---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 28 Juli 2018

Pudarnya Akses Barokah dalam Zona Pendidikan Unggul



Oleh: Dasuki AF*

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini dengan system zonasi yang mewajibkan pihak sekolah untuk menerima calon peserta didik sedikitnya 90 persen yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah. Sistem ini akan lebih mempercepat pemerataan kualitas pendidikan. Anak yang kurang mampu secara ekonomi maupun secara akademik tetap dapat mengakses sekolah yang selama ini diperebutkan oleh peserta didik yang tinggal jauh. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2017 tentang PPDB yang ditunjukkan kepada pimpinan daerah seluruh Indonesia.

Sistem PPDB ini ternyata menuai polemik karena di beberapa daerah mulai dari system dan banyaknya Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang mengalokasikan minimal 20 persen dari kuota yang tersedia harus dicederai oleh pencaplokan orang kaya yang memilih jadi orang miskin sesaat disaat registrasi pada sekolah favorit sistem zonasi. Sangat disayangkan modus SKTM ikut menjadi daftar panjang persoalan dalam pendidikan baik pungutan liar, baku pukul antara guru dan peserta didik serta tawuran antar pelajar. Tidak berlebihan bila Darmaningtyas menyebut fenomena pendidikan itu dengan pendidikan rusak-rusakan.

Perebutan sekolah favorit memang hal yang lumrah namun cara-cara menipu tidak bisa dibiarkan, apalagi mengambil jatah orang miskin. Benar kata Eko Prasetyo dalam bukunya Orang Miskin Dilarang Sekolah bahwa para korban lagi-lagi adalah orang miskin yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini, kepercayaan atas pendidikan kian luntur, apalagi jaminan masa depannya juga kabur. Sekolah unggul atau favorit memang menjadi idaman banyak orang tua dan anak, terutama bagi masyarakat perkotaan yang hidupnya sudah mapan, selain prospek lulusan gengsi tinggi juga menjadi opsi fantastis.

Zainal Abidin yang menyelesaikan program Doktor di UIN Maliki Malang 2018 dalam disertasinya yang berjudul Strategi Pemasaran dalam Peningkatan Daya Saing Sekolah Islam memaparkan bahwa masyarakat semakin sadar jika pendidikan mahal atau berbiaya tinggi adalah pendidikan yang mapan dan berkualitas, maka secara logis orang beruaang dan sibuk pekerjaannya berani bayar berapapun uang sekolah asal anaknya bisa masuk, sementara sekolah gratis atau berbiaya murah biasanya kurang terurus dengan baik, sehingga semakin ditinggal oleh pangsa pasar yang kuat secara finansial.

Bila dilihat tren musiman isu sekolah favorit tersebut, seakan-akan sekolah favorit menjadi jaminan masa depan. Sebaliknya, sekolah di pelosok-pelosok desa atau pesantren di desa-desa sulit bicara masa depan karena dari segi infrastruktur dan SDM yang ada kurang bisa disepadankan atau kurang mampu bersaing dengan sekolah unggul yang sisi manajerialnya sudah top. Banyak orang memahami sekolah-sekolah secara positivistik, tapi wajar mengingat persaingan hidup yang cukup ketat.

Konsekuensi kontestasi pendidikan yang semakin sengit itu berefek pada mulai pudarnya orientasi pendidikan yang lebih berorientasi ekonomis daripada orientasi kehidupan yang holistik. Bila orang dulu memilih guru untuk masa depan kehidupannya, saat ini berlomba memilih sekolah untuk jaminan masa depan. Sekolah favorit telah menjadi brand daripada guru ikhlas yang keberadaannya mulai langka dalam duang pendidikan.Guru-guru yang alim banyak jumlahnya, namun yang ahli ibadah dan zuhud semakin berkurang karena system birokratisasi pendidikan yang cukup kuat mencengkram dunia pendidikan. Mengajar tidak lagi menjadi tuntutan akhirat tapi lebih banyak akrena tuntutan hidup. Akibat demikian ini maka pendidikan beralih orientasi layaknya mekanisme pasar yaitu menjual-membeli serta untung dan rugi.

Tren sekolah favorit dengan akses berbasis unggulan mengalahkan tren sekolah yang mampu mengakses barokah. Orang modern apalagi kalangan rasional sudah tidak percaya dengan hal-hal metafisik, yang sejatinya menjadi ruh pendidikan. Oleh karenanya, maklum bila pendidikan lebih subur dengan hal yang materialistik daripada spiritualistik. Memudarnya akses barokah menjadi pemicu terjadinya disorientasi dalam dunia pendidikan saat ini. Guru hanya ngajar, siswa belajar. Selebihnya banyak yang gagal menyambungkan antara dirinya, peserta didiknya dengan Allah.

Guru dalam Islam sebagaimana Imam Al-Ghazali, Azzarnuji, dan KH. Hasyim Asy’ari sangat serius mengulas guru-murid dalam karya-karya monumentalnya demi menjaga marwah, kemuliaan dan ketersambungan guru dengan Gusti Allah selaku sang murabbi sejati. Bagaimana mungkin guru/dosen yang bergelimang dengan maksiat mampu mentransfer barokah apalagi mendekatkan ruh peserta didik dengan Khaliknya. Kedekatan guru dengan Sang Khalik menjadi kunci utama dari sekolah favorit, buka sekolahnya yang favorit karena gurunya yang pintar-pintar dan fasilitas-fasilitas yang wah, tapi guru itu adalah murabbi, muallim dan mudarris yang memiliki kompetensi menyambungkan antara Ruhullah dan Ruhunnas sebagai quality assurance dalam menjadi Abdullah dan Khalifatullah di muka bumi. Disinilah akses pendidikan yang seharusnya menjadi sorotan dan rebutan para orang tua dalam menyekolahkan anak-anaknya, agar para generasi masa depan tidak hanya cerdas dalam merebut kendali dunia namun juga sukses merebut kendali akhirat. Merebut sekolah unggul it’s okey, namun penting juga merebut barokah di dalamnya. (*/hdi)

(*) Penulis adalah kandidat doktor Pascasarjana IAIN Jember

Tulisan ini pertama kali dimuat di Jawa Pos Radar Jember edisi 14 Juli 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar