterbitkan atas permintaan Sahabat Maulana, sebagai bentuk kritik atas eksistensi Metra Post yang kian hari semakin laa yamutu walaa yahya. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat harapan bahwa semoga benar-benar bisa mencerahkan jiwa-jiwa yang keblinger. Pertanyaannya, sudahkah ada yang tercerahkan?

Di paragraf awal, Sahabat Maulana (selanjutnya disebut SM), menulis begitu istimewanya sebuah tulisan dengan menyertakan penjelasan dilengkapi contoh kisah seorang Panglima Jenderal Amerika yang menghabiskan 52 tahun berkarir di Dunia Militer. Selanjutnya, dijelaskan bahwa ukuran kemajuan sebuah peradaban memang tidak bisa diukur dari kemajuan budaya literasi yang unggul, namun sebuah tulisan bukan berarti tak memiliki pengaruh. Dalam konteks peradaban pergerakan, uraian SM tadi sudah semestinya menggugah pembaca, paling tidak FARDU KIFAYAH, supaya ada sebagian yang mengisi pos strategis ini. Sebabnya?

Seperti ditulis SM, dan saya setuju, bahwa setiap orang bisa menulis, namun tak semuanya menjadi seorang penulis. SM sudah menguraikan alasannya, namun saya ingin menambahkan bahwa menulis tulisan yang (dalam istilah SM) "Berdaya Magis" tidak bisa sembarangan, prosesnya sederhana, tetapi membutuhkan disiplin latihan dan pengelolaan yang matang. Jika tidak begitu, apa menariknya?

Terlebih, dengan akses informasi sedemikian rupa, sudah semestinya suatu lembaga semi otonom dapat memiliki produktivitas yang tinggi. Saya juga sepakat bahwa kemudian  menjadi ironi, situasi dan kondisi yang sudah menjanjikan, justru semakin nalar dan kreatifitas semakin kerdil. Kalau alasannya kegiatan padat, ya tidak juga. Banyak waktu senggang seandainya mau mencicil, jika tidak bisa dikerjakan sekaligus.

Seperti dikatakan, namun harapan seolah hanya menjadi harapan, niat sudah bagus, tujuan sudah terbentuk, namun komitmen dan konsistensi sangat redup. Akhirnya wadah yang terbentuk dengan tujuan cukup mulia itu benar-benar seperti dalam syair lagu "bagaikan sungai yang kering, tiada air. Menanti hujan turun dari langit".

Jika sebuah organisasi yang cukup tenar dan superior di dunia kampus, namun ternyata ompong, tampak besar dan wah dari luar, namun di dalamnya tak ubahnya mesin pencetak calon kader-kader berlabel Mutakid, Mujahid, dan Mujtahid, maka, berapa lama lagi mesin ini akan kehabisan baterai?

SM mengingatkan, daripada sekedar mencari oknum untuk dijadikan kambing hitam atas kecelakaan sejarah itu, bukankah lebih mulia jika ikhtiar mereka cukup didoakan sesuai keyakinan masing-masing. Semoga khusnul khotimah. Jangan sampai ungkapan semoga Husnul khotimah justru menjadi lonceng kematian. Ia justru harus jadi lonceng kebangkitan.

Cerita yang dibumbui intrik-intrik untuk menarik anggota baru lagi juga silakan, tapi jangan sampai berakhir jadi sejarah lisan seperti tutur tinular. Dampaknya, dari generasi ke generasi, hanya memunculkan aktor-aktor politis, seakan kadernya berwajah tunggal dan seolah bukan Rayon FTIK, tapi Rayon FISIP. Uraian sudah, sekali lagi, sudah tercerahkan, belum?
,


(Merangsang ide)
Tulisan apa yang biasa anda tulis?
.
1.1. Paragraf adalah sekelompok kalimat tentang suatu topik. Dalam tulisan ini,
Anda akan belajar bagaimana mengatur dan menulis jenis paragraf berikut,
Dalam paragraf deskriptif, penulis menggambarkan seseorang. tempat atau sesuatu
Dalam sebuah paragraf contoh, penulis menjelaskan topik yang diberikan contoh.
Dalam paragraf proses, penulis menjelaskan bagaimana melakukan sesuatu langkah demi langkah
Dalam paragraf opini penulis mengungkapkan perasaan, ide, dan pendapatnya tentang suatu topik.
Dalam paragraf naratif, penulis menceritakan sebuah kisah
.
1.2. Memformat garis tepi paragraf
Paragraf harus memiliki margin di sebelah kanan dan margin di sebelah kiri
Ini berarti bahwa paragraf dimulai 1 cm atau 1 1/4 cm dari tepi kertas.
Jarak
Sebuah paragraf harus diberi spasi ganda.
Indentasi 
Kalimat pertama paragraf harus diindentasi. Ini berarti bahwa ia mulai lima ruang dari margin kiri. Indentasi menunjukkan kepada pembaca bahwa paragraf baru telah dimulai. Di komputer, Anda dapat membuat indentasi dengan tombol Tab
Kalimat Terhubung 
Kalimat dalam paragraf harus saling mengikuti. Ini bukan paragraf jika setiap kalimat dimulai pada baris baru. Paragraf yang didukung dengan baik memiliki setidaknya 5 kalimat dan sering lebih.
Judul
Paragraf dengan sendirinya biasanya memiliki judul. Ini adalah satu kata atau sekelompok kata yang menjelaskan topiknya.
.
2.1. Mengembangkan Paragraf

Menyusun Paragraf
Paragraf memiliki kalimat utama, kalimat pendukung, dan kalimat penutup.
Kalimat utama memperkenalkan topik dan menceritakan apa yang akan penulis katakan tentang topik tersebut.
Kalimat-kalimat yang mengikuti selanjutnya menjelaskan dan mendukung kalimat topik. Mereka disebut kalimat pendukung.
Kalimat penutup sering mengulang informasi dalam kalimat topik dengan cara yang berbeda.
.
Kalimat utama
Kalimat utama biasanya kalimat pertama atau kedua dalam satu paragraf. Ini memperkenalkan ide baru. Ini menyajikan topik dan menjelaskan apa yang akan penulis katakan tentang topik tersebut. Penjelasan ini disebut gagasan pengendali.
Kalimat utama tidak boleh berupa fakta sederhana atau detail tertentu. Gagasan pengontrol harus mengatakan sesuatu tentang topik yang kemudian dapat didukung, dikembangkan, atau diperlihatkan dalam kalimat pendukung. Gagasan pengontrol juga tidak boleh terlalu umum, atau kalimat tidak akan jelas.

Orang di kelas saya adalah manusia.(terlalu umum)
Ada 20 orang di kelas saya.(terlalu rinci)
Teman sekelasku memberiku perayaan kejutan yang tak terlupakan untuk hari lahirku.(efektif)

Kalimat topik terakhir efektif karena memperkenalkan dan memiliki ide pengendalian yang dapat dikembangkan dalam kalimat pendukung. Paragraf mungkin akan menceritakan kisah.
.
Kalimat pendukung
Kalimat yang mendukung menambahkan informasi tentang topik dan ide pengendali. Kalimat-kalimat pendukung dapat mencakup definisi, penjelasan, dan contoh. Baca kalimat topik di bawah ini. Kemudian pelajari jenis-jenis kalimat pendukung yang mungkin mengikutinya.

Contoh
Kalimat utama: para remaja  terlalu bergantung pada gawai.

Definisi Pendukung 
Ketergantungan pada gawai berarti bahwa para remaja tidak dapat melakukan tugas dan fungsi normal kehidupan sehari-hari tanpanya.

Penjelasan yang mendukung 
Di masa lalu, orang menghafal informasi penting, tetapi remaja masa kini bergantung pada komputer, ponsel, dan gawai mereka untuk melakukan tugas, mencatat angka, dan menyimpan informasi penting. Akibatnya, mereka dapat menemukan diri mereka tidak siap dalam keadaan darurat seperti pemadaman listrik. Begitu baterai mereka mati, orang-orang ini tidak akan bisa berkomunikasi.

Contoh pendukung 
Misalnya, saya mengerjakan semua tugas dengan gawai.  Ketika gawai saya mengalami  lalu, saya kehilangan satu-satunya draf esai yang jatuh tempo pada hari berikutnya. Akibatnya, saya mendapat nilai buruk.
.
Kalimat Penutup

Kalimat penutup atau terakhir dari paragraf biasanya mengingatkan

pembaca tentang topik dan ide pengendali paragraf. Kalimat penutup menyatakan kembali gagasan utama.

Contoh Kalimat utama

Saya suka warna merah.

Contoh Kalimat penutup

Saya suka menjalani hidup dengan cara yang kuat, jadi saya pikir saya akan selalu mengagumi warna merah.

Selain menyatakan kembali gagasan utama, kalimat penutup mungkin:

• memperingatkan pembaca.

Jika Anda tidak mengikuti langkah-langkah ini, Anda mungkin tidak mendapatkan nilai yang Anda inginkan.

• membuat prediksi

Industri otomotif akan berubah, dan segera semua orang akan mengendarai mobil bebas polusi.

• memberikan pendapat tentang topik tersebut.

Beberapa orang mungkin tidak setuju, tetapi saya pikir domba adalah daging terbaik untuk dipanggang.

Terkadang penulis menandai kalimat penutup dengan menggunakan frasa kesimpulannya.

Kesimpulannya, belajar bahasa asing memiliki banyak keuntungan.
.

Senin, 06 April 2020

,
Kami punya tawaran beberapa langkah dalam menangani keluhan anggota atau kader antara lain:

1. Menyediakan ruang, entah kotak khusus, dipersilakan melalui pesan elektronik, atau kalau tidak bisa, terpaksa pengurus harus turun.
2. Keluhan bisa saja tidak muncul. Ketiadaan dapat berarti tidak ada keluhan, atau ada tapi tidak disampaikan. Kalau tidak disampaikan, bagaimana sekiranya ada rangsangan agar keluhan bisa disampaikan.
3. Kalau disampaikan, maka perlu diperhatikan dengan tenang dan sabar,  tidak boleh langsung  menjawab keluhan  akan tetapi harus memahami masalah dengan tidak memotong pembicaraan. 
4. Dicatat. Catatan berisi data yang bersangkutan dan kronologis  permasalahan.
5. Konfirmasi, setelah merasa memahami permasalahan yang sebaiknya tidak langsung diberikan  jawaban tetapi merangkum kembali apa yang telah didengar dan dipahami serta memeriksa ulang persepsi mereka.
6. Selesaikan Permasalahan, jawaban yang sesuai dengan masalah yang dihadapi dilaksanakan dengan komitmen, skala prioritas, dan terdapat tenggat waktu.
,
Kami menemukan dalam diskusi kami bahwa, setidaknya ada 5 faktor penyebab timbulnya keluhan anggota atau kader, antara lain:
 
1. Aspek sistem. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa kurang puas di dalam proses, mulai dari mekanisme musyawarah, pemilihan, pembentukan struktur, pendelegasian, hingga pengambilan keputusan dan proses evaluasi.

2. Aspek manusia. Namanya juga penggerak utama, aspek ini seringkali merupakan penyebab utama, meliputi pengurus yang kurang cakap, bersikap abai, kurang cepat dalam merespon keluhan, kurangnya pengetahuan terhadap peraturan dan tata tertib, serta kurang terampil dalam melakukan pekerjaannya.

2. Komunikasi internal, disebabkan oleh kurang baiknya hubungan internal di dalam kepengurusan, yang kemudian berdampak kepada anggota atau kader. Sebagai contoh, kurangnya komunikasi pengurus inti dengan pendamping kelompok yang dapat menyebabkan tidak jelasnya penanganan keluhan, padahal PK lah yang paling dekat dulu dengan anggota saat di masa penerimaan.
 
3. Komunikasi eksternal. Hal ini dapat disebabkan oleh strategi pembangunan jaringan yang kurang tepat sasaran, serta kurang optimalnya dukungan bagian eksternal. Hal ini berujung pada kurangnya informasi, baik dengan kalangan alumni maupun daerah dan organisasi lain.
 
5. Hasil. Memang betul proses lah yang utama dalam organisasi. Akan tetapi, jika hasil kurang memuaskan atau kurang nyata, tidak berorientasi kepada anggota atau kader, yang hanya sebatas pada omong kosong, serta respon yang kurang cepat dalam menangani keluhan mereka, maka jelas akan ada keluhan.
,
M. Q. Aynan
Dalam  berproses di organisasi ada saja  masalah terutama menurunnya jumlah anggota dan ketidakpuasan mereka terhadap kinerja organisasi, terutama kinerja pengurusnya. Ketidakpuasan itu, ada sebagian anggota atau Kader menyampaikan keluhannya, ada juga yang tiba-tiba menghilang. Setelah saya berdiskusi bersama beberapa sahabat, kami berkesimpulan bahwa dari 10 anggota atau Kader yang merasa kurang puas, 1 orang menyampaikan keluhannya, 9 lainnya tiba-tiba menghilang. Kesimpulan ini didapat setelah mengamati beberapa kali penyelenggaraan masa penerimaan anggota baru. Jadi, jika peserta, anggota baru, berjumlah 500 orang, maka diprediksi bahwa yang akan tetap bertahan dan menjadi pengurus selanjutnya sebanyak 50 orang. Jika benar terjadi, maka pertanyaannya adalah, yang hilang itu mau dikembalikan atau dibiarkan? Yang mengeluh, mau ditangani dengan cepat atau sekedar didengar keluhannya?

Pengurus  umumnya lebih senior daripada anggotanya. Perbedaan usia, baik usia dalam arti sebenarnya maupun perbedaan lamanya berproses di organisasi menyebabkan perbedaan persepsi antara satu sama lain. Perbedaan persepsi tersebut sangat mungkin memunculkan keluhan dari pihak anggota atau Kader. Tetapi keluhan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi suatu organisasi untuk bisa lebih meningkatkan kualitas kinerjanya, atau  malah berpotensi menghancurkan organisasi ketika orang-orangnya tidak mampu untuk menangani dengan cepat. Penanganan dengan cepat akan sangat berperan bagi organisasi untuk meningkatkan diri lebih baik lagi. Bagaimana caranya? Bersambung.....