Oleh: M. Q. Aynan
Mengharapkan harga-harga akan turun mungkin akan menjadi mimpi belaka. Kita sudah terlalu sering mendengar berita tentang kenaikan harga BBM. Uang Kuliah Tunggal (UKT) pun tak ketinggalan naik. Kenaikan UKT dan beasiswa termasuk yang paling sering diperbincangkan dalam dunia kampus.
Masih ada beasiswa yang salah alamat. Saya katakan begitu karena menurut penuturan beberapa mahasiswa dari beberapa kampus, ada sebagian mahasiswa yang tidak layak mendapat beasiswa tetapi akhirnya dapat setelah kong-kalikong. Yang lebih menyedihkan adalah dana beasiswa yang telah diterima tidak digunakan keperluan buku atau hal-hal yang menunjang belajar. Beasiswa berasal dari uang rakyat. Bukankah ketika menggunakan dana beasiswa dengan tidak semestinya berarti zalim kepada rakyat? Kemudian teriak-teriak perjuangan atas nama rakyat?
Ada juga oknum orang tua yang memanfaatkan kesempatan pengajuan keringanan UKT itu untuk kepentingan pribadi. Mereka sebenarnya sangat mampu tapi mengajukan keringanan melalui persekongkolan dengan keterangan miskin yang palsu, padahal persentase penerima keringanan UKT terbatas. Apabila ada oknum yang tidak jujur, maka akan ada korban yang semestinya pantas dapat kesempatan tapi akhirnya tidak kebagian. Kalau yang punya sawah lebar mendapat keringanan, bagaimana nasib buruh tani yang penghasilannya kecil dan tidak menentu? Bahkan banyak yang rela pinjam uang sana-sini berusaha sanggup membayar UKT. Tidak sedikit orang tua yang mengajukan keringanan namun tidak diterima.
Ada lagi kejadian lainnya. Orang tua sudah beres, tapi anaknya yang tidak beres. Orang tua sudah berusaha membiayai mahasiswa tetapi mahasiswanya bohong. Bohong entah nominalnya atau tujuannya. Meminta uang dua juta padahal UKT-nya satu juta, atau meminta uang untuk UKT tapi ternyata untuk memodifikasi motornya. Tidak ada apa-apa, bilangnya ada apa-apa. Kalau sudah seperti itu, mahasiswanya lebih mencekik daripada kenaikan UKT.
Saya tidak setuju dengan kenaikan UKT. Akan tetapi, apabila ada suatu kerumitan dalam hal itu bukan hanya gara-gara aparatur negara melainkan juga egoisme dari mahasiswa dan pihak orang tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar