Kepada Junior Kami,
Seorang berbintang Libra
Dik, sekarang saya mau cerita perjalanan kami. Barusan kamu nyinggung soal Libra, kebetulan suami saya Libra. Jadi, bisa dibilang, saya istri dari seorang Libra.
Pertama kali saya kenal dengan suami saya, saya sudah sadar kalau suami saya itu beda banget dari orang lain, dari teman-temannya, bahkan dari semua laki-laki yang pernah saya kenal.
Waktu itu, alat komunikasi tidak secanggih sekarang. Jadi, kami bisa komunikasi, bisa ngobrol, paling bisa itu lewat ketemu langsung. Ketemu saja susah. Jadi, kami tidak sesering orang lain ketemunya. Lebih jarang.
Bahkan mungkin, seandainya kami di jaman ini masih muda, mungkin kami akan tetap jarang komunikasi satu sama lain, tidak se-intens orang lain. Sekarang saja, belum tentu dalam satu hari kami saling kirim pesan.
Suami saya itu sering bepergian, sering menghilang. Saya tidak tau persisnya apa yang suami saya kerjakan. Tapi, saya sama sekali tidak merasa bahwa saya, yang disebut oleh anak sekarang sebagai di-ghost-ing. Sama sekali tidak. Karena memang, dari awal saya sudah sadar dan siap hidup bersamanya. Kami juga saling percaya satu sama lain.
Dia sering mengorbankan waktu bertemu orang-orang yang dia disayangi, terutama keluarganya sendiri, demi melakukan pekerjaan yang belum tentu bisa dilakukan orang lain. Namanya juga orangnya beda dari orang kebanyakan, mungkin pekerjaannya juga beda dari pekerjaan orang kebanyakan. Pekerjaan istimewa bagi orang istimewa. Mungkin sejenis itu.
Pergi sering tanpa pamit, pulangnya juga belum tentu bisa dipastikan kapan. Tidak hanya satu atau dua hari, bisa seminggu atau bahkan paling lama sebulan tidak ada kabar. Waktunya tidak ketemu kapan. Tempat atau lokasinya juga tidak ada pemberitahuan dimana. Bisa dalam satu kabupaten, luar kota, atau bahkan luar provinsi, luar pulau.
Tapi saya yakin, ia sangat ingin bisa sering berkumpul bersama kami, keluarganya. Ketika dia berkumpul bersama kami, dia jarang bicara dengan anak-anaknya. Dia memang jarang bicara kepada orang lain, hanya seperlunya saja. Hanya kepada saya, dia membahas tentang apa saja, kecuali pekerjaannya.
Intinya, kata-kata terakhir yang bisa saya tulis dalam surat ini adalah, bahwa kehidupan dua orang tidak semua bisa bertemu setiap hari. Ada, bahkan mungkin banyak, sebagian orang yang tidak setiap hari bisa bertemu. Hidup mereka seperti dilalui dengan gemuruh. Gemuruh yang berkecamuk, seringkali menyisakan perasaan ganjil yang mengganjal. Walaupun demikian, jangan pernah melepaskan mereka yang tinggal bersamamu, yang setia bertahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar