Oleh: M. Q. Aynan
Rambut panjang adalah simbol intelektualitas, bagaimana bisa? Siapapun boleh tidak sepakat. Akan tetapi, izinkan saya bertutur. Saya tidak sedang ingin mengampanyekan rambut panjang. Rambut panjang atau pendek itu soal pilihan. Namun, dari orang-orang yang saya kenal sejak dulu hingga sekarang, paling tidak rambut panjang adalah semacam eksperimen pada dirinya sendiri. Apa yang akan terjadi setelah rambutnya panjang. Kira-kira begitu.
Pernah seorang dosen lulusan UNUD Bali mengatakan bahwa ia tidak menjumpai mahasiswa yang rambutnya panjang di kampusnya dulu. Mungkin karena bukan PTKIN, beda dengan saya. Tentu, mayoritas orang yang saya kenal berasal dari kalangan PTKIN. Saya berasal dari pesantren dan orang-orang yang saya kenal juga berasal dari pesantren. Kami kebanyakan kuliah di PTKIN. Alasannya macam-macam antara lain karena persaingannya tidak terlalu ketat dan biayanya relatif lebih murah.
Citra seorang yang gondrong punya intelektualitas yang tinggi dimulai saat saya masih Aliyah. Saya melihat kakak-kakak kelas saya yang sudah kuliah mengunjungi pesantren. Mereka yang intelektualitasnya tinggi memiliki rambut yang panjang. Saya menjadi penasaran apakah ada hubungannya rambut panjang dan intelektualitas.
Berlanjut ketika di IAIN Jember, saya membiarkan rambut saya panjang. Paling tidak, kapan lagi? Kemudian saya melanjutkan penelusuran saya. Ada beberapa dosen yang mengaku punya rambut panjang semasa kuliah. Saya lupa nama-namanya. Kebetulan mungkin, dosen-dosen itu dinilai kompeten oleh para mahasiswa dalam mengampu mata kuliah. Bahkan, ada yang menyampaikan ke saya bahwa beliau sedikit menyesal kenapa dulu tidak memanjangkan rambut. "Mumpung masih muda", katanya. Sampai sini, mungkin pembaca setuju dengan judul tulisan ini.
Menurut Michel Foucault, tugas intelektual adalah to disturb people’s mental habits atau mengganggu kebiasaan orang lain. Ia menyadarkan masyarakat agar mampu berpikir. Salah satu cara untuk mengganggu orang lain adalah mempunyai rambut panjang. Saya yakin setiap orang pasti pernah terganggu pikirannya dengan keberadaan laki-laki yang berambut panjang. Ada yang membiarkan ada pula yang bertanya. Paling tidak, jika seseorang bertanya, itu adalah tanda keberhasilan dalam menggangu pikiran orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar