Seringkali, justru pertemuan yang meski tidak disengaja tapi tulus itu yang awet, bertahan lama. Saya baru sempat menulis surat ini setelah beberapa waktu ingin sekali menyimpan ingatan tentang perkenalan kita dari awal sampai sekarang.
Saya tertawa, lucu gimana gitu, saat ada yang bertanya, entah basa-basi atau memang penasaran ingin tahu, tentang mengapa saya sayang banget sama kamu. Tentunya jawaban awal dan paling sederhana karena kamu dari pertama sudah punya potensi daya tarik bagi saya, entah kesamaan, kemiripan, kedekatan, keakraban, kemampuan, dan timbal balik.
Dari latar belakang keluarga dan pendidikan, banyak persamaan antara kamu dengan saya. Secara intelektualitas misalnya, kamu punya tingkat kemiripan lebih dari lima puluh persen dengan saya. Itu semua membuat kita tak sulit untuk menemukan topik pembicaraan. Ada saja yang bisa kita bicarakan entah itu receh atau seperti bidang studi macam sejarah, pelajaran keagamaan, sains alam, atau lainnya.
Kemudian potensi tadi dipupuk dengan komunikasi yang terbuka, hampir tanpa ada yang disembunyikan, hampir tak ada rasa sungkan. Lapar atau haus, tinggal bilang, mungkin bisa makan bareng entah beli atau masak. Uang habis, bisa saling pinjam atau kita cari pinjaman bareng. Betapapun rumit dan problematiknya, sampai kadang perlu untuk diam selama beberapa saat, ada waktu kemudian untuk berbagi keluh-kesah. Jika ada yang keberatan dari salah satu pihak, bisa diselesaikan dengan penyampaian langsung, bukan malah curhat kepada orang lain. Sebab, mengetahui dari orangnya send masih lebih baik daripada tahu dari orang lain.
Pada perjalanannya, yang membuat perasaan itu menjadi sublim ialah, kita kemudian sama-sama menghendaki untuk menjadi dekat dan akrab satu sama lain. Itu hanya bisa dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan hanya sepihak yang nantinya hanya searah. Kedekatan dan keakraban bukan karena momentum tertentu soal kepentingan tertentu pula, melainkan karena muatan manusiawi sebagai manusia, sebagai makhluk sosial. Jadi, tidak terkesan 'diambil butuhnya' saja.
Selain itu, ada satu yang membuat saya, mungkin kamu juga, hampir mustahil melupakan dan terlupakan adalah karena kamu, dengan kerelaan, sering berjuang bersama dan memperjuangkan sesuatu yang sama dengan apa yang saya perjuangkan. Walaupun mungkin ada beberapa yang kita tidak sependapat, tetapi alangkah baiknya lebih menaruh perhatian terhadap perhatian yang lebih besar dan lebih mendasar.
Apa lagi ya. Mungkin sementara itu dulu yang bisa saya tulis tentang ingatan perkenalan dan alasan mengapa saya sayang banget sama kamu. Entah sampai kapan kebersamaan kita. Entah sampai kapan kita dapat sering bertemu, sering bicara, sering melakukan sesuatu bersama. Ketika kita nanti sudah saling jauh secara jarak dan waktu, semoga yang telah berlalu tidak terlewatkan begitu saja.
Satu lagi hampir lupa. Ada yang membuat saya sayang banget sama kamu, dan saya belum siap untuk berjauhan adalah, karena kamu sering memunculkan ungkapan, yang jarang sekali orang lain akan mengungkapkan, terutama ungkapan kecil seperti kebiasaan, gaya bicara, dan lainnya. Orang sering menyebutnya sebagai titen, berupa kepekaan terhadap tanda-tanda atau ciri-ciri khas yang muncul dari seseorang, dalam hal ini, saya. Itu adalah kumpulan pengamatan yang berulang-ulang.
Yang saya sesalkan adalah, kamu peka sekali dengan ungkapan-ungkapan kecil dari saya, tapi saya tidak bisa melakukan sebaliknya. Akhirnya, saya akan mengungkapkan ini. Saya tahu kalau kamu mengetahui dan menyadari ungkapan ini. Tapi saya mau mengungkapkannya sekali lagi. Saya sayang banget sama kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar