---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 22 Desember 2021

,



Kalau dalam filsafat yang sifatnya teoritis dikatakan bahwa teologi sebagai mitra senior dan sains sebagai mitra junior, maka dalam filsafat yang sifatnya praktis, khususnya di politik, ideologi sebagai mitra senior dan strategi sebagai mitra junior. Dengan kedua mitra tersebut, dengan segala keterbatasan pengetahuan saya, baik yang bersumber dari bacaan maupun pengalaman, saya berpikir bahwa filsafat dapat berfungsi dan beroperasi tidak hanya dalam permenungan dalam meditasi individu, dalam kesendirian, tetapi juga dalam keramaian, dalam perbuatan, pergerakan, dan perjuangan massa. Sebagaimana catatan pribadi Marcus Aurelius yang berjudul "Perenungan" atau "The Meditations" dalam bahasa Inggris yang berisi serangkaian latihan spiritual yang penuh dengan kebijaksanaan, bimbingan praktis, dan pemahaman mendalam tentang perilaku manusia.


Dalam kata pengantar buku Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring, A. Setyo Wibowo menyebut Marcus Aurelius sebagai "Filsuf di Medan Perang". Jika Marcus Aurelius disebut demikian, maka apabila ada seorang atau beberapa orang mahasiswa, gemar berfilsafat, mempelajari filsafat, atau melakukan perenungan filosofis, kemudian karena dituntut oleh situasi, menjadi terlibat atau berpartisipasi aktif dalam politik praktis, dapat disebut bahwa dia atau mereka adalah "Filsuf di Medan Kontestasi". Sebagaimana Marcus Aurelius, ketika memenangkan kontestasi politik praktis mahasiswa, bukannya bersenang-senang merayakan kemenangan, para mahasiswa filsuf praktis tersebut justru akan melakukan permenungan diri: apakah tindakanku tepat, apakah kontestasi dengan mobilisasi demikian banyak memang perlu dilakukan?


Mungkin timbul pertanyaan, para mahasiswa "filsuf" ini menjadi arsitek pemenangan kandidat pimpinan organisasi mahasiswa dan memimpin pengarahan strategi mobilisasi? Bukankah filsafat kesannya menjemukan, susah, rumit, dan cenderung tanpa faedah? Masa' sih seorang filsuf sampai mesti terlibat dalam pemenangan calon ketua? Amatilah beberapa "permainan". Bagi sebagian orang, peristiwa itu tak terlupakan. Bagaimana mungkin filsafat yang biasanya dianggap membuat orang lari dari dunia justru dipraktikkan di tengah kancah perpolitikan kampus?


Pertanyaan yang bersumber dari perasaan kaget, atau terkejut, dengan fenomena "Filsuf di Medan Kontestasi" tersebut, ada hubungannya dengan apa yang ditulis oleh A. Setyo Wibowo dalam kata pengantar itu. Ia menulis bahwa bisa jadi kita salah belajar filsafat, atau salah mendapatkan guru filsafat, sehingga bukannya senang pada filsafat, kita malah jadi benci dan alergi pada filsafat. Filsafat tidak selalu dalam arti cara berpikir ruwet dan menjelimet serta tidak relevan dengan hidup sehari-hari. Karena relevan dengan hidup sehari-hari, maka orang dari zaman kapan pun bisa membaca untuk berkaca, dan siapa tahu, terinspirasi darinya.


Mengapa penting membicarakan "Medan Kontestasi" dalam kehidupan sehari-hari para "Filsuf" itu? Justru karena hidup mahasiswa di luar kelas setiap hari adalah kontestasi! Dari memilih calon ketua sampai memilih calon pasangan, dari mengejar prestasi sampai mengejar posisi. Apalagi hidup di organisasi ekstra kampus macam you know lah apa saja, adu mulut, beda opini, rebutan kader, dan segala keributan lainnya. Intinya, di ormek itu isinya hampir lebih dari separuh, adalah pertengkaran! Bagaimana bisa damai di tengah suasana seperti itu? Bisakah merasakan kepuasan batin dalam hidup dari rapat ke rapat, dari kepanitiaan sampai persidangan, selalu dipenuhi konflik dan ketegangan tanpa henti?


Filsafat (praktis), baik secara umum, maupun secara khusus ketika membicarakan politik (praktis) mahasiswa, sebagai praktik hidup penting dijalani dan dijalankan betul-betul. Paling tidak, filsafat seperti itu berguna sekali untuk mengatasi emosi dan mem"bawah"i logika, bahkan untuk sejenak saja. Di tengah ketegangan dan kerumitan, bersamanya ada kepuasan dan kedamaian. Filsafat di sini bukanlah untuk sekadar mengisi waktu, menumpuk ide, atau merangkai wacana, untuk bergaya dan tebar pesona di depan adik-adik junior. Filsafat adalah praktik dan latihan, sebuah seni hidup.      

Selasa, 21 Desember 2021

,

 Para #strategist sering mengajukan ide yg tampak mustahil. Ide berbahaya, ide yg mengandung resiko berat.


Sepertinya para #strategist ini tidak peduli dengan "para pemain".

Mereka tampak hanya peduli dengan "permainan".

Padahal...


Bagi para #strategist yg sangat jago #psikologi & berkemampuan luar biasa di banyak bidang. Mereka sendirilah yg tdk peduli dirinya sendiri.


Ini cerita kisah orang lain sob, para ahli-ahli super jenius yg kebetulan klien saya. Saya banyak belajar dari mereka.


#Selingan


Jenius kok jadi klien (pasien) bu?

Mereka memang mengalami gangguan jiwa. :)

#strategist


#Selingan


Mereka memang psikopat yg tobat (atau belum tobat).

Berkemampuan luar biasa (bisa positif / negatif).

#strategist


Kehebatan mereka tdk berhenti sampai disitu.

Para #strategist ini umumnya jago #sejarah serta #budaya yg menyertainya.


Bagi mereka, tidak penting siapa yg ada di "panggung", tdk penting siapa yg di "depan".

Para #strategist lebih suka bagai bayang-bayang.


Mereka paham arti "peran".

Peran saya disini, peran kamu disitu!

Saya di belakang meja, kamu di panggung.

Paham betul...


#strategist


Tdk ada iri/dengki bagi para #strategist bagi siapapun yg dipasang di "depan".

Adanya kecewa (menuju depresi) bila lawan "melewati" dia.


Yah, kalau kita lihat contoh.

Banyak para #strategist pahlawan kemerdekaan Indonesia yg tdk terekspos sama sekali. Padahal jasa luar biasa.


Lihatlah perang dari jaman ke jaman.

#strategist dianggap lebih penting nyawanya dr seorang jenderal.

Siapa yg anggap? Jenderal itu sendiri.


Bagai catur, saat kita yg orang awam berpikir 1-3 langkah kedepan.

Para #strategist sudah memikirkan 10 langkah dg segala kemungkinan.


Seorang sahabat pernah cerita.

Pada suatu perang dinasti cina.

Lawan tdk bernafsu sama si jenderal.

Lebih nafsu habisi #strategist 


#rumus


Saat si #strategist kacau. 

Bubar juga pasukan. :p


#Rumus #Pelajaran


Kalau ada yg selalu ingin tampak didepan?

Ah... Itu bukan #strategist

Itu palsu. :)


Konon di negeri antah berantah.

Ada sekelompok #strategist nakal yg sukses mengangkat seorang "pahlawan" palsu dari "zero to hero".


Ngeri!


Bekal #strategist nakal ini adl kesungguhan.

Mereka jauh dr iri/dengki, tdk butuh kaya, terkenal, etc.

Mrk hanya mikir "tujuan" sukses!


Itulah kemampuan para #strategist

Dahsyatnya mampu membuat seorang pengusaha jadi pemimpin.

#eh


Mereka membenturkan teman-lawan, teman-teman, lawan-lawan.

Semua diperalat dengan mudahnya.

Yah, itu bagai makan & minum saja.


#strategist.


Semua sibuk memikirkan gerakan yg tdk seharusnya.

Pahlawan "palsu" (yg bisa diganti kapan saja) dan jejaringnya tetap langgeng.

#strategist


Jk tdk waspada, hasilnya tentu saja si "pahlawan" palsu akan terus jadi pahlawan.

Semua diperalat dg indah.

Kekuasaan terjaga!


#strategist



Senin, 20 Desember 2021

,



PEMBUKAAN

Ketika kekuasaan yang ada menghendaki tiap ucapan dan tindakan merupakan satu rangkaian yang telah digariskan, dan politik sebagai panglima. Pengertian "politik sebagai panglima" mungkin jarang terdengar tetapi malah bisa dirasakan penerapannya. Politik sebagai panglima berarti suatu pengerahan segala hal untuk kepentingan politik. Mobilisasi sesekali memang perlu. Tapi dalam perkembangannya, prinsip ajaran "politik sebagai panglima" kemudian dapat berarti sikap taat buta pada pertimbangan suatu kekuasaan politik - di atas pertimbangan lain apa pun.



Disorientasi dalam "Politik Sebagai Panglima"


Pertanyaannya, bisakah fokus mewujudkan pengembangan SDM? Jelas, itu bukan sebuah pekerjaan mudah. Tantangan terbesar dan terberat dalam merealiasikan pembangunan SDM adalah kecenderungan tidak kondusifnya situasi politik yang berkepanjangan. Sebelum, saat, dan sesudah musim pemilihan, ‘pertarungan' antarkelompok semakin sering terjadi seiring dengan kepentingannya masing-masing.


Jika hal ini terus berlanjut tanpa bisa dikendalikan, disorientasi politik akan dituai yang justru berimplikasi negatif terhadap pembangunan SDM. Kalau itu yang terjadi, bukan malah forum kajian atau penampilan kesenian yang akan menjadi suguhan, melainkan justru manuver dan intrik para pemain politik. Itu akibat dari sebuah sistem demokrasi langsung yang berlaku. Untuk mendulang suara, calon beserta pendukungnya harus pandai “berdagang” dan “menjual diri”. Namun, persoalannya menjadi sangat rumit apabila perang strategi tersebut justru dipakai untuk menghabisi lawan politik. Ini praktik politik yang tidak sehat dan justru membuat praktik dan budaya demokrasi menjadi kebablasan.


REORIENTASI DALAM "KEMAJUAN PENDIDIKAN ADALAH KEBENARAN HAKIKI"


Di alam demokrasi, permainan politik di lingkungan sekitar ini harus tetap elegan dalam memasarkan posisi politiknya. Calon dan pendukungnya harus bisa menawarkan program konkret kepada konstituennya, bukan “menghabisi lawan” dengan cara yang licin. Bagaimanapun pemotongan pasti akan melahirkan pemotongan berikutnya. Lalu, jika disorientasi politik ini masih terus berlanjut dan tak dihentikan, atau paling tidak diminimalisir, akibat yang harus dialami pun pasti akan sangat signifikan.


Kaum intelektual menjadi tak nyaman berproses di dalam, sehingga mereka akan mencari tempat dan wadah lain yang lebih menjamin keamanan dan kenyamanan. Akibat selanjutnya, tren intelektual yang sudah berjalan naik akhirnya jadi berantakan.



PENUTUP


_*"Bagi seluruh peserta yang menjadi ataupun tidak, sebagai tim sukses atau ikut campur, ataupun berpihak kepada calon yang terpilih, agar tidak terlalu gaduh karena perasaan senang atau bangga atas kemenangan. Sebab kontestasi politik bukanlah menjadi tujuan, melainkan hanya sebagai alat ataupun jalan daripada kita menjalani proses di rayon. Di samping itu, setelah ini ada hal yang lebih penting daripada politik tersebut yakni menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan dan menjadikan kemajuan pendidikan di dalam rayon kita, mengingat rayon kita adalah rayon fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan."._


M. Masyfu' Zuhdi

3 Desember 2021


_*"Masih ada dunia lain. Sisi revolusioner dari istilah 'dunia lain' dapat beriringan dengan wacana pengembangan SDM. Lagi pula, sebagai tren baru, 'Pendidikan adalah kebenaran hakiki' , segala sesuatu yang lain-termasuk arus tunggal politik-adalah 'utopianisme yang fantastis'. Revolusi hari ini bukanlah sumber potensi revolusioner ala komunis, tetapi tanda kebanggaan akan kemajuan pendidikan, pengembangan SDM."*_


M. Q. Aynan

3 Desember 2021 

Senin, 13 Desember 2021

,

STRATEGI PENYELIDIKAN SUARA


Menaksir target suara

1. Menyiapkan data rincian daerah pemilihan dan alokasi keterwakilan.

2. Membuat rincian jumlah penduduk dan jumlah pemilih tetap di dalam daerah pemilihan yang bersangkutan.

3. Menyiapkan data hasil pemilihan sebelumnya.

4. Mengurutkan perolehan keterwakilan kelompok perwakilan.


Menaksir peluang suara

1. Menentukan target minimal suara yang harus diperoleh.

2. Menghitung peluang suara dengan menghitung data jumlah dan nama pemilih, data wilayah, referensi perolehan suara dalam pemilihan sebelumnya, target minimal dan peluang maksimal perolehan suara.




STRATEGI PENGAMANAN SUARA


Saksi koalisi

1. Pemetaan berdasarkan pada beberapa pertanyaan mendasar. 

- Berapa orang saksi yang disediakan oleh partai politik? 

- Di titik mana saja saksi ditempatkan? 

- Bagaimana pembiayaannya? 

- Bagaimana latar belakang saksi tersebut? 

- Ditempatkan di asal daerahnya atau bukan?

2. Mempertimbangkan komitmen dan loyalitas. Sebagai sebuah tim yang bekerja secara kolektif, maka saksi pemilihan pun harus memiliki komitmen dan loyalitas agar tidak mendua. Koalisi/tim harus transparan terkait hak dan kewajiban sebagai saksi.

3. Saksi perlu dibekali pengetahuan mengenai teknis pemilihan terutama dalam proses pemungutan dan penghitungan suara. Saksi koalisi perlu memahami hal berikut. 

A. Waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan dan penghitungan suara. Dalam hal ini saksi diupayakan untuk hadir sebelum waktu dimulainya pemilihan untuk mendata persiapan logistik di lokasi, apakah sudah terpenuhi atau belum. 

B. Ketentuan suara sah dan suara tidak sah 

C. Kriteria pemilih yang dapat menggunakan hak pilihnya di lokasi.

D. Tata cara mengantisipasi apabila ada kecurangan di lokasi.


Saksi calon


1. Calon perlu melakukan pemetaan posisi titik-titik lokasi. Pastikan bahwa posisi titik-titik yang akan dipantau oleh saksi calon adalah basis calon. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga suara pemilih yang kemungkinan besar akan memilih calon yang bersangkutan. Calon perlu melihat kembali koalisi akan menempatkan saksinya dimana saja. Jika terdapat posisi titik-titik lokasi yang tidak menyediakan saksi dari koalisi calon, maka calon harus mengalokasikan saksi pribadi untuk menggantikan posisi saksi dari koalisi .


2. Calon perlu melakukan pemetaan posisi titik-titik lokasi yang akan dipantau oleh saksi calon.

A. Posisi titik-titik basis calon, perlu dipastikan adanya saksi calon atau saksi koalisi calon yang akan memantau karena posisi titik-titik ini yang biasanya mendulang suara calon paling besar sehingga perlu dipastikan keamanan suaranya.

B. Posisi titik-titik basis koalisi, seringkali calon bertarung di daerah yang bukan merupakan basis konstituen koalisi. Sehingga perlu dilakukan pemetaan berkaitan dengan ada tidaknya posisi titik-titik basis koalisi.

C. Posisi rawan kecurangan, perlunya pemetaan posisi yang rawan kecurangan yang akan berpotensi merugikan suara calon. Misalnya di titik-titik yang menjadi basis banyak koalisi atau posisi yang memiliki gesekan cukup tinggi.


3. Calon perlu melakukan pelatihan bagi Saksi Calon. Sebagaimana seorang saksi dari koalisi, tugas saksi calon pun tidak jauh berbeda. Saksi Calon harus memperhatikan beberapa hal : 

A. Pengetahuan dasar pemilihan : kriteria pemilih yang dapat menggunakan hak pilihnya di lokasi, cara pemberian suara yang sah, cara penghitungan suara.

B. Waktu mulai dan berakhirnya pemungutan dan penghitungan suara. Saksi perlu hadir sebelum pemungutan suara dimulai dan memantau hingga pemungutan suara selesai, tata cara mengantisipasi apabila ada kecurangan di lokasi.

C. Mengetahui lokasi pemilihan. Biasanya baru akan diketahui setelah menjelang hari H pemungutan suara. Sehingga perlu koordinasi dengan panitia, koalisi, dan tim pemantau setempat.


STRATEGI PEMETAAN PEMILIH DAN PESAING

Mapping atau profiling

Pemetaan pemilih dan pesaing

1. Pemetaan diri sendiri: kekuatan dan kekurangan diri sendiri.

2. Pemetaan pesaing: kekuatan dan kekurangan pesaing.

3. Pemetaan medan pertarungan politik: karakteristik masyarakat pemilih.

4. Pemetaan iklim: isu-isu aktual kontemporer yang sedang berkembang.


Secara umum, terdapat tiga peta sosial politik yang perlu dipahami oleh calon dan timnya, antara lain:

1. Peta jaringan pemilih: pendapat pemilih mengenai diri calon dan pesaingnya; perilaku pemilih berdasarkan wilayah pemilihan, tingkat status social ekonomi serta pendidikan, segmentasi sosial di masyarakat, afiliasi organisasi masyarakat, dll.

2. Peta jaringan sosial masyarakat: ikatan kekeluargaan; ikatan hubungan asmara; kelompok sosial, dll

3. Peta media komunikasi: pertemuan langsung dan media sosial.


Berbagai poin penting dalam pemetaan jaringan ini adalah:

A. Pemetaan jaringan dapat menetapkan jejaring yang berpotensi menjadi mesin politik untuk calon, baik yang berasal dari lingkungan dalam koalisi calon, maupun lingkungan luar koalisi calon, yaitu konstituen nonpartisan.

B. Pemetaan jaringan dapat memetakan wilayah dari masing-masing jejaring.

C. Selanjutnya dengan pemetaan jaringan, calon juga dapat melakukan inventarisasi nama-nama tokoh yang yang berpotensi untuk menjadi tim pemenangan sehingga calon atau sponsor dapat membentuk struktur tim pemenangan dengan tokoh-tokoh yang tersedia.


Contoh Analisis SWOT Sederhana Seorang Calon: 

1. Strengths (kekuatan): Cerdas; Intelektual; Sukses; Muda; Ganteng. 

2. Weaknesses (kelemahan): Kurang Bergaul ke bawah, Emosi labil; Minim pengalaman politik; Tidak mahir "menjual". 

3. Opportunities (peluang): Jumlah pemilih pemula 30 persen; Jumlah pemilih lama 15 persen; Memiliki kedekatan dengan jaringan tertentu; Didukung oleh pihak-pihak tertentu. 

4. Threats (ancaman): Lawan calon petahana (incumbent); Lawan berpengalaman dalam politik; Lawan sangat mahir "menjual"; Lawan berasal dari jaringan yang didukung oleh mayoritas suara pada pemilihan sebelumnya.


Contoh Perencanaan Strategis yang Dibuat Berdasarkan Analisis SWOT di 

Atas: 

1. Membuat program-program atau menyusun strategi-strategi untuk mendekati akar rumput. Hal ini untuk menutupi kelemahan citra kurang bergaul ke bawah. 

2. Membuat program-program atau menyusun strategi-strategi untuk merebut dukungan pemilih pemula dengan pendekatan bahasa sederhana. Hal ini untuk memaksimalkan kekuatan yang dimiliki untuk merebut peluang. 

3. Mengoptimalkan peran tim media untuk membongkar kasus-kasus yang terjadi selama kepemimpinan lawan dalam pemerintahan. 

4. Menarik lawan ke dalam lingkaran perdebatan akademis untuk menutupi kelemahan penguasan bahasa gaul, sekaligus untuk menciptakan ancaman baru bagi lawan.


STRATEGI PENGGALANGAN SUARA

 Berikut berbagai poin penting yang dapat dibuat political mapping-nya berdasarkan political profiling yang terkait strategi mobilisasi:


1. Membangun Jaringan Politik beserta Struktur Organisasinya.

- Membuat Desain Struktur Tim Pemenangan.

- Membentuk Tim Pemenangan di semua level, bahkan sampai ke level paling bawah.

- Memperluas jaringan sosial kemasyarakatan.


2. Melakukan Pengarahan Tim Pemenangan.

 - Memahami tingkah laku pemilih.

 - Membuat Struktur Organisasi Tim Pemenangan.

 - Melakukan penargetan.

 - Media kampanye

 - Melakukan penyusunan program.

 - Selalu melakukan evaluasi program.


3. Melakukan Penyusunan Program Pemenangan.

 - Membuat Desain program kunjungan ke jejaring.

 - Menyampaikan visi dan misi dalam bentuk orasi politik.

 - Melakukan aksi sosial.

 - Terlibat dalam kegiatan publik atau privat

 - Melakuan Kontrak politik.

 - Melakukan komunikasi secara tradisional.

 - Melakukan komunikasi kekinian dengan dukungan multimedia dan media alternatif lainnya.


4. Berusaha Memenuhi Persyaratan Pencalonan.

a. Berusaha mendulang dukungan koalisi.

b. Memenuhi persyaratan administrasi.


5. Melakukan pembentukan Tim Kampanye.


6. Melakukan pembentukan Tim Saksi.

 

Tujuan Strategi ini antara lain:

A. Membangun organisasi pemenangan Calon yang Efektif dan Efisien.

B. Mendesain kerangka kerja organisasi yang jelas dan terukur.

C. Menentukan target-target pemenangan dan jadwalnya.


Pemetaan Pribadi Calon

- Apa saja hal baik tentang diri calon yang dapat disampaikan oleh pemilih?

- Apa saja hal buruk yang dapat disampaikan oleh pemilih tentang calon?

- Apa sajakah asset dan kewajiban calon?

- Apakah usia, jenis kelamin, gender, dan pengalaman calon merupakan kelemahan atau kekuatan?

- Apakah prestasi calon? Apakah yang telah dicapai oleh jejaring koalisi di mana calon menjadi bagian di dalamnya?

- Siapa sajakah yang telah calon bantu? Apakah mereka akan memberikan apresiasi secara publik?

- Mengapa calon layak menjadi seorang calon? Apa prestasi calon pada jabatan terakhir?

- Mengapa pemilih harus memilih calon?

- Apa sajakah yang dapat calon tawarkan kepada pemilih?

- Apa sajakah yang membuat calon berbeda dengan calon lain?

- Bagaimana kinerja calon selama ini?

- Apa sajakah pengalaman dan kaitan politis calon dengan pemilih?

- Calon pernah berpartisipasi di mana saja dan sebagai apa?

- Apakah pernah calon ketika sebagai atasan atau pimpinan sebelumnya kurang bertanggungjawab?


Pesan Kampanye

Calon perlu membuat sebuah pesan yang baik, yang memiliki indikator:

 Jelas dan singkat. Mudah untuk dipahami oleh penerima pesan.

 Menarik. Terutama ditujukan kepada pemilih yang akan diyakinkan.

 Kontras. Mampu melakukan differensiasi calon dari pesaing.

 Menyentuh. Kepada apa yang paling urgen bagi pemilih kandidat.

 Konsisten. Disampaikan secara berkelanjutan.


Calon hanya membutuhkan sebuah pesan untuk menjawab pertanyaan pemilih: mengapa saya (pemilih) harus memilih Anda (calon) dan bukannya pesaing (calon lain) Anda?

Calon perlu melakukan latihan dalam menyampaikan pesan sehingga calon mencapai tingkat paling nyaman ketika menyampaikannya ke pihak pemilih.

Sabtu, 11 Desember 2021

,


Baru saja saya menonton orasi pengukuhan guru besar F. Budi Hardiman dalam bidang ilmu filsafat yang sebagian isinya tentang fenomena kehidupan dalam dunia demokrasi membuat saya merasa terhubung dengannya. Keterhubungan ini baik dalam demokrasi di lingkup luas umumnya, maupun demokrasi di lingkungan sekitar khususnya di kalangan mahasiswa.


Sebagaimana pemikiran filsafat yang kecenderungannya bermuatan kritik, orang lain yang kurang familiar-atau yang cukup tidak asing-dengan pemikiran-pemikiran filsafat biasanya menilai bahwa orang-orang yang sering berpikir filsafat tampak pesimis dengan dunia, dalam hal ini khususnya dunia politik atau demokrasi. Akan tetapi, bagi saya secara pribadi, mungkin tepat apabila dikatakan pesimis, akan tetapi lebih utuh jika penampakan pesimis tersebut berasal dari kepedulian terhadap hal-hal yang berada di balik permukaan, dan kewaspadaan terhadap hal-hal yang mungkin terjadi.


Filsafat, selain menjadi mata kuliah wajib di semua program studi seperti filsafat umum atau pengantar filsafat, filsafat ilmu, dan mata kuliah filsafat lainnya, juga dipelajari di luar kelas kuliah seperti dalam kegiatan-kegiatan kajian yang dilaksanakan di organisasi mahasiswa ekstra kampus, komunitas kajian, atau klub studi. Hanya saja, menurut saya, sebagaimana pernah saya tulis, kurikulumnya lebih banyak berisi muatan filsafat teoritis daripada filsafat praktis, sehingga pemikiran-pemikiran filsafat yang dipelajari tidak sedikit yang "jauh di sana" dan "di atas langit". Maka, dunia, realitas, atau kenyataan yang dibicarakan oleh filsafat semacam itu adalah "kenyataan sejauh dan seluas yang dibicarakan". Padahal, keseharian massa-kolektif adalah "kenyataan sedekat dan sesempit yang dibicarakan".


Oleh karena itu, ketika membicarakan "politik praktis" dalam kehidupan mahasiswa khususnya, dengan "filsafat teoritis", cenderung tidak nyambung pembicaraannya. Mahasiswa-mahasiswi, baik massa-kolektif maupun kader-individu, entah mereka sekedar "penonton politik praktis" atau "pemain politik praktis", ketika membicarakan politik praktis menggunakan filsafat teoritis, ada jarak yang lumayan jauh. Di sinilah perlu mendekatkan politik praktis dengan filsafat praktis agar antara politiknya dengan filsafatnya sama-sama praktis. Ketika sama-sama praktis, pembicaraan bisa lebih nyambung.

 

,

 Realitas di lapangan menunjukkan bahwa lebih banyak keputusan pemilih untuk memilih calon ketua, sifatnya tidak logis, lebih cenderung emosional.


Selain aspek atau variabel kebiasaan sehari-hari dan perilaku, calon ketua dan timnya dituntut memahami kompleksnya tipe pemilih.


Setidaknya, terdapat 4 tipe pemilih yang masing-masing dari keempatnya, jumlahnya tidak rata.


1. Tipe pemilih analis. Sebelum mengambil keputusan untuk memilih calon ketua, tipe ini akan mengumpulkan bahan informasi tentang masing-masing calon, meneliti segala aspek dari pribadi calon. Pertimbangan atau orientasi memilihnya bersifat jangka panjang. Lebih suka berkomunikasi secara interpersonal daripada berkomunikasi secara massa. Jumlahnya rata-rata 10-20%.


2. Tipe tukang ngopi atau nongkrong. Sebelum mengambil keputusan untuk memilih calon ketua, langkah pertama yang dilakukan tipe ini adalah mereka akan melihat siapa saja yang berada di lingkaran pertemanan masing-masing calon. Pertimbangan atau orientasi memilihnya berdasarkan pengalaman yang beragam dan kompleks sehingga cenderung mudah diajak kompromi dan dimintai tolong. Lebih suka berkomunikasi secara massa daripada berkomunikasi secara interpersonal. Jumlahnya rata-rata 15-25%.


3. Tipe pengawal atau penjaga. Tipe ini cenderung mengambil keputusan untuk memilih calon ketua berdasarkan fakta-fakta sederhana. Pertimbangan atau orientasi memilihnya bersifat pragmatis. Selain itu, tipe ini suka terhadap pertimbangan etis, norma, atau kultur dalam memilih calon ketua, lebih suka melihat rekam jejak proses daripada wacana ide, visi, misi, atau argumentasi yang dimunculkan. Jumlahnya rata-rata 25-35%.


4. Tipe pemilih independen. Cenderung sudah punya penilaian sebelum mencari tahu lebih lanjut dalam mengambil keputusan untuk memilih calon ketua. Tipe ini sangat rasional dalam memilih calon dan menyukai pembaharuan. Kurang suka terhadap pertimbangan etis, norma, atau kultur dalam memilih calon ketua. Pertimbangan atau orientasi memilihnya bersifat kebaruan. Jumlahnya rata-rata 10-20%.

Rabu, 08 Desember 2021

,



Menyusun Formasi Tim dalam Operasi Gerakan



Formasi Tim dalam Operasi Gerakan adalah jumlah susunan rumpun, jenjang/pangkat, dan jabatan, yang diperlukan satuan pasukan gerakan untuk melaksanakan tugas pokok dalam jangka waktu tertentu sesuai ketetapan sponsor yang bertanggungjawab penuh dalam hal penertiban dan penyempurnaan gerakan.


Menyusun formasi tim dalam operasi gerakan diperlukan penentuan kebutuhan personel terlebih dahulu (apa saja dan berapa). Penentuan kebutuhan merupakan langkah atau kegiatan untuk menentukan jumlah dan kualifikasi personel yang diperlukan guna menjalankan suatu operasi gerakan.


Mengapa penting? Mengapa perlu?

Setidaknya untuk Memperjelas tupoksi atau menentukan jenis tugas masing-masing personel; Berbagi peran atau merumuskan sifat tugas masing-masing personel; Mengetahui batasan kinerja atau memperkirakan beban tugas.


Langkah pertama untuk menentukan kebutuhan dilakukan dengan menyusun rumpun, jenjang/pangkat, dan jabatan. Formasi dalam hal ini terbagi menjadi tiga rumpun, jenjang, yakni rumpun strategi dan rumpun operasi, yakni jenjang/pangkat pengarah dan jenjang/pangkat pelaksana, yakni jabatan ketua (kepala/koordinator/penanggungjawab suara) dan jabatan anggota (sekretaris, bendahara, penanggungjawab suara).


Dasar penyusunan formasi, Calon ditentukan oleh pembina dulu baru pengarah (instruktif), atau sebaliknya oleh pengarah dulu baru pembina (konsultatif).


Personal branding calon: Ikut apa saja, lingkarannya siapa saja, dikenal apa tidak, berapa orang yang mengenalnya dan siapa saja mereka.


(Pembina) (1 orang) (bisa ada bisa tidak ada)

- di tataran dosen calonnya sendiri, di tataran mahasiswa penanggungjawab atau sponsor utama

- bisa sebagai donatur


Penata/Pengarah Strategi(s) 1-3 orang

- Menyeleksi calon dan sponsor utama, arsitek operasi.

- Analisis lingkungan strategis, potensi konstituen atau pemilih, berdasarkan prodi; kelompok; angkatan; segmenting-targetting-positioning; geografis; demografis; psikografis; SWOT; AGHT; dll.

- Merumuskan strategi operasi: Penyelidikan (pendekatan/penjajakan); Penggalangan (figur berpengaruh tidak harus ketua, kode komunikasi atas nama atau penyanggupan); Pengamanan (konsolidasi dengan laporan dari PJ suara ke ketua tim, dari ketua tim ke pengarah tentang jumlah angka suara dan nama).

- Merumuskan strategi validasi suara (berapa dan kode) di lokasi dan manajemen forum (pengaman forum, pembicara forum (misi/pencapaian forum, strategi konstruktif dan/atau persuasif dan/atau destruktif))



Penggerak/Pelaksana Operasi(onal) 3-5 : 


1 pendamping/pengawal/pengaman, (bersama dengan calon kemanapun pergi)

1 Ketua pelaksana, (menghubungkan antara pengarah dan pelaksana)

1 Penanggungjawab suara (koordinator per wilayah, setelah branding lalu marketing dan selling, menyelidiki-menggalang-mengamankan) 

+

1 sekretaris 

1 bendahara 

Selasa, 07 Desember 2021

,

 Model Relasi Komunikasi Politik


X: yang penting tau, (koordinasi dan komunikasi) tau alasannya


Y: harus nurut, satu garis kebijakan

,

 Partisipasi Politik

1 Mengundang dan mengajak anggota/kader lain dalam diskusi-diskusi

2 Terlibat dalam kepanitiaan acara ekstra kampus

3 Terlibat dalam bakti sosial, study banding dll.

4 Terlibat dalam kelompok-kelompok diskusi sesuai dengan kebutuhan; dalam format small group atau format yang lain.

5 Terlibat dalam diskusi ringan (ngobrol enak), merangsang pikiran untuk tetap awas.

6 Mengenal dan/atau mengunjungi PMII Cabang atau Komisariat lain baik dalam suatu acara tertentu atau hanya silaturrahim.

7 Terlibat dalam kepanitiaan acara-acara yang diselenggarakan oleh intra kampus.

8 Terlibat di organisasi-organisasi intra kampus (HMPS, UKM-UKK, SEMA, DEMA).

 

Perilaku Politik

- Memberikan suara dalam pemilihan

- Mengikuti lebih dari satu organisasi atau perkumpulan

- Ikut mengkritik

- Memberikan aspirasi tanpa kericuhan

- Menghormati keputusan hasil pemilihan

- Mengedepankan keputusan bersama daripada keputusan individu

- Memilih calon berdasarkan orientasi ideologi dan/atau berdasarkan orientasi kebijakan

,

 Ideologi Politik




1. 

Oportunis

Pragmatis

Distopis


2. 

Tempramental

Bebal

Utopis


3. 

Fanatik

Primordial

Konservatif


4. 

Realistis

Imajinatif

Harmoni



1.

Oportunis: biasanya tidak memiliki prinsip karena mereka bisa membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar – tergantung keadaan mana yang lebih menguntungkan.


Pragmatis: kecenderungan berfikir praktis, sempit, dan instan. Begitu pula menginginkan segala yang diharapkan segera tercapai tanpa melalui proses yang lama.


Distopis: apapun bisa terjadi, cara apapun bisa dilakukan. Cenderung menimbulkan rasa trauma, penuh konflk, dan gejolak berkepanjangan.



2.

Tempramental: mudah meledak, mudah marah dan sering melakukan kekerasan, verbal atau lainnya.


Bebal: Tidak bisa atau tidak mau diberi tahu atau diberi saran, merasa diintervensi, Merasa orang lain terlalu ikut campur.


Utopis: idealisme yang kebablasan, menuntut sistem sosial politik yang sempurna yang hanya ada dalam bayangan (khayalan) dan sulit atau tidak mungkin diwujudkan dalam kenyataan.



3.

Fanatik: sikap atau perilaku antusiasme berlebihan dan pengabdian tidak kritis yang intens terhadap beberapa masalah kontroversial seperti misalnya dalam agama atau politik.


Primordial: menjunjung tinggi ikatan sosial yang bersumber dari etnik, ras, tradisi dan kebudayaan yang dibawa sejak seorang individu baru dilahirkan.


Konservatif: cenderung enggan menerima perubahan, cenderung mempertahankan kebiasaan atau tradisi meskipun tidak relevan lagi, cenderung memisahkan diri dari pihak luar.



4. 

Realistis: cenderung mudah beradaptasi, mudah menerima kenyataan, tidak keras kepala dan bebal, cenderung fleksibel dan suka mengalir menyesuaikan arus.


Imajinatif: cenderung banyak pertimbangan, penurut, ingin tahu banyak hal, diam-diam berpikir, dan merenungkan hal yang menarik.


Harmoni: tidak suka pertentangan, konflik, pertengkaran, perebutan, menghindari konfrontasi. Menyukai keselarasan, kedamaian, kerukunan, mendahulukan negosiasi.

Jumat, 12 November 2021

,

 


Tentang sekumpulan orang yang memiliki masalah terutama ketidaktahuan, tidak atau belum mengetahui bagaimana proses mereka harusnya dijalankan. Diakui atau tidak, permainan strategi merepresentasikan dinamika persaingan dalam organisasi. 


Teori permainan dapat digunakan untuk membedah strategi dan psikologi perilaku para pemain dalam persaingan. Tujuannya untuk memahami logika bawah sadar perilaku persaingan dalam organisasi. Selain itu, bisa juga mengambil pelajaran, serta membantu untuk menentukan langkah terbaik untuk menemukan kemenangan versi masing-masing.


Meskipun permainannya sederhana, tetapi menuntut pertimbangan strategis yang kompleks. Belum lagi proses psikologis yang terjadi dalam permainan yang mempertaruhkan mental. Sesederhana apapun prosesnya, tetapi seseorang HARUS memutuskan sebanyak apa energi yang akan disalurkan, dimana menempatkan posisi, di posisi dan arena yang ramai tapi banyak pesaing, atau di posisi dan arena sepi yang minim pesaing.


Banyak pemain di organisasi yang awalnya coba-coba, melakukan eksplorasi. Ada yang akhirnya berhenti, ada juga yang kembali ke dalam permainan walaupun mengetahui risikonya. Dunia organisasi, terutama organisasi ekstra, penuh dengan kejutan dan KETIDAKPASTIAN. Bahkan, bisa ada kemungkinan yang awalnya kawan akhirnya menjadi lawan. 


Teori permainan adalah cabang matematika terapan yang apabila digunakan untuk membedah strategi dalam dinamika organisasi, dapat membedah interaksi perilaku permainan para pemain dimana hasil interaksi yang diperoleh bergantung pada KEPENTINGAN masing-masing pelaku permainan. Berbeda dengan benda yang tidak memiliki kepentingan, manusia penuh dengan kepentingan. Dengan kepentingan itu, para pemain akan mengantisipasi gerakan pemain lainnya.


Salah satu konsep dalam teori permainan adalah bahwa terdapat situasi dimana nilai keuntungan yang diperoleh oleh satu pihak sama dengan nilai kerugian yang dialami oleh pihak lain. Dalam suatu permainan, hasil yang diperebutkan nilainya sama dan tetap. Total potensi keuntungan yang bisa diperoleh dari permainan sudah ditetapkan, berapapun jumlah pemainnya. 


Oleh karena itu, keputusan pertama yang harus diambil dalam permainan adalah mau masuk ke arena permainan yang mana. Setelah itu, memperkirakan berapa jumlah pemain yang sudah bermain di arena tersebut. Siapa mereka dan seberapa mudah pemain lain bisa masuk. Semakin tepat memilih arena permainan, semakin besar keberhasilan yang akan diperoleh. 


Dalam persaingan, keputusan dari satu pemain akan berdampak pada pemain lainnya. Nasib dari para pemain saling bergantung pada keputusan yang diambil masing-masing. Sebelum melangkah, pemain harus mempertimbangkan bagaimana pemain lain akan meresponnya. Sejauh mana respons mereka akan menguntungkan atau malah berpotensi merugikan.


Persaingan tidak selalu bisa dilihat secara utuh, justru banyak ketidakjelasan dan ketidakpastian. Jika ada 2 pemain yang berada dalam kondisi sama-sama tidak mengetahui kondisi masing-masing. Mereka sama-sama berpotensi untuk mendapatkan keuntungan atau kerugian. Pada dasarnya, tiap pemain lebih peduli dengan dirinya sendiri. Pemain diberikan 3 pilihan. Di antara 3 pilihan, masing-masing cenderung mengambil pilihan di tengah-tengah untuk mencegah kemungkinan terburuk. 


Kenyataannya, persaingan dalam permainan seringkali melibatkan lebih dari 2 pemain dan bisa saling berkomunikasi satu sama lain. 3 atau lebih pemain misalnya, terlibat persaingan dalam permainan. Peluang yang dimiliki setiap pemain sama. Menang sendirian adalah hasil terbaik, sedangkan kalah sendirian adalah hasil terburuk. Alternatif lain dari keduanya bisa menang bersama dengan membuat kesepakatan. Meskipun bukan hasil terbaik, tapi bisa dianggap masih ideal. Ada juga kemungkinan yang bukan terbaik, bukan terburuk, tapi tidak ideal, yaitu 2 pemain berkoalisi untuk mengalahkan 1 pemain. 


Persaingan memang terkesan brutal, kejam, dan melelahkan. Itulah kenyataannya. 


Apakah ada yang bisa dilakukan untuk tidak terjebak persaingan dalam permainan yang melelahkan? 

Menciptakan arena permainan baru

Mengubah aturan main, dari mengalahkan orang lain menjadi mengalahkan diri sendiri

Abaikan persaingan, fokus peduli pada pelayanan

Minggu, 07 November 2021

,

Materi ini adalah adaptasi dari berbagai sumber, untuk keperluan pembelajaran

Strategic alliance is an agreement between two or more individuals or entities stating that the involved parties will act in a certain way in order to achieve a common goal. Strategic alliances usually make sense when the parties involved have complementary strengths


Aliansi strategis adalah kesepakatan antara dua atau lebih individu atau entitas yang menyatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat akan bertindak dengan cara tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Aliansi strategis biasanya masuk akal ketika pihak-pihak yang terlibat memiliki kekuatan yang saling melengkapi

 

KADERISASI INFORMAL memiliki posisi sentral dalam sistem kaderisasi. (MQA)


Dalam konteks pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia, kaderisasi Informal penting dipandang sebagai unit perhatian maupun fokus pemberdayaan. Posisinya yang strategis membuat kaderisasi informal ‘diperebutkan’ oleh banyak kalangan yang menyadari posisinya. (MQA)


Aliansi (alliance) atau ‘persekutuan’ dapat diartikan sebagai kumpulan perseorangan, kelompok atau organisasi yang memiliki sumberdaya (sarana, prasarana, dana, keahlian, akses, pengaruh, informasi) yang bersedia dan kemudian terlibat aktif mengambil peran atau menjalankan fungsi dan tugas tertentu dalam suatu rangkaian kegiatan yang terpadu (Topatimasang et al, 2000). Dengan kata lain, aliansi adalah sebuah jaringan kerja (networking) antar lintas yang memiliki keahlian dan sumberdaya berbeda namun memiliki komitmen dan agenda yang sejalan.


Dapat dibedakan ALIANSI STRATEGIS dan ALIANSI TAKTIS. 


1.


Aliansi Strategis menunjuk pada ‘sekutu dekat’ atau ‘lingkar inti’. Mereka tergabung dalam Garis Pertama (First Line) dan Garis Depan (Front Line) yang bertugas sebagai penggagas, pemrakarsa, pendiri, penggerak utama, sekaligus penentu dan pengendali arah kebijakan dari sebuah aliansi. (MQA)


2.


Aliansi Taktis menunjuk pada ‘sekutu jauh’ atau ‘lingkar luar’ yang seringkali tidak terlibat langsung dalam kegiatan aliansi. Mereka umumnya tergabung dalam Satuan Pendukung (supporting unit) dan yang bertugas membantu penyediaan sarana, logistik, data dan kader yang dibutuhkan oleh lingkar inti.



TUGAS ALIANSI



Sedikitnya ada tiga tugas utama yang dapat dilakukan oleh sebuah aliansi:


1. Menganalisis isu-isu. Isu-isu strategis ini secara berkala dianalisis dan kemudian ditetapkan satu-persatu isu yang akan dijadikan rencana operasi. Sedikitnya ada beberapa karakteristik berkenaan dengan isu-isu strategis:


· Isu tersebut bersifat aktual dan relevan.


· Sejalan dengan prioritas atau tingkat urgensi kepentingan internal.


· Sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan sejalan dengan visi serta agenda perubahan sosial.


· Mempertimbangkan kemungkinan keberhasilan. Dapatkah isu tersebut direspon melalui aliansi?



2 . Merumuskan grand design dan grand strategy program-program pengembangan sumber daya manusia. Parameter yang dapat digunakan dalam membuat desain dan strategi besar program dapat mengacu pada prinsip SMART yang secara harafiah bisa diartikan sebagai CERDAS. SMART merupakan akronim dari: 


· Specific (khusus dan terfokus).


· Measurable (terukur).


· Achievable (dapat dicapai).


· Realistic (sesuai dengan sumber dan kemampuan yang ada).


· Time-bound (memiliki batasan waktu yang jelas).


3. Melakukan advokasi terhadap kebijakan-kebijakan publik. Advokasi dapat dilakukan baik terhadap kebijakan yang dianggap menunjang maupun menghambat proses pengembangan sumber daya manusia.


· Advokasi adalah upaya untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui berbagai bentuk komunikasi persuasif.


· Advokasi berkaitan dengan strategi memenangkan argumen dan mengubah perilaku.


· Advokasi adalah sebuah proses yang melibatkan seperangkat tindakan politis yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisir untuk mentransformasikan hubungan-hubungan kekuasaan.


· Tujuan advokasi adalah untuk mencapai perubahan kebijakan tertentu yang bermanfaat bagi penduduk yang terlibat dalam proses tersebut.


· Advokasi yang efektif dilakukan sesuai dengan rencana stategis dan dalam kerangka waktu yang masuk akal (Suharto, 2004b)


PRINSIP



Orang-orang yang tergabung dalam jaringan sekutu ini dapat saja memiliki pandangan dan bahkan ‘ideologi politik’ yang bersebrangan dengan lingkar inti. Meskipun para anggota aliansi berasal dari berbagai organisasi yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang berlainan, tidak berarti bahwa sebuah aliansi sangat sulit menyatukan langkah dan tujuan. Beberapa prinsip di bawah ini dapat dijadikan acuan dalam membentuk aliansi.



1. Carilah persamaan visi, bukan perbedaan kepentingan. Mulai dengan berbaik sangka.

2. Gagaskan capaian-capaian kecil terlebih dahulu. “Trust your hopes, not fear.”

3. Kerjakan kegiatan-kegiatan seperti yang telah direncanakan. “If we fail to plan, we plan to fail.”

4. Jadikan isyu yang telah disepakati sebagai inti gerakan dan tetaplah berpijak pada isyu tersebut.

5. Senantiasa terbuka terhadap pandangan lain. Bersedia bermufakat. Senantiasa memiliki semangat win-win negotiation.

6. Dinamis dan inovatif. Tidak mandeg dan tidak puas dengan capaian yang lalu. Berusaha terus menerus menggagas temuan-temuan baru. Merancang rencana aksi baru.

7. Menyempurnakan kemenangan-kemenangan terdahulu.



PROSES 



Manakala prinsip-prinsip di atas telah mampu dipenuhi, berbagai orang dari kelompok yang berlainan dapat bekerja sama mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks ini, kelompok lingkar inti tidak perlu menutup diri. Kelompok inti dapat mengajak berbagai pihak menjadi anggota sekutu sesuai dengan dukungan dan sumberdaya yang dimilikinya. Proses pembentukan sebuah aliansi dapat melalui tahapan sebagai berikut:


1. Mencari fokus yang akan dijadikan agenda utama aliansi. Elaborasi isyu-isyu krusial dalam pemberdayaan kader. Fokuskan sasaran utamanya.

2. Mengidentifikasi stakeholders dan mengeksplorasi pihak-pihak yang potensial menjadi pendukung dan penentang agenda aliansi. Lakukan stakeholders analysis:

· Siapa stakeholder inti yang tertarik pada wacana pemberdayaan keluarga?


· Apa alasan stakeholder tertarik pada wacana tersebut?


· Bagaimana posisi mereka saat ini (mendukung, netral, menentang)?


· Seberapa besar tingkat pengaruh mereka terhadap aliansi (tinggi, sedang, rendah)?


· Apa sumber yang dimiliki stakeholder?


· Dimana posisi stakeholder yang paling tepat (Garis Pertama, Pendukung atau Garis Depan)?


Analisis "stakeholders" mutlak diperlukan dengan cara mengidentifikasi kawan-lawan. Skema pemetaan kawan-lawan bukan berarti menyebar kebencian. Tapi, untuk menarik garis demarkasi ideologis dan membangun kewaspadaan. Sangat penting untuk menegaskan identitas aliansi.


3. Menyamakan dan mempertajam visi bersama. Sepakati tujuan dan strategi yang akan digunakan dalam mencapai visi.

4. Mobilisasi sumber-sumber yang diperlukan aliansi. Apa? Dimana? Seberapa besar? \ Bagaimana mengaksesnya? Bagaimana mengoptimalkannya?

5. Mulailah bekerja sesuai rencana. Sistematis. Konsisten. Bertahap maju.


WASPADA

Rabu, 03 November 2021

,

 Hampir setiap kisah, baik kisah nyata maupun rekaan, adalah kisah tentang hubungan satu rumpun keluarga, atau silsilah nasab, dan tentang hubungan satu perguruan, atau silsilah sanad. 


Kita juga bisa menyebut kisah-kisah tersebut sebagai hubungan genetik dan genealogis.


Dengan kata lain, alur cerita ujung-ujungnya berputar di sekitar keluarga yang itu-itu saja, dan berputar di sekitar guru yang itu-itu saja. 


Pertanyaannya hanya berujung kepada

Anaknya siapa?

dan

Muridnya siapa?


Namanya alur cerita, tokohnya secara umum dapat dibagi menjadi tokoh protagonis dan antagonis.


Kalau kita tengok ke masa lalu, zaman para nabi dan rasul, cerita berujung antara Ibrahim dengan Namrud, Musa dengan Fir'aun, antara Daud dengan Jalut, dan seterusnya.


Sejak saat itu, bahkan sampai sekarang, tokoh di tingkat lokal dan tokoh besar tingkat dunia, pasti punya hubungan, entah hubungan keluarga, atau hubungan perguruan, atau keduanya.


Para pendakwah yang paling berhasil, Walisongo, misalnya, semuanya punya hubungan entah hubungan silsilah nasab keluarga atau silsilah sanad keilmuan, atau keduanya.


Pada zamannya, para Sultan di Nusantara, merupakan murid-murid Sunan Giri. Pada zamannya pula, anak-anak Raja Brawijaya V merupakan murid-murid Sunan Kalijaga.


Dalam kisah fiktif juga tidak terlalu berbeda. Entah kisah Luffy atau Naruto. Di One Piece, alur ceritanya hanya berkisar antara keturunan inisial D, Tenryuubito, Shichibukai, dan Angkatan Laut.


Desa Konoha juga begitu. Ada pendiri desa sekaligus hokage pertama. Hokage kedua adalah adik dari hokage pertama. Hokage ketiga adalah murid dari hokage pertama. Hokage keempat adalah murid dari hokage ketiga. Hokage kelima adalah cucu dari hokage pertama. Hokage keenam adalah murid dari hokage keempat. Hokage ketujuh adalah anak dari hokage keempat. Belum tokoh yang lain.


Pelajaran apa yang dapat diambil? Entahlah, silakan tafsirkan sendiri. Tulisan ini masih belum selesai. Tulisan ini masih bersambung......

Sabtu, 30 Oktober 2021

,

Tulisan ini adalah catatan hasil diskusi, atau yang lebih tepat disebut saling berbagi kegelisahan, antara saya dan beberapa teman saya. Ada yang sedang berada di Jember, Malang, Surabaya, dan Yogyakarta. Kami saling berbagi kegelisahan tentang kecenderungan rendahnya atau menurunnya minat mahasiswa dalam penelitian.


Perguruan tinggi umumnya dianggap sebagai salah satu lembaga paling penting untuk pengembangan intelektual di masyarakat. Jumlah prestasi akademik yang diraih oleh para mahasiswa ini menunjukkan intelektualitas mereka. Selain angka IPK, prestasi juga bisa dalam bidang penelitian. Kami menyayangkan, minat mahasiswa untuk melakukan penelitian saat ini tampaknya sedang surut.


Penelitian, padahal, adalah salah satu dari tri dharma pendidikan tinggi. Karena dari penelitian ini penemuan-penemuan baru dapat dikembangkan untuk mengatasi berbagai masalah aktual di masyarakat.


Kami menduga bahwa pemahaman dan kesadaran tentang perlunya penelitian sebagai bagian dari pengembangan dan pendewasaan intelektual muda, adalah salah satu faktor yang menyebabkan minat mahasiswa terhadap penelitian masih rendah. Selain itu, apabila semangat bersaing dalam penelitian rendah, dapat menimbulkan ketakutan atau kekhawatiran jika gagal.


Menurut kami, banyak dari mahasiswa menganggap penelitian seolah kemewahan intelektual yang hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang tertentu. Pada kenyataannya, ada banyak lomba untuk mahasiswa di bidang penelitian. Bisa dikatakan tiap bulan ada lomba karya tulis ilmiah, atau bahkan bisa lebih dari itu, misalnya ada LKTI tiap dua pekan sekali. Sayangnya, ada kecenderungan mahasiswa sedikit yang hobi menulis, apalagi belajar penelitian.


Dugaan kami, salah satu penyebab belum berkembangnya minat anak-anak muda ini mungkin kurangnya sarana dan akses pendukung. Dalam pengamatan kami, tidak banyak ditemukan komunitas studi mahasiswa baik itu di kampus-kampus Yogyakarta maupun di daerah lain seperti Surabaya, Malang, dan Jember. Selain itu, menurut pengamatan kami, mahasiswa lebih berminat membentuk komunitas hobi, alih-alih komunitas studi.


Hal ini terlihat dari semakin banyaknya komunitas hobi di kampus yang menunjukkan bahwa mahasiswa lebih terpuaskan dengan hal-hal seperti hiburan dan penyaluran hobi. Minat dan kemampuan mahasiswa perlu diwadahi lebih banyak lagi secara lebih terbuka di kampus, khususnya dalam bidang penelitian, demi ekosistem yang mendukung terhadap penelitian.


Kami mengaku kesulitan menemukan dan merekrut mahasiswa yang tertarik sungguhan dengan penelitian di berbagai program studi. Menurut pengakuan kami, saat ini hanya bisa dihitung jari yang berminat dalam penelitian.


Perlu kiranya membudidayakan komunitas studi demi mendukung ekosistem yang mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan penelitian. Komitmen bersama diperlukan dalam melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas penelitian mahasiswa. 


Kami masih percaya bahwa membudidayakan komunitas studi akan menjadi penunjang untuk mengembangkan minat penelitian. Sekian kegelisahan kami. Semoga kegelisahan kami berubah menjadi kegelisahan kita, supaya bisa bersama membangun ekosistem yang mendukung penelitian. 

Jumat, 29 Oktober 2021

,

Tulisan ini adalah hasil diskusi saya dengan beberapa orang yang punya pengalaman beberapa kali menjadi instruktur dalam kegiatan pelatihan di organisasi kemahasiswaan.


Anda mungkin pernah mendengar salah satu buku terlaris Malcolm Gladwell "Outliers," yang mempopulerkan aturan 10.000 jam. Aturannya, menurut Gladwell, adalah penguasaan kemampuan dan materi yang rumit membutuhkan 10.000 jam latihan intensif.


Anders Ericsson mengacu pada aturan 10.000 jam sebagai "generalisasi yang mengejutkan." Gladwell mengutip studi Ericsson tentang musisi ahli sebagai dasar untuk aturan tersebut. Menurut Ericsson, aturan tersebut merupakan penyederhanaan yang berlebihan dan interpretasi yang tidak akurat dari temuannya dalam banyak aspek. Aturan 10.000 Jam mudah diingat dan mudah diingat, tetapi didasarkan pada landasan ilmiah yang meragukan.


Pertama dan terpenting, menurut Ericsson, angka 10.000 benar-benar sewenang-wenang. Ini mudah diingat dan menarik, tetapi sebenarnya tidak didasarkan pada sesuatu yang bermakna. Ini adalah jumlah jam yang dihabiskan oleh para pemain biola berbakat ini pada saat mereka berusia 20 tahun. Mereka telah menghabiskan rata-rata 7.400 jam pada usia 18 tahun. Meskipun mereka cukup terampil bermain biola pada usia 20 tahun, dan pasti dalam perjalanan ke puncak bidang mereka, mereka jauh dari ahli.


Jika Gladwell mengajukan aturan 10.000 jam untuk menjadi ahli, saya dapat mengajukan aturan 1.000 jam terbang untuk bisa menjadi instruktur yang berpengalaman. Seperti kata Ericsson, 1.000 jam ini bisa dibilang sewenang-wenang. Tetapi angka ini saya dapat setelah diskusi bersama beberapa sahabat saya, meskipun tentu saja 1.000 jam saja belum cukup tanpa dilengkapi dengan faktor lain.


Latihan yang terarah adalah cara paling efektif untuk meningkatkan kemampuan. Ini memerlukan melakukan kegiatan yang direkomendasikan oleh para peneliti untuk mengembangkan kemampuan tertentu, mengidentifikasi kelemahan dan bekerja untuk memperbaikinya, dan dengan sengaja mendorong diri Anda keluar dari zona nyaman Anda. Ericsson berkata bahwa penting untuk membedakan antara latihan bertujuan yang terfokus pada tujuan tertentu dan latihan umum, karena tidak semua jenis latihan menghasilkan kemampuan yang lebih besar. Seseorang mendapatkan manfaat dari menyesuaikan eksekusinya berulang kali untuk lebih dekat dengan tujuannya, bukan melalui pengulangan mekanis. Artinya, mengulang cara yang sama sampai 1.000 jam pun, hasilnya akan sama apabila tidak ada pengarahan dan perbaikan.


Latihan yang terarah sering dipandu dengan seorang yang lebih berpengalaman, pelatih yang terampil, atau mentor, seseorang dengan pandangan yang lebih cermat. Instruktur yang lebih berpengalaman atau mentor ini menawarkan umpan balik tentang cara khusus untuk meningkatkan, dan tanpa umpan balik seperti itu, seseorang tidak akan mencapai puncak. Umpan balik penting dan konsentrasi juga penting – bukan hanya jam, bukan hanya seberapa lama atau seberapa sering.


Jelas tidak akan sama untuk bereksperimen sendiri selama 1.000 jam untuk menjadi lebih baik dalam pelatihan dan seperti halnya berlatih dengan seorang yang lebih berpengalaman selama 1.000 jam, siapa yang memberi petunjuk tentang prosedur dan teknik dan membantu menjadi lebih baik, tentu saja orang yang lebih berpengalaman. 


Faktor genetik, tentu saja, berperan juga. Sudah banyak riset, studi, atau penelitian tentang ini. Orang yang berasal dari keluarga guru atau pengajar cenderung lebih cepat belajar dan berhasil menjadi instruktur daripada yang punya latar belakang keluarga yang berbeda. Bahkan dengan 1.000 jam latihan, tidak semua orang bisa menjadi instruktur yang terampil. Untuk menjadi master di suatu area, diperlukan beberapa kemampuan intrinsik.


Terlepas dari nasihat sejak lama untuk "menjauhkan emosi darinya", sains telah membuktikan bahwa emosi memainkan peran penting dalam pembelajaran. Seseorang harus menciptakan kondisi biologis terbaik untuk belajar agar dapat berlatih dan berkembang secara efektif. 


Latihan mental ternyata sangat kuat. Baik seseorang sedang belajar dan mempraktikkan keterampilan baru, atau bersiap untuk pertunjukan, penelitian telah menemukan bahwa latihan mental sangat efektif. Latihan mental memiliki kekuatan yang luar biasa. Latihan mental telah terbukti sangat membantu dalam mempelajari dan mempraktikkan keterampilan baru atau mempersiapkan pertunjukan.


Motivasi adalah satu-satunya faktor terpenting dalam berlatih, berlatih, dan berlatih, dan terus berlatih. Tanpa motivasi yang konsisten, latihan akan kehilangan konsentrasi atau ditinggalkan begitu saja. Ketika tujuan dikaitkan dengan tujuan yang lebih besar dan cita-cita jangka panjang, praktik mengambil makna dan relevansi baru


Seseorang yang memilih belajar lebih keras dengan mengesampingkan rasa nyaman bisa mendapatkan hasil lebih efektif. Seseorang yang berhasil berjuang lebih untuk menekuni teknik belajar juga cenderung punya mental yang tangguh. 


Kesimpulannya, dari diskusi tersebut, untuk menjadi instruktur yang terampil, butuh 1.000 jam terbang dengan rincian 500 jam pembinaan dan 500 jam penugasan yang itu setara dengan minimal 4 kali kegiatan pelatihan, latihan terarah dengan pengarahan instruktur yang lebih berpengalaman, faktor genetik, memainkan emosi, latihan mental, motivasi jangka panjang, dan belajar lebih keras. Selamat menjadi instruktur, selamat berlatih dan melatih. 

Selasa, 19 Oktober 2021

,

 Kamu mungkin tau kalau saya anak pertama. Saya tidak punya kakak, baik Mas maupun Mbak. Yang saya maksud Mas dan Mbak adalah beberapa orang yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri. Kadang, atau bahkan seringkali, saya menemukan di dalam diri mereka, sosok yang bisa sewaktu-waktu berperan sebagai orang tua saya.


Tentu saya bisa merasakan kecocokan dengan mereka karena banyak hal yang mirip dari kami. Dari kepribadian, hobi, minat, dan beberapa hal lain yang mirip, membuat saya nyambung banget sama mereka. Mereka tentunya cerdas, pintar, dan sudah sukses di mata orang lain. Saya belum sekomplit itu.


Entah apakah saya nantinya ketika sudah sukses di mata orang lain, saat itu yang bernama dengan saya, kamu atau orang lain. Hanya detik yang bisa menjawab. 


Mungkin sebagian orang sudah tau kalau saya itu pemilih alias selektif. Saya juga punya banyak hal di dunia saya yang saya rasa penting sekali untuk saya perjuangkan. Waktu saya terbatas. Energi saya sudah banyak saya salurkan untuk berjuang. Saya tidak bisa, dan tidak mau, membuang waktu dan energi saya secara percuma, untuk suatu hubungan yang belum segera ada kejelasan dan kepastian. Saya tidak mau berurusan dengan drama hubungan yang tidak penting. Mending saya berurusan dengan drama Korea atau drama Turki. 


Saya juga tidak punya banyak waktu untuk ketemu untuk sekedar basa-basi tanpa ada topik tertentu yang dibicarakan tentang rencana masa depan. Saya tidak punya banyak waktu untuk lama-lama melakukan panggilan video atau VC. Chattingan dari larut malam sampai pagi juga saya tidak bisa fokus hanya untuk itu. 


Pelan-pelan bukan berarti lama-lama. Hati-hati bukan berarti nunggu-nunggu. Saya bukan orang yang asal pilih atau mudah memilih. Tapi sekali berencana untuk menetapkan pilihan, insyaallah siap komitmen sampai tuntas. 


Karena saya pemilih, selektif, orang-orang, termasuk dalam konteks hubungan serius antara laki-laki dan perempuan, jumlahnya sedikit yang masuk selera. Kamu bisa dibilang salah satu yang menggugah selera saya. Kamu bisa dibilang salah satu orang yang membuat saya tertarik. 


Saya jelas tidak tertarik dengan orang-orang, khususnya dalam hal ini perempuan, yang hanya akan mengandalkan tampilan fisik saja. Atau orang yang masih kekanak-kanakan dalam bersikap. Itu semua belum tentu bisa untuk mendukung bayar tagihan dan cicilan. Saya hanya tertarik dengan orang-orang dengan kriteria tertentu antara lain seperti bisa diajak kerjasama, berbagi peran, saling mendorong, dan sejenisnya. 


Sekali lagi, tidak ada banyak waktu untuk berurusan dengan drama tidak penting

Kamis, 12 Agustus 2021

,

 


Tidak sedikit orang yang diminta untuk menjadi narasumber atau untuk permohonan dana merasa bahwa anggota panitia yang bertugas, biasanya di bagian humas, dianggap kurang sopan, dianggap kurang etis.


Kejadian seperti ini sering terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang etika berkomunikasi. Ditambah juga narasi tentang pentingnya memperluas jejaring namun sayangnya tidak diimbangi keinginan membangun hubungan yang sama-sama memberi manfaat bagi kedua pihak.


Sehingga yang terjadi adalah terlalu sering melakukan jejaring, tapi tidak memanusiakan hubungan yang ingin dibangun. Kalau istilahnya itu langsung nodong, langsung nembak, tanpa membangun emosional dulu. Perlu dipertimbangkan apakah manfaat yang dirasakan itu timbal balik atau tidak, sebab hubungan seseorang itu bukan cuma soal ia sendiri, melainkan juga tentang orang lain.


Beberapa kiat dalam menghubungi seseorang untuk menjadi narasumber atau mengajukan permohonan dana, antara lain


1. Dahulukan dan utamakan sopan santun, paling tidak dengan cara salam dulu, terus tau diri, tau posisi, serta perhatikan tempat, saluran, waktu.


2. Perkenalan dasar, seperti memperkenalkan diri seperti nama dan sebagai apa. Pastikan juga jenis kelamin yang dihubungi apakah laki-laki atau perempuan. Jangan sampai memanggil Mas atau Pak kepada perempuan atau memanggil Mbak atau Bu kepada laki-laki. Jika orang yang dihubungi masih muda, bisa menggunakan kata yang netral gender seperti Kak.


3. Berusahalah membuka obrolanr ingan yang menarik minat beliau atau tentang kegiatan sehari-hari. Bisa sebelumnya sambil dicari di akun media sosial tentang apa yang menjadi minat atau kegiatan sehari-harinya.


4. Cari tau atau tanyakan lebih suka dihubungi lewat apa, apakah telepon, pesan teks, DM, atau lainnya. Kalau sekiranya lebih suka dihubungi lewat pesan teks, dan ternyata malah ditelepon, bisa menimbulkan rasa malas untuk menanggapi.


5. Persiapkan dengan baik, minimal dengan mengetahui dan memahami dengan baik acara yang diadakan, seperti tema acara, tujuannya, materinya, dll.



Anda sopan, kami segan. Saya menulis tulisan ini bukan berarti lebih mahir, hanya berbagi saran. Tulisan ini utamanya ditujukan untuk diri saya sendiri dan panitia pelaksana kegiatan yang masih pemula dalam berproses di organisasi.


Selasa, 10 Agustus 2021

,

 


Kehidupan pribadi tak semuanya hanya urusan pribadi, sendiri. Apalagi, ketika pribadi satu dengan pribadi lainnya berinteraksi, pribadi itu berurusan dengan urusan yang melibatkan lebih dari satu pihak. Terlebih apabila antar pribadi itu berinteraksi dalam satu wadah, melakukan praktik dalam berorganisasi, maka diperlukan alat untuk melihat, melihat dengan penglihatan yang tidak sempit, sudut pandang yang lebih luas.


Buku sudah banyak ditulis oleh para pakar. Bahan bacaan juga lebih bervariasi seiring perkembangan internet. Jika literatur yang mudah diakses itu tidak dipraktikkan, maka bahan bacaan tetap akan menjadi mentah, tanpa pernah diolah. Sebanyak apapun alat penglihatan, sebanyak apapun teori yang tersedia untuk memandang persoalan, apabila tidak dipraktikkan, akhirnya lumpuh juga.


Sebaliknya, apabila praktik yang dilakukan tidak ada rujukan teori, padahal sudah banyak ahli yang menuliskannya dalam karya mereka, maka arah akan menjadi buram, kabur, dan tidak jelas. Penglihatan menjadi buta, asal jalan tak tahu mau dibawa kemana. Fakta, konsep, prinsip, dan prosedur di dalam operasional sehari-hari, hanya hasil karangan, coba-coba, yang penting terlaksana, yang penting terealisasi, mengandalkan asumsi, imajinasi, atau bahkan halusinasi.


Pada dasarnya, dalam realitas keseharian, teori dan praktik memang sering tidak berjalan beriringan. Akan tetapi, itu bukan alasan untuk melanggengkan kecenderungan atau tren yang salah kaprah. Itu juga bukan alasan untuk lebih rela hanyut dalam arus (seolah-olah) kewajaran. Justru bagaimana praktik itu, meskipun tidak sepenuhnya seiring dengan teori, terapi mendekati, karena memang didasari oleh pertimbangan berbasis fakta yang teramati secara nyata, konsep yang dirancang secara utuh, prinsip yang dibangun secara kokoh, dan prosedur yang disusun secara sistematis.


Jika tidak, maka praktik buta akan cenderung menimbulkan opini negatif, pandangan sinis, dan interpretasi liar. Oleh karenanya, mempraktikkan teori penting agar tidak lumpuh, kemudian ditambah praktik yang menggunakan teori yang memiliki rujukan otoritatif untuk melengkapi. Selanjutnya, keputusan yang diambil lebih bisa diterima dengan baik oleh segenap pemangku kepentingan.


Sangat perlu, penting, dan mendesak, keseimbangan antara teori dan praktik, antara praktik dengan teori. Apalagi jika itu menyangkut pengambilan keputusan atau kebijakan yang berkaitan langsung dengan banyak orang. Terlalu banyak teori, atau malah teorinya tidak utuh, akan menghasilkan suara sumbang saja. Praktik juga perlu disertai dengan banyak mendengar masukan, baik itu kuantitas pihak pemberi masukan, maupun kualitas pembisik. Dengan mendengar masukan yang berkualitas, praktik akan menjadi efektif dan efisien, keputusan yang diambil memuat kepastian, jelas dan terarah.

Rabu, 04 Agustus 2021

,

Kepada

Yth.

Saya sendiri

di masa kapanpun



Menjadi pelajar di perguruan tinggi itu privilese, kesempatan istimewa. Belajar sampai perguruan tinggi itu butuh biaya lebih. Sudah semestinya mengusahakan yang terbaik. Suatu saat, para pelajar lah yang akan menjadi pemimpin di negeri ini, pemimpin apapun itu.


Selain akademik, perlu juga keterampilan hidup, termasuk kemampuan beradaptasi, mengelola waktu, berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, serta meningkatkan kapasitas diri sehingga siap menjadi problem solver. Selain itu juga, perlu dimengerti bagaimana cara belajar efektif, berpikir kritis, kreatif, dan strategis.


Jangan hanya belajar di dalam ruang kuliah. Sayang sekali jika hanya belajar di dalam kelas saja. Kalau hanya mengandalkan kuliah di dalam ruang akademik, hanya akan keluar membawa sertifikat kelulusan dan ijazah saja. Hidup di masa mendatang Masa depan tidak hanya bergantung pada bukti di atas kertas.


Jangankan hidup setelah lulus, hidup sebelum lulus, di luar kelas, di organisasi saja, tidak mudah ditebak, sangat dinamis. Kalau di akademik perkuliahan, materi dan ujiannya terukur, ada kurikulum yang sudah tersusun dan terencana. Jadwalnya, butir soal, tugas per pertemuan, UTS, UAS, lebih mudah dipelajari daripada di luar kelas perkuliahan yang sudah harus siap terjun. 


Kalau di luar kelas perkuliahan, langsung terjun dan siap bertahan hidup. Karena itu, perlu belajar untuk memimpin, belajar menghadapi banyak orang, beragam isi kepala, menjadi bagian dari masyarakat ketika belum lulus kuliah.


Keterampilan teknis penting sebagai kemampuan awal. Tetapi keterampilan strategis, seperti jiwa kepemimpinan, menganalisis situasi dan lingkungan, mengelola hubungan dan komunikasi, itu bekal untuk menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas.


Nilai, IP, hasil di KHS, bukannya tidak penting. Penting sekali. IPK paling tidak 3,5 ke atas. Baru ketika nilai stabil, lengkapi dan sempurnakan dengan kemampuan dan kecakapan selain nilai yang berupa angka, dengan nilai yang bermakna.


Jaga nilainya, usahakan untuk lulus tepat waktu. Kalaupun tidak tepat waktu, jangan lama-lama sampai lebih dari 10 semester. Manfaatkan waktu di luar jadwal kuliah untuk kegiatan yang lain.


Selain kuliah, mempelajari mata kuliah yang sudah tersedia, intinya kompetensi yang sesuai dengan program studi. Jika program studi pendidikan, maka pelajari betul tentang ilmu pendidikan dan praktik mengajar. Selain kompetensi program studi, kalau bisa tambahi dengan kemampuan bahasa internasional seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab. Ketiga, kemampuan untuk melakukan penelitian, minimal mampu berpikir ilmiah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Syukur bisa melakukan penelitian dan menuliskannya ke dalam laporan penelitian.


Sebagaimana juga yang seringkali terjadi, bahwa kegiatan atau pekerjaan setelah lulus belum tentu relevan dengan program studi. Lulusan Tarbiyah belum tentu semua menjadi guru di sekolah atau madrasah. Oleh karena itu, yang penting dipersiapkan adalah kesiapan atau kemampuan beradaptasi. Beradaptasi dengan bidang yang berbeda atau malah betul-betul baru sama sekali.


Saya kira, tidak ada lulusan yang tidak memiliki penyesalan sama sekali. Sedikit banyak, ada rasa penyesalan. Tinggal bagaimana penyesalan itu tidak banyak. Sedikit saja penyesalan karena di masa sebelumnya seseorang sudah mengusahakan yang terbaik, meski ada beberapa yang tidak atau belum tercapai.


Saya sampaikan lagi. Saya ulangi, sebagaimana di pembukaan tadi.


Menjadi pelajar di perguruan tinggi itu privilese, kesempatan istimewa. Belajar sampai perguruan tinggi itu butuh biaya lebih. Sudah semestinya mengusahakan yang terbaik. Suatu saat, para pelajar lah yang akan menjadi pemimpin di negeri ini, pemimpin apapun itu.


Semoga berhasil dalam belajar, semoga berhasil dalam hidup. 

Senin, 19 Juli 2021

,

 



Seringkali, justru pertemuan yang meski tidak disengaja tapi tulus itu yang awet, bertahan lama. Saya baru sempat menulis surat ini setelah beberapa waktu ingin sekali menyimpan ingatan tentang perkenalan kita dari awal sampai sekarang.


Saya tertawa, lucu gimana gitu, saat ada yang bertanya, entah basa-basi atau memang penasaran ingin tahu, tentang mengapa saya sayang banget sama kamu. Tentunya jawaban awal dan paling sederhana karena kamu dari pertama sudah punya potensi daya tarik bagi saya, entah kesamaan, kemiripan, kedekatan, keakraban, kemampuan, dan timbal balik.


Dari latar belakang keluarga dan pendidikan, banyak persamaan antara kamu dengan saya. Secara intelektualitas misalnya, kamu punya tingkat kemiripan lebih dari lima puluh persen dengan saya. Itu semua membuat kita tak sulit untuk menemukan topik pembicaraan. Ada saja yang bisa kita bicarakan entah itu receh atau seperti bidang studi macam sejarah, pelajaran keagamaan, sains alam, atau lainnya. 


Kemudian potensi tadi dipupuk dengan komunikasi yang terbuka, hampir tanpa ada yang disembunyikan, hampir tak ada rasa sungkan. Lapar atau haus, tinggal bilang, mungkin bisa makan bareng entah beli atau masak. Uang habis, bisa saling pinjam atau kita cari pinjaman bareng. Betapapun rumit dan problematiknya, sampai kadang perlu untuk diam selama beberapa saat, ada waktu kemudian untuk berbagi keluh-kesah.  Jika ada yang keberatan dari salah satu pihak, bisa diselesaikan dengan penyampaian langsung, bukan malah curhat kepada orang lain. Sebab, mengetahui dari orangnya send masih lebih baik daripada tahu dari orang lain.


Pada perjalanannya, yang membuat perasaan itu menjadi sublim ialah, kita kemudian sama-sama menghendaki untuk menjadi dekat dan akrab satu sama lain. Itu hanya bisa dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan hanya sepihak yang nantinya hanya searah. Kedekatan dan keakraban bukan karena momentum tertentu soal kepentingan tertentu pula, melainkan karena muatan manusiawi sebagai manusia, sebagai makhluk sosial. Jadi, tidak terkesan 'diambil butuhnya' saja.


Selain itu, ada satu yang membuat saya, mungkin kamu juga, hampir mustahil melupakan dan terlupakan adalah karena kamu, dengan kerelaan, sering berjuang bersama dan memperjuangkan sesuatu yang sama dengan apa yang saya perjuangkan. Walaupun mungkin ada beberapa yang kita tidak sependapat, tetapi alangkah baiknya lebih menaruh perhatian terhadap perhatian yang lebih besar dan lebih mendasar.


Apa lagi ya. Mungkin sementara itu dulu yang bisa saya tulis tentang ingatan perkenalan dan alasan mengapa saya sayang banget sama kamu. Entah sampai kapan kebersamaan kita. Entah sampai kapan kita dapat sering bertemu, sering bicara, sering melakukan sesuatu bersama. Ketika kita nanti sudah saling jauh secara jarak dan waktu, semoga yang telah berlalu tidak terlewatkan begitu saja. 


Satu lagi hampir lupa. Ada yang membuat saya sayang banget sama kamu, dan saya belum siap untuk berjauhan adalah, karena kamu sering memunculkan ungkapan, yang jarang sekali orang lain akan mengungkapkan, terutama ungkapan kecil seperti kebiasaan, gaya bicara, dan lainnya. Orang sering menyebutnya sebagai titen, berupa kepekaan terhadap tanda-tanda atau ciri-ciri khas yang muncul dari seseorang, dalam hal ini, saya. Itu adalah kumpulan pengamatan yang berulang-ulang. 


Yang saya sesalkan adalah, kamu peka sekali dengan ungkapan-ungkapan kecil dari saya, tapi saya tidak bisa melakukan sebaliknya. Akhirnya, saya akan mengungkapkan ini. Saya tahu kalau kamu mengetahui dan menyadari ungkapan ini. Tapi saya mau mengungkapkannya sekali lagi. Saya sayang banget sama kamu.


Sabtu, 10 Juli 2021

,


Pengembangan diri harus diusahakan. Selain untuk peningkatan kecakapan, pengembangan diri juga akan memberi seseorang kebermaknaan dalam berproses. Sehingga tahapan yang dilalui tidak bergerak begitu-begitu saja.


Banyak versi saran atau nasihat untuk melalui tahapan-tahapan itu. Salah satunya, nasihat 4 tahapan yang akan saya bagikan:


1. Di tahun pertama berproses, fokus belajar, fokus ikut kajian, kepada 1 senior yang dianggap layak dan patut dijadikan mentor. Jangan malas mengambil kesempatan dan menimba ilmu darinya. Jangan malas belajar, mencari tahu, atau bertanya. Berproses tidak hanya berarti ikut acara formal atau seremonial. Manfaatkan baik-baik untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman darinya. Karena nanti setelah seseorang memasuki tahun berikutnya, waktu yang dimiliki untuk belajar tentunya tidak sebanyak saat seseorang masih belum terlibat di kepanitiaan. Saat seseorang di tahun pertama ini sering bertemu dengan orang yang lebih tua secara umur dan lebih senior secara pengalaman, ia jadi punya pandangan yang berbeda dari kebanyakan orang yang seumuran.


2. Di tahun kedua, pengalaman di kepanitiaan adalah kesempatan besar. Terlibat di kepanitiaan bisa dipertimbangkan sebelum menjadi pengurus. Setelah menimba banyak pengetahuan di tahun pertama, tahun kedua adalah masanya untuk mempraktikkan pengetahuan yang didapatkan sebelumnya, sambil sekaligus juga menambah pengetahuan dari sumber-sumber lainnya. Cobalah banyak hal. Tidak perlu khawatir berbuat kesalahan teknis. Membuat kesalahan tak jadi masalah karena seseorang di tahun kedua biasanya belum terlalu dianggap senior.


3. Di tahun ketiga, berlatih berpikir strategis dan mengambil keputusan. Setelah dua tahun berproses dengan bimbingan, pendampingan, dan arahan orang yang lebih senior, bekal seseorang sudah cukup banyak. Kondisi psikologis seseorang juga jauh lebih matang, apalagi setelah mengalami berbagai dinamika.


4. Di tahun keempat, biasanya seseorang sudah dianggap senior, hampir menjadi seperti sesepuh. Tidak perlu mencoba-coba hal baru, bukan waktunya eksplorasi. Membangun persepsi dan menjaga reputasi tidaklah mudah. Daripada mencari nama baru, lebih baik menjaga nama baik yang sudah ada. Tidak ada waktu untuk memulai dari awal lagi.



Setelah semuanya, di tahun kelima, seseorang bisa saja sudah lulus atau masih belum lulus. Bagaimanapun, seseorang di tahun kelima itu sudah renta. Saatnya memberi layar dan panggung kepada yang lebih muda, biarlah di tahun kelima cukup memberikan konsultasi saja.


Wariskan saja pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, dan mendukung gagasan-gagasan cemerlang yang junior itu programkan. Di tahun kelima sudah bukan lagi waktunya untuk memikirkan proses pribadi atau mengubah situasi dan kondisi. 


Keberhasilan dalam berproses tidak muncul dalam waktu sebentar. Semoga terinspirasi. 

,

 


Saya barusan, di tengah obrolan ringan, tiba-tiba sampai kepada obrolan tentang sebagian orang yang tidak bertahan (atau tidak dipertahankan) dalam sebuah organisasi, padahal, mereka dinilai berpotensi, bahkan sangat memiliki potensi. Terlepas dari dinamika organisasi dan persaingan antar individu, banyak faktor, banyak variabel, yang menyebabkan tidak bertahannya sebagian orang tersebut. Salah satunya yang paling saya ingat adalah soal kerjasama tim.


Sebagian orang yang berpotensi, entah secara intelektual yang dapat diamati setidaknya dari bagaimana mereka berpendapat dan mengajukan argumentasi, atau berpotensi karena mereka terlibat aktif dalam setiap kegiatan, tentu memiliki daya tarik tersendiri bagi orang lain. Daya tarik itu sekaligus menjadi semacam daya tawar mereka, untuk nantinya memainkan peran dan fungsi dalam organisasi. Akan tetapi, entah sebelum distribusi atau penempatan, atau di tengah jalan, sebagian dari mereka justru dianggap sebagai pihak yang menghambat kinerja organisasi.


Dalam perspektif kerjasama tim, fenomena tersebut, berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi saya, bukan karena mereka kurang membaca, kurang pintar, kurang cerdas, atau kekurangan intrapersonal mereka, yang hanya berkaitan dengan diri mereka sendiri, melainkan yang berkaitan dengan interpersonal, dengan orang lain. Sebab, berorganisasi berarti tidak hanya tentang pribadi, tetapi juga persoalan bersama.


Ada sebagian orang yang memiliki potensi, cerdas, aktif berpartisipasi. Di sisi lain, mereka independen, teguh memegang prinsip. Bahkan, tak jarang, terlalu independen dan terlalu teguh memegang prinsip. Padahal, seringkali berorganisasi bukan persoalan yang sifatnya independen pribadi, melainkan kolektif bersama, bukan sifatnya prinsipil, melainkan strategis.


Selain itu, dalam berorganisasi, tidaklah sempurna jika seseorang itu konseptor murni tanpa potensi eksekutor, atau eksekutor murni tanpa potensi konseptor. Perlu sama-sama dimiliki potensi keduanya meski tentu saja biasanya lebih dominan salah satunya. Sebab, eksekutor murni tanpa potensi konseptor hanya akan memiliki daya gertak tanpa antisipasi jangka panjang. Konseptor murni tanpa potensi eksekutor hanya akan fokus membangun tanpa pelaksanaan langkah nyata.


Karena berorganisasi seringkali berhadapan dengan yang sifatnya bukan prinsipil melainkan strategis, maka butuh kalkulasi konkret kerjasama tim melalui koordinasi. Di sinilah celah dari sebagian orang yang entah tidak mampu bertahan atau tidak bisa dipertahankan. Bahkan jika itu terjadi pada saya sendiri. Beda soal ketika bicara setelah selesai periode apakah akan melanjutkan atau berhenti di titik tertentu. Ini konteksnya adalah sebelum pemfungsian atau di tengah jalan.


Seseorang yang tidak bisa diatur, hampir mustahil bisa mengatur. Seseorang yang tidak bisa diperintah, hampir mustahil bisa memerintah. Seseorang yang tidak bisa diajari, hampir mustahil bisa mengajari. Yang terbiasa disiplin tidak akan betah dengan yang maunya membangkang. Namanya struktur atau hierarki, bukan tanggungjawab dan atas nama pribadi, melainkan tanggungjawab dan atas nama bersama. Meski dilema dan berat hati, tentu akhirnya melepaskan yang membangkang dan mempertahankan yang disiplin. Kepentingan internal bersama lebih diutamakan daripada kepentingan independensi pribadi.

Rabu, 07 Juli 2021

,

Kepada Junior Kami,

Seorang berbintang Libra


Dik, sekarang saya mau cerita perjalanan kami. Barusan kamu nyinggung soal Libra, kebetulan suami saya Libra. Jadi, bisa dibilang, saya istri dari seorang Libra.


Pertama kali saya kenal dengan suami saya, saya sudah sadar kalau suami saya itu beda banget dari orang lain, dari teman-temannya, bahkan dari semua laki-laki yang pernah saya kenal.


Waktu itu, alat komunikasi tidak secanggih sekarang. Jadi, kami bisa komunikasi, bisa ngobrol, paling bisa itu lewat ketemu langsung. Ketemu saja susah. Jadi, kami tidak sesering orang lain ketemunya. Lebih jarang.


Bahkan mungkin, seandainya kami di jaman ini masih muda, mungkin kami akan tetap jarang komunikasi satu sama lain, tidak se-intens orang lain. Sekarang saja, belum tentu dalam satu hari kami saling kirim pesan. 


Suami saya itu sering bepergian, sering menghilang. Saya tidak tau persisnya apa yang suami saya kerjakan. Tapi, saya sama sekali tidak merasa bahwa saya, yang disebut oleh anak sekarang sebagai di-ghost-ing. Sama sekali tidak. Karena memang, dari awal saya sudah sadar dan siap hidup bersamanya. Kami juga saling percaya satu sama lain.


Dia sering mengorbankan waktu bertemu orang-orang yang dia disayangi, terutama keluarganya sendiri, demi melakukan pekerjaan yang belum tentu bisa dilakukan orang lain. Namanya juga orangnya beda dari orang kebanyakan, mungkin pekerjaannya juga beda dari pekerjaan orang kebanyakan. Pekerjaan istimewa bagi orang istimewa. Mungkin sejenis itu.


Pergi sering tanpa pamit, pulangnya juga belum tentu bisa dipastikan kapan. Tidak hanya satu atau dua hari, bisa seminggu atau bahkan paling lama sebulan tidak ada kabar. Waktunya tidak ketemu kapan. Tempat atau lokasinya juga tidak ada pemberitahuan dimana. Bisa dalam satu kabupaten, luar kota, atau bahkan luar provinsi, luar pulau.


Tapi saya yakin, ia sangat ingin bisa sering berkumpul bersama kami, keluarganya. Ketika dia berkumpul bersama kami, dia jarang bicara dengan anak-anaknya. Dia memang jarang bicara kepada orang lain, hanya seperlunya saja. Hanya kepada saya, dia membahas tentang apa saja, kecuali pekerjaannya.


Intinya, kata-kata terakhir yang bisa saya tulis dalam surat ini adalah, bahwa kehidupan dua orang tidak semua bisa bertemu setiap hari. Ada, bahkan mungkin banyak, sebagian orang yang tidak setiap hari bisa bertemu. Hidup mereka seperti dilalui dengan gemuruh. Gemuruh yang berkecamuk, seringkali menyisakan perasaan ganjil yang mengganjal. Walaupun demikian, jangan pernah melepaskan mereka yang tinggal bersamamu, yang setia bertahan.