Anakku, salah satu ikhtiarku adalah memberimu nama yang baik dan bagus
Anakku, suatu saat kamu mungkin akan bertanya dalam diam, ketika malam terasa lebih panjang dari biasanya, mengapa kami memilihkan sebuah nama tertentu untukmu, bukan yang lain (?) Atau mungkin, kelak ketika kamu mulai mengenal dirimu sendiri di antara dunia yang ramai memanggil-manggil manusia dengan berbagai sebutan, kamu akan berhenti sejenak dan bertanya: “Apa sebenarnya makna dari namaku?” Di titik itu, aku berharap kamu tidak hanya menemukan jawaban, tapi juga menemukan diriku yang dulu, yang pelan-pelan menuliskan doa dalam setiap huruf yang kau sandang.
Ada satu malam yang tidak terlalu istimewa bagi dunia, tapi sangat panjang di hatiku. Aku duduk sendirian, sambil melihat bintang-bintang di langit, dan dunia seperti mengecil menjadi hanya satu hal: kamu yang belum lahir tapi sudah begitu nyata dalam imajinasi dan doaku. Aku menuliskan beberapa nama, menghapusnya, menulis lagi, lalu diam lama. Bukan karena aku ragu, tapi karena aku takut, takut salah meletakkan doa pertama yang akan kau bawa seumur hidupmu. Di situ aku sadar, memberi nama bukan sekadar memilih bunyi yang enak didengar, tetapi seperti menanam arah bagi perjalanan jiwa.
Lalu aku memilih satu nama, bukan karena ia paling indah di telinga manusia, tetapi karena aku ingin ia menjadi identitas seorang beriman, sebuah tanda bahwa kamu tidak berjalan sendirian di dunia ini. Aku ingin namamu menjadi doa yang terus-menerus hidup, bahkan ketika aku sudah tidak lagi mampu menyebutnya dengan suara. Aku ingin ia menjadi arah makna hidup, seperti kompas kecil yang diam-diam menuntunmu pulang setiap kali kamu tersesat oleh riuhnya dunia. Bahkan dalam bunyinya, aku berharap ada kelembutan, ada sesuatu yang membuat orang yang memanggilmu tanpa sadar menurunkan nada suaranya, seakan sedang menyapa sesuatu yang sakral.
Dan di titik itu aku mulai memahami sesuatu yang lebih dalam, Anakku: bahwa memilih nama bukan hanya soal akustik yang enak di telinga, atau semantik yang indah di makna. Ia bukan sekadar estetika suara dan definisi. Lebih dari itu, ada lapisan yang lebih halus, yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa, yakni bagaimana sebuah nama bisa memiliki synchronicity dan coherence dengan perjalanan hidup pemiliknya. Seakan-akan ada keselarasan tersembunyi antara nama, jalan hidup, dan peristiwa-peristiwa yang kelak akan kau temui. Ketika nama itu selaras, hidup tidak selalu menjadi mudah dalam arti tanpa ujian, tetapi ia menjadi lebih mengalir, lebih effortless dalam makna batinnya, dan lebih fruitful dalam hasil-hasil yang tumbuh dari setiap langkahmu. Seperti air yang tidak melawan alirannya sendiri, tetapi justru menemukan jalannya ke laut dengan cara yang paling natural.
Aku juga tidak menutup mata dari hal-hal yang mungkin terdengar “tak terlihat” oleh sebagian orang, bahwa nama itu bukan hanya makna dan suara, tapi juga getaran yang lebih halus: bagaimana ia dirasakan, bagaimana ia jatuh di lidah, bagaimana ia membentuk kesan pertama sebelum seseorang mengenal hatimu. Ada orang yang menyebutnya akustik, ada yang menyebutnya simbol, ada pula yang membaca lebih dalam sampai ke hisab dan rukyat/bashirah, dan aku, di tengah semua itu, hanya ingin memastikan satu hal: bahwa apa pun cara orang memandangnya, namamu tidak pernah kosong dari kebaikan. Ia tidak berat diucapkan, tidak gelap di makna, tidak asing di rasa.
Anakku, mungkin nanti kamu akan menemukan bahwa dunia punya banyak cara untuk menilai sesuatu, ada yang dengan logika, ada yang dengan intuisi, ada yang dengan hitungan, ada yang dengan pandangan batin. Tapi aku ingin kamu tahu: di balik semua itu, aku tidak sedang membangun sesuatu yang rumit. Aku hanya sedang berikhtiar, pelan dan sederhana, agar kamu punya sesuatu yang selalu mengingatkanmu bahwa kamu pernah didoakan bahkan sebelum kamu belajar memahami arti doa itu sendiri.
Dan jika suatu hari nanti kamu merasa jauh dari dirimu sendiri, atau merasa dunia terlalu bising untuk didengar, kembalilah pada namamu. Dengarkan ia perlahan. Di sana, mungkin kamu akan menemukan sisa-sisa diriku yang tidak pernah benar-benar pergi: seorang yang pernah duduk dalam diam, menuliskan harapan paling jujur yang ia punya, yaitu agar kamu menjadi manusia yang baik, dengan nama yang baik, dan perjalanan hidup yang tidak kehilangan arah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar