---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 27 Desember 2020

,

Keluhan, masalah, kekurangan, stres, kecewa, cemas, ragu, sengsara, bingung, konsumtif.


Sokongan, solusi, kelebihan, tenang, bersyukur, percaya diri, yakin, bahagia, tercerahkan, produktif.


Di antara kedua sisi, mari ukur. Di sisi mana kita berdiri? Sisi pertama atau sisi kedua?


Lebih sering bertukar pikiran dengan orang yang kebingungan atau yang tercerahkan?


Lebih sering bersama dengan orang yang secara acak merencanakan tujuannya atau yang fokus pada tujuan yang telah ditentukannya?


Lebih banyak melihat orang lain sebagai objek atau sebagai spion?


Mari tumbuh dan berkembang. Lingkungan sekitar kita seperti taman yang penuh daun hijau dan bunga warna-warni. Penuh dengan keberlimpahan.


Mari berhenti mengeluh sedikit demi sedikit. Mari perbanyak sokongan. Mari rasakan keajaibannya. 


Coba putuskan untuk tidak frustrasi dengan keputusan yang diambil beberapa fungsionaris. Coba putuskan untuk tidak merasa frustrasi dan berselisih paham dengan para eksekutif senior dan kandidat ketua umum seputar keadaan saat ini.


Untuk menantang status quo, temukan tim yang terdiri dari individu-individu yang berpikiran sama untuk menciptakan gerakan perubahan dan membuat poros dari perekrut interim senior menjadi transformator perubahan.


Sudah saatnya mendapatkan mitra yang peduli, yang memberikan dan dapat memandu Anda dalam perjalanan perubahan.


Dunia masa depan menuntut Anda memiliki kemampuan beradaptasi. 

Sabtu, 26 Desember 2020

,

 

Revolusi Mental (Terpelanting; Terpental; Terlempar Kembali)

Oleh: Tapi Bukan Saya Yang Tidak Nyata dan Tidak Pernah Ada Seperti Susu Sebelanga


Pendahuluan

Izinkan saya melalui tulisan singkat ini menyampaikan pandangan saya menguraikan permasalahan sekitar ini dan menawarkan paradigma baru untuk bersama mengatasinya. Saya bukan ahli politik atau ahli tata kelola pemerintahan. Untuk itu, pandangan ini banyak berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang cukup lama. Oleh karena itu, keterbatasan dalam pandangan ini mohon dihakimi.


Revolusi mental, bukan mental yang huruf e nya seperti kata ekonomi, melainkan dibaca seperti e pada kata selalu. Revolusi mental dalam tulisan ini bukan berarti revolusi watak atau pikiran, melainkan revolusi terpelanting atau terpental, terlempar kembali atau berbalik arah. 


Sebatas Watak


Upaya yang dilaksanakan di lingkungan sekitar saya sebatas melakukan perombakan yang menyentuh paradigma, mentalitas, pikiran, watak. la belum menyentuh budaya politik dan kebiasaan sehari-hari dalam rangka pembenahan agar perubahan benar-benar sia-sia dan tidak bermakna. Kita perlu melakukan revolusi yang mementalkan, melempar kembali mindset yang sudah susah payah disusun.


Aturan-aturan sudah dilaksanakan. Pemilihan umum tiap periode diselenggarakan secara berkala dalam rangka pengelolaan yang demokratis dan akuntabel. Ditambah, kebiasaan atau budaya yang tumbuh subur dan berkembang di alam kondusif sebelumnya masih berlangsung sampai sekarang mulai dari donasi, toleransi terhadap perbedaan, dan sifat kerelaan. Saya ingin membalik arah sampai menuju sifat ingin menang sendiri, kecenderungan menggunakan kekerasan verbal dalam memecahkan masalah, pelecehan simbolik, dan sifat oportunis. Kesemuanya ini perlu dimentalkan supaya lebih revolusioner.


Perlu Revolusi yang Terpental


Penggunaan kata revolusi disebabkan kita memerlukan suatu terobosan budaya politik untuk memberantas tuntas-tuntas segala praktik kebiasaan lama. 


Berikut adalah beberapa pilar revolusi yang terpental, di antaranya:


1. Mengonsumsi Kebingungan

Saya sedang menjadi konsumen kebingungan yang serius. Saya akan melahapnya setiap kali saya merasa tidak bahagia, stres, kecewa, cemas. Konsumsi saya tidak ada hubungannya dengan lapar dan haus, tetapi berkaitan dengan mengisi kekosongan emosional saya.


Meskipun konsumsi itu akan menghibur saya, perasaan ini hanya sesaat dan akan hilang segera setelah saya selesai kebingungan. Sebaliknya, yang tersisa adalah kekosongan emosional yang sama yang memicu saya untuk bingung atau stres, setara dengan ribuan kalori dan lemak berlebih dari apa yang seharusnya saya makan dan minum dan kemarahan pada diri sendiri karena mengonsumsi kebingungan.


2. Bergaul dengan penentang

Bukan waktunya baperan, waktunya berperan. Berperan sebagai pendukung celah untuk setiap ide yang orang lain miliki dan setiap tujuan yang ingin orang lain kejar. Saya sudah menjadi salah satu pengkritik yang terbesar, jadi itu tidak membantu ketika ada seseorang di samping saya, saya selalu siap menerkam apa yang orang lain katakan dan menghancurkannya.


Lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang menentang ini dan habiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang tidak mendukung yang berbagi umpan balik kontraproduktif. Anda akan jauh lebih kebingungan dengan cara ini.


3. Tidak menghargai orang lain

Alami situasi ini. Cobalah untuk tidak menyenangkan orang lain. Buat mereka terusik. Mendongak ke depan untuk berada di sana untuk orang-orang. Tarik garis dengan orang-orang yang berbeda.


4. Minum kopi dalam jumlah yang banyak

Penelitian menunjukkan bahwa minum kopi sekitar 6 gelas besar per hari dapat memicu insomnia, lekas marah, gelisah, gugup, atau lemah otot. Minum kopi berlebihan dapat menimbulkan kegelisahan dan kecemasan. Apalagi jika diminum pada waktu yang salah, seperti sore atau malam hari. Akibatnya, seseorang bisa jadi sulit tidur dan bangun dengan tubuh kelelahan. Biasanya hal ini akan menimbulkan sakit kepala, mood jelek, dan perasaan seperti bingung.


5. Banyak menonton, sedikit membaca

Saya berhenti serius membaca buku dan beralih menonton tayangan sejak beberapa waktu lalu dan saya tidak pernah menyesalinya. Seringkali saya akan menyalakan smartphone untuk download atau live streaming untuk melihat apa yang sedang diputar.


Menonton tayangan, terutama drama yang ditulis dengan baik, bisa menjadi cara yang baik untuk melepas lelah. Seakan-akan drama itu sudah seperti hidup saya sendiri. Menghabiskan tiga jam setiap malam untuk menonton tidak akan mengubah hidup menjadi lebih baik. Berhenti gunakan waktu itu untuk membaca buku, merefleksikan hidup, memperhitungkan, dan mengambil tindakan atas tujuan, dalam rangka terpental, berbalik arah.


6. Berada di dalam hubungan beracun

Teruslah berhubungan dengan lingkaran pertemanan yang berbisa, menghabiskan waktu dengan mereka, atau bahkan menjalin hubungan dengan mereka.


Saya biasa membunuh waktu saya ini untuk tidak mengalami apa-apa selain dikompori berulang kali, saya menyadari bahwa mereka benar-benar membuang-buang waktu saya dan saya pantas mendapatkan yang terbaik, yaitu waktu yang terbuang dan terbunuh.


7. Menunda melaksanakan kewajiban, mengawali menuntut hak

Tuntutlah hak terlebih dahulu, bukan melaksanakan kewajiban lebih dulu, maka hidup ini menjadi sengsara

dikucilkan orang sekitar. Hidup ini menjadi tidak tenang, segala apa pun yang dikerjakan akan menjadi rumit, tambah kompleks. Berorientasi pada hasil yang segera, tanpa proses yang berkala. Buka mulut untuk hak pribadi, tutup mata dan telinga dari hak orang lain.


8. Fokus pada kekurangan

Dalam setiap situasi, ada dua cara untuk bereaksi: perbesar ke area masalah dan bacakan tentang hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan, atau rayakan area yang berjalan baik dan perbaiki semuanya.


Banyak dari kita melihat pentingnya melakukan yang terakhir tetapi dalam praktiknya, kita melakukan yang pertama. Kenapa sih? Mengkritik dan berfokus pada hal-hal negatif itu mudah tetapi tidak memberdayakan atau menginspirasi kita untuk menjadi lebih baik.


9. Tidur pagi, bangun siang

Tidurlah setelah subuh, bangunlah setelah zhuhur atau ashar. Lakukan tiap hari. Tidak perlu bekerja, tetaplah bermimpi. Orang yang sering tidur pagi atau kurang tidur akan lebih sulit untuk fokus bekerja dan memusatkan perhatian. Hal ini sudah pasti akan mempengaruhi kinerja dan produktivitas karya. Selain itu, mood atau suasana hati akan mudah berubah. Kurang tidur di malam hari dalam jangka panjang dipercaya dapat menyebabkan perubahan mood, bahkan depresi. Selain itu, bahaya tidur pagi juga bisa membuat emosi seseorang menjadi kurang stabil lantaran kelelahan. Jadi, tak perlu produktif berkarya, jadilah tempramental.


Penutupan

Itu tadi tawaran saya mengenai revolusi mental yang terpental dan terpelanting. Kabar baiknya adalah kita dapat tetap terpental dan terpelanting. Tetaplah melakukannya. Kita akan menemukan hidup yang jauh lebih bingung, gelisah, dan cemas. 





Kamis, 24 Desember 2020

,

PANGERAN MISTERI BERDARAH CAMPURAN

M. Masyfu’ Zuhdi

Pertemuanku dengannya terbilang unik. Adzan Subuh terdengar dimana-mana, sedang orang-orang di sekitarku masih saja terlena. Terhipnotis ayam berkokok, terbuai janji-janji surga bahkan tenggelam dalam mimpi indah yang entah apa. Pemuda yang sedari tadi duduk di depan pintu tiba-tiba menyapaku dan menanyakan tentang makanan yang tadi ku lahap tanpa tahu siapa pemiliknya. “Punya siapa, apakah masih layak untuk dimakan” tanyanya padaku, awal kalimat secara langsung yang ditujukan padaku, dan ceritaku dimulai dari situ.

Namanya Muhammad Qurrotul Aynan, remaja pendiam dari Bondowoso. Terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Meskipun lahir di Bondowoso, pendidikan memaksanya untuk hidup lama di luar kota, 6 tahun di Probolinggo dan sudah 4 tahun di Jember. Probolinggo tempat ia nyantri, perkuliahan di Jember tempat dia mengekspresikan hasil pelatihannya selama 6 tahun di Probolinggo.

Penjelasan tentang pengetahuan yang belum diketahui, pelurusan pemahaman yang masih bengkok, atau pengembalian jalan pembahasan yang sudah tak terarah, mungkin itu fungsi dari keberadaannya di antara lingkaran yang tak benar-benar berbentuk lingkaran. Salah satu contohnya dari lingkaran pembahasan pra komisi paradigma yang dia luruskan sendiri, modul PKD yang tebal dan pertanyaan-pertanyaan rapi dan sistematis yang selalu dia lontarkan kepada semua orang.

Mungkin sering berbeda pendapat denganku yang cenderung terlalu _karepe dewe_ di forum, dia lebih memberikan ruang terhadap semua orang untuk berpendapat, dengan catatan waktu yang tidak terlalu mepet dan pendapat yang diajukan tidak terlalu kopong. Aku masih ingat pendapatnya tentang kehidupan yang seharusnya serba realistis, pencarian jodoh yang memper, ketua yang seharusnya pintar, dan kepentingan uang yang harus disesuaikan dengan kebutuhan. Selain itu, akhir-akhir ini diketahui anggapannya tidak semua bersangkutan dengan apa yang dilihat dengan mata. Seperti, _amalan_, _hizib_ dan warisan metafisik dari leluhur sebelumnya. Mungkin anggapan yang akhir ini dipengaruhi dari budaya darah, atau pendidikan pesantren sebelumnya.

Ada satu peristiwa menarik. Sekitar satu tahun yang lalu, aku melihatnya memainkan HP di tengah riuhnya diskusi yang tak menemukan tepi, tiba-tiba kata-kata si pendiam itu mendiamkan seluruh anggota yang mengikuti diskusi, dari yang paling populer pengetahuannya sampai yang populer sok tahu segalanya. Aku tercengang dan penasaran, kader seperti dia masih saja dirawat Tuhan di tengah-tengah organisasi yang kian hari semakin rapuh, katanya.

Lebih anehnya, dengan ungkapannya waktu rapat komisi kemarin, “sepertinya saya mulai kurang punya hasrat terhadap lawan jenis”, disini aku mengingat film “imitation game” yang menceritakan penemu mesin Turing atau yang lebih dikenal dengan komputer. Film tersebut menceritakan tentang kepribadian A. Turing yang jenius tetapi cenderung aneh di tengah perkumpulan, ditambah lagi dengan orientasi hasratnya yang cenderung berbeda dengan orang lain. Hal itulah yang menjadi penyebab dia dihukum dengan hukuman yang berbeda pula, melepas semua jasa yang pernah ia lakukan di waktu perang dunia kedua.

Kejeniusan dan kepribadian sahabat saya yang hampir serupa dengan A. Turing ini menyebabkan kecurigaan dalam diri saya, sehingga kemarin saya menemukan jawabannya. Setelah saya amati beberapa bulan ini saya melihat ada perbedaan yang cukup signifikan dari ritual ibadah yang ia lakukan, sehingga saya menyimpulkan keanehan hasrat yang dia alami merupakan efek dari anomali muatan Jasmani dan Rohani yang seharusnya normal. Meskipun saya belum tau jawaban saya benar-benar menjawab atau tidak, akan tetapi sampai saat ini hanya itu yang saya dapatkan dari penyebab keanehan yang dia alami, terlepas dari kelebihan yang dia punya.

Selain teringat pada Alan Turing, yang pernah benar-benar hidup, saya juga teringat pada tokoh fiksi di serial Harry Potter, Severus Snape. Sahabat saya, seperti Snape, adalah seseorang yang serba-ingin-tahu, seringkali bersikap ilmiah, bersikap menguji pengetahuan-pengetahuan yang diketahui oleh kebanyakan orang. Tak jarang juga, ia memberikan tips dan rekomendasi berbeda dari yang pernah diberikan oleh orang lain dari “kultur” sebelumnya. Mirip seperti buku ramuan pinjaman bertuliskan “milik Half-Blood Prince” yang ditemukan Harry Potter di kelas ramuan NEWT.

Karakternya adalah karakter yang penuh twist layaknya Snape, susah untuk ditebak. Meski demikian, ia adalah orang yang kesetiaannya tegak lurus. Tidak perlu diragukan lagi, kesetiaannya sudah teruji dengan rekam jejaknya. Bahkan, kendati kenyataan seringkali tidak sesuai dengan harapan.

Selain itu, tanpa orang lain ketahui, ia seringkali yang diam-diam selalu menjadi penyelamat situasi krisis dan buntu. Tak ketinggalan, ia berbakat menjadi pemegang rahasia dengan kemampuannya untuk meraih kepercayaan dari dua pihak yang saling bertentangan, dan menjaganya agar tidak bocor.

Teringat kata-kata Tawakkal dalam cerpen Gus Mus, setiap orang yang mempunyai kelebihan tinggi maka akan menerima peluang cobaan yang tinggi pula, kurang lebihnya seperti itu. Dari sini saya menganggap wajar apa yang dialami sahabat saya, yang menyuruh menuliskan tulisan ini sebagai hadiah di akhir tahun 2020. Beberapa kelebihan yang dianugerahkan padanya dan kelemahan yang menyertainya, membuat saya takut dengan kelebihan yang ada pada diri saya dan kelemahan yang seharusnya saya sadari saat ini.

Keseriusan meliputi hidupnya, dari serba hal yang dia anggap sebagai pelatihan, bahkan guyonan pun dia anggap sebagai keseriusan yang terkadang tidak disadari seseorang. Cara guyonnya mungkin lain dari pada orang umumnya, tapi karena jarang yang mengetahui, aku sebagai teman sering mengamati dari hal-hal yang pernah ia guyonkan pada siapapun ketika aku melihatnya. Guyonan aneh dengan kemanjaan yang menyamaratakan semua orang yang dia kenal, membuatku bisa menyimpulkan dan menguatkan anggapanku selama ini. Orang dengan kebiasaan berfikir serius cenderung lebih memuaskan hasratnya untuk menghibur diri dibandingkan dengan hiburan-hiburan lainnya yang kurang memuaskan.


,

AKTIF BERPIKIR, TIDAK HANYA PASIF MENDENGARKAN

Muhammad Fahmi Arrojabi

Sekitar dua setengah tahun silam, aku melakukan percakapan dengan salah satu senior. Aku lupa siapa persisnya seniorku itu dan dimana percakapan itu terjadi. Yang pasti, percakapan itu terjadi melalui tatap muka, bukan melalui aplikasi pesan singkat.

Kami membahas banyak topik dalam percakapan tersebut. Sampai tibalah, entah bagaimana ceritanya, pembahasannya adalah tentang seniorku yang lain, namanya Aynan. Nama lengkapnya Muhammad Qurrotul Aynan, selanjutnya aku tulis inisialnya saja, MQA. Senior yang bercakap-cakap mengatakan padaku bahwa MQA adalah orang pintar, namun dia sulit untuk memberi pemahaman atau memahamkan orang lain akan suatu hal. 

Menyikapi itu, aku tidak langsung percaya pada saat itu. Aku ingin membuktikannya sendiri sebab yang aku pahami, Tuhan menciptakan kedua mata di depan dan kedua telinga di samping kanan dan kiri menunjukkan bahwa seorang manusia harus mendahulukan penglihatan akan kebenaran (membuktikannya sendiri) dari pada mendengarkannya dari orang lain.

Sebetulnya, aku sudah lama mendengar nama MQA dan beberapa kali bertemu, baik di jalan maupun di acara-acara organisasi. Akan tetapi, baru selama setahun belakangan ini aku akrab dengannya. Sampai akhirnya pada acara Pelatihan Kader Dasar (PKD) perdana Rayon Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (R-FTIK) Komisariat IAIN JEMBER beberapa waktu lalu aku sudah mendapatkan kebenaran berdasarkan pengamatanku sendiri.

MQA tidak seperti apa yang seniorku, atau mungkin orang lain juga, katakan. Aku akui bahwa menurut standarku, ia sangat idealis meskipun di sisi lain, idealisme tidak betul-betul ada di dunia. Setidaknya, MQA sangat dekat dengan idealisme, hampir layak disebut idealis sejati. Yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah bahwa dalam suatu forum apapun itu bentuknya, ia sangat tidak suka sama sekali akan forum diskusi yang beraroma pengajian yang di dalamnya terdapat pemateri atau pembicara dan pendengar. 

Di dalam forum tersebut, menurut MQA, pendengar yang hanya bisa mendengarkan apa yang pembicara sampaikan sehingga komunikasi cenderung terjadi satu arah atau dengan kata lain, kurang interaktif . Dia pada dasarnya bukannya tidak bisa atau sulit untuk memberi pemahaman atau memahamkan kepada orang lain akan suatu hal (pengetahuan). Ia hanya ingin mengajak lawan bicaranya untuk juga berpikir, bukan hanya sebagai penerima saja. Tak jarang ia menjelaskan istilah yang sulit dipahami para pemula sambil dicari padanan kata populernya, sehingga menurutku itu merupakan ajakan kepada si lawan bicara agar juga berpikir aktif, tidak hanya pendengar pasif.

Setelah aku tanya kepada yang bersangkutan bagaimana sikap tersebut terbentuk, ia menjawab bahwa jika dirunut, salah satunya mugkin adalah bentukan sejak kecil. MQA kecil ketika bertanya tentang suatu istilah yang ia tidak pahami kepada bapaknya, bapaknya tidak memberitahunya tetapi memberikan kamus yang isinya terjemah kata, persamaan kata, dan tesaurus, agar MQA kecil dapat mencarinya sendiri. 

Selain melatih kemandirian belajar, menurutnya mencari istilah di kamus tidak hanya akan membawa pembaca kepada istilah yang dicarinya tetapi juga paling tidak kepada istilah yang beradadi halaman yang sama di kamus. Aku menarik kesimpulan bahwa sikapnya yang sedemikian rupa merupakan pantulan dari bagaimana cara bapaknya mendidiknya. 

Benar kata pepatah, “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, kecuali jatuhnya ke sungai, hahaha. Kesimpulan lainnya adalah, dia bukannya sulit untuk memahamkan orang lain akan suatu hal, hanya saja menurut hematku si lawan bicaranya lah yang kurang asupan ilmu hingga sulit untuk memahaminya padahal tujuannya untuk mengajak lawan bicaranya agar ikut aktif berpikir dan banyak membaca, bukan hanya pasif mendengar.

 

Selasa, 15 Desember 2020

,


Muhammad Qurrotul Aynan

Munculnya pandemi tentu mengejutkan semua orang. Virus Corona menyerang sistem pernafasan manusia, sehingga meningkatkan kemungkinan orang yang tertular mengalami gangguan pernafasan yang secara tidak terduga dapat menyebabkan kematian. Keberadaan Virus Corona telah membuat banyak perubahan, terutama terhadap kelangsungan kaderisasi. Dampak pandemi akan mempengaruhi keadaan psikologis dan perubahan perilaku dalam jangka yang lebih luas dan lebih panjang. Perubahan perilaku meliputi pola hidup sehat, penggunaan teknologi, sistem pendidikan, penggunaan media sosial, perilaku konsumtif, perilaku kerja, dan perilaku sosial beragama.

Persoalan kaderisasi adalah persoalan yang kompleks. Persoalannya akan lebih kompleks jika dihadapkan pada situasi pandemi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak terprediksi. Keadaan seperti itu memberikan pengaruh terhadap organisasi yang dapat disebut sebagai pendadakan organisasional. Tidak ada ahli atau rujukan mengenai istilah ini, hanya pendapat pribadi.

Disebut pendadakan organisasional karena keadaan tersebut menyerang sistem imun dalam tubuh organisasi secara mendadak. Serangannya bersifat cepat, tidak terduga, dan dapat berakibat fatal terhadap imunitas internal. Akibatnya, administrasi dan manajemen bisa saja dijadikan sasaran utama dan bersifat signifikan. Untuk menangani pendadakan tersebut, para fungsionaris tidak bisa tidak, mampu memikirkan berbagai kemungkinan serta segera ambil langkah untuk peristiwa yang akan terjadi di masa sekarang dan masa depan.

Jika diamati, ada kecenderungan melemahnya imun internal organisasi dan gerakan yang disusun secara sporadis. Maka, potensi pendadakan tersebut di tengah situasi pandemi sangat memungkinkan. Berbagai ancaman mungkin saja terjadi seperti konflik, kerusuhan, dan vandalisme. Jika ada provokasi massa untuk melakukan aksi, maka hal itu dapat menjadi indikasi bahwa situasi pandemi rentan terjadi pendadakan.

Tuntutan administrasi dan manajemen bisa dibuat kesempatan untuk mendorong terjadinya konflik horizontal yang diawali dari konflik antar kelompok. Maka dari itu, perlu ada kepastian dari fungsionaris dengan langkah yang serius dan terukur. Bicara kaderisasi adalah bicara sumberdaya manusia. Manusia di situasi pandemi tidak hanya fisiknya yang dapat melemah, tetapi juga dapat terserang dan terganggu kesehatan mentalnya. Sebelum manusianya mengalami gangguan kesehatan mental, perlu ada upaya terapi pencegahan. Jika kesehatan mentalnya sudah terganggu, perlu penanganan yang tepat. 

Ego sektoral hanya akan mempersempit peluang ketahanan internal dan memperlemah imunitas, yang ujungnya adalah tumpulnya otak yang berisi pikiran dan fisik yang menyampul mental yang sehat untuk pemulihan bersama. Jika ego sektoral tersebut masih dipelihara, maka tidak perlu heran apabila nanti terjadi perlepasan pengawalan. Kekompakan antar tingkat lembaga perlu dijamin dan dimusyawarahkan secara mufakat, mengingat situasi ini perlu pemecahan masalah secara bersama-sama.

 

Minggu, 13 Desember 2020

,


Lembah Air Mancur lumpuh. Hujan deras disertai angin. Badai disambut gemuruh. Belum lagi dampak pancaran ledakan. Rasanya perlu waktu yang cukup lama untuk bisa pulih.

Kaisar Naga Langit saat itu gelisah. Alih-alih merencanakan balasan, ia mengumpulkan semua komandan yang masih tersisa, menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah Instruktur yang tersisa?“. 

Para komandan pun bingung mendengar pertanyaan itu. Sebelum bergegas untuk menghitung, mereka menegaskan kepada Kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa para Instruktur.

Kaisar kembali berkata, “Kita telah berada di ambang batas. Kita kuat dalam logistik dan strategi pertarungan. Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak generasi yang unggul itu. Kalau kita semua tidak bisa regenerasi, bagaimana kita akan mengejar ketertinggalan?”

Titah Kaisar, “Maka kumpulkan sejumlah Instruktur yang masih tersisa di seluruh pelosok wilayah, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada jumlah barisan.”

Para komandan menyatakan kesiapannya untuk mengumpulkan Instruktur yang tersisa. Lalu, salah seorang dari mereka bertanya, “Mengapa Kaisar tidak bertanya tentang sarana prasarana yang masih kita miliki?”

Jawab Kaisar, “Kita sebelum ini terlalu mementingkan untuk membangun benteng-benteng dan perlengkapan senjata, sehingga ketika ada pendadakan, kita bingung untuk memulihkan diri kita. Anggaran sesuai amanat harusnya didahulukan untuk membangun isi kepala, baru kita bisa membangun tembok-tembok yang megah.”

"Ingatlah satu hal bahwa generasi yang maju takkan pernah siap untuk bermanfaat keterlibatan seorang Instruktur. Peran Instruktur dalam perubahan, seperti mobilisasi tanpa massa.”

Pengaderan di berbagai tingkat tak jarang pasang-surut menjadi korban konsesi dan akomodasi politik. Dengan mata telanjang, dapat dilihat ihwal kebijakan pengaderan hingga pelaksanaan operasional sangat kental dengan tarik menarik kepentingan politik praktis.

Instruktur memiliki posisi strategis dalam menggerakkan mesin pengaderan. Jika kabar muram dan perang dingin tak terhindarkan, hal itu akan berdampak secara psikologis. Perlu barisan independen dan bebas intervensi politik untuk merumuskan dan menyelenggarakan standarisasi kompetensi Instruktur dan membantu memfasilitasi usaha pemenuhan posisi fungsional.

Eksistensi Instruktur di suatu wilayah adalah syarat utama kemajuan. Wilayah maju, Instruktur hampir segalanya. Sudah saatnya menghimpun dan menata para instruktur.