---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 07 November 2021

MENGURAIKAN KAWAN DAN LAWAN, MEMBANGUN ALIANSI STRATEGIS

Materi ini adalah adaptasi dari berbagai sumber, untuk keperluan pembelajaran

Strategic alliance is an agreement between two or more individuals or entities stating that the involved parties will act in a certain way in order to achieve a common goal. Strategic alliances usually make sense when the parties involved have complementary strengths


Aliansi strategis adalah kesepakatan antara dua atau lebih individu atau entitas yang menyatakan bahwa pihak-pihak yang terlibat akan bertindak dengan cara tertentu untuk mencapai tujuan bersama. Aliansi strategis biasanya masuk akal ketika pihak-pihak yang terlibat memiliki kekuatan yang saling melengkapi

 

KADERISASI INFORMAL memiliki posisi sentral dalam sistem kaderisasi. (MQA)


Dalam konteks pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia, kaderisasi Informal penting dipandang sebagai unit perhatian maupun fokus pemberdayaan. Posisinya yang strategis membuat kaderisasi informal ‘diperebutkan’ oleh banyak kalangan yang menyadari posisinya. (MQA)


Aliansi (alliance) atau ‘persekutuan’ dapat diartikan sebagai kumpulan perseorangan, kelompok atau organisasi yang memiliki sumberdaya (sarana, prasarana, dana, keahlian, akses, pengaruh, informasi) yang bersedia dan kemudian terlibat aktif mengambil peran atau menjalankan fungsi dan tugas tertentu dalam suatu rangkaian kegiatan yang terpadu (Topatimasang et al, 2000). Dengan kata lain, aliansi adalah sebuah jaringan kerja (networking) antar lintas yang memiliki keahlian dan sumberdaya berbeda namun memiliki komitmen dan agenda yang sejalan.


Dapat dibedakan ALIANSI STRATEGIS dan ALIANSI TAKTIS. 


1.


Aliansi Strategis menunjuk pada ‘sekutu dekat’ atau ‘lingkar inti’. Mereka tergabung dalam Garis Pertama (First Line) dan Garis Depan (Front Line) yang bertugas sebagai penggagas, pemrakarsa, pendiri, penggerak utama, sekaligus penentu dan pengendali arah kebijakan dari sebuah aliansi. (MQA)


2.


Aliansi Taktis menunjuk pada ‘sekutu jauh’ atau ‘lingkar luar’ yang seringkali tidak terlibat langsung dalam kegiatan aliansi. Mereka umumnya tergabung dalam Satuan Pendukung (supporting unit) dan yang bertugas membantu penyediaan sarana, logistik, data dan kader yang dibutuhkan oleh lingkar inti.



TUGAS ALIANSI



Sedikitnya ada tiga tugas utama yang dapat dilakukan oleh sebuah aliansi:


1. Menganalisis isu-isu. Isu-isu strategis ini secara berkala dianalisis dan kemudian ditetapkan satu-persatu isu yang akan dijadikan rencana operasi. Sedikitnya ada beberapa karakteristik berkenaan dengan isu-isu strategis:


· Isu tersebut bersifat aktual dan relevan.


· Sejalan dengan prioritas atau tingkat urgensi kepentingan internal.


· Sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan sejalan dengan visi serta agenda perubahan sosial.


· Mempertimbangkan kemungkinan keberhasilan. Dapatkah isu tersebut direspon melalui aliansi?



2 . Merumuskan grand design dan grand strategy program-program pengembangan sumber daya manusia. Parameter yang dapat digunakan dalam membuat desain dan strategi besar program dapat mengacu pada prinsip SMART yang secara harafiah bisa diartikan sebagai CERDAS. SMART merupakan akronim dari: 


· Specific (khusus dan terfokus).


· Measurable (terukur).


· Achievable (dapat dicapai).


· Realistic (sesuai dengan sumber dan kemampuan yang ada).


· Time-bound (memiliki batasan waktu yang jelas).


3. Melakukan advokasi terhadap kebijakan-kebijakan publik. Advokasi dapat dilakukan baik terhadap kebijakan yang dianggap menunjang maupun menghambat proses pengembangan sumber daya manusia.


· Advokasi adalah upaya untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui berbagai bentuk komunikasi persuasif.


· Advokasi berkaitan dengan strategi memenangkan argumen dan mengubah perilaku.


· Advokasi adalah sebuah proses yang melibatkan seperangkat tindakan politis yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisir untuk mentransformasikan hubungan-hubungan kekuasaan.


· Tujuan advokasi adalah untuk mencapai perubahan kebijakan tertentu yang bermanfaat bagi penduduk yang terlibat dalam proses tersebut.


· Advokasi yang efektif dilakukan sesuai dengan rencana stategis dan dalam kerangka waktu yang masuk akal (Suharto, 2004b)


PRINSIP



Orang-orang yang tergabung dalam jaringan sekutu ini dapat saja memiliki pandangan dan bahkan ‘ideologi politik’ yang bersebrangan dengan lingkar inti. Meskipun para anggota aliansi berasal dari berbagai organisasi yang memiliki tugas pokok dan fungsi yang berlainan, tidak berarti bahwa sebuah aliansi sangat sulit menyatukan langkah dan tujuan. Beberapa prinsip di bawah ini dapat dijadikan acuan dalam membentuk aliansi.



1. Carilah persamaan visi, bukan perbedaan kepentingan. Mulai dengan berbaik sangka.

2. Gagaskan capaian-capaian kecil terlebih dahulu. “Trust your hopes, not fear.”

3. Kerjakan kegiatan-kegiatan seperti yang telah direncanakan. “If we fail to plan, we plan to fail.”

4. Jadikan isyu yang telah disepakati sebagai inti gerakan dan tetaplah berpijak pada isyu tersebut.

5. Senantiasa terbuka terhadap pandangan lain. Bersedia bermufakat. Senantiasa memiliki semangat win-win negotiation.

6. Dinamis dan inovatif. Tidak mandeg dan tidak puas dengan capaian yang lalu. Berusaha terus menerus menggagas temuan-temuan baru. Merancang rencana aksi baru.

7. Menyempurnakan kemenangan-kemenangan terdahulu.



PROSES 



Manakala prinsip-prinsip di atas telah mampu dipenuhi, berbagai orang dari kelompok yang berlainan dapat bekerja sama mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks ini, kelompok lingkar inti tidak perlu menutup diri. Kelompok inti dapat mengajak berbagai pihak menjadi anggota sekutu sesuai dengan dukungan dan sumberdaya yang dimilikinya. Proses pembentukan sebuah aliansi dapat melalui tahapan sebagai berikut:


1. Mencari fokus yang akan dijadikan agenda utama aliansi. Elaborasi isyu-isyu krusial dalam pemberdayaan kader. Fokuskan sasaran utamanya.

2. Mengidentifikasi stakeholders dan mengeksplorasi pihak-pihak yang potensial menjadi pendukung dan penentang agenda aliansi. Lakukan stakeholders analysis:

· Siapa stakeholder inti yang tertarik pada wacana pemberdayaan keluarga?


· Apa alasan stakeholder tertarik pada wacana tersebut?


· Bagaimana posisi mereka saat ini (mendukung, netral, menentang)?


· Seberapa besar tingkat pengaruh mereka terhadap aliansi (tinggi, sedang, rendah)?


· Apa sumber yang dimiliki stakeholder?


· Dimana posisi stakeholder yang paling tepat (Garis Pertama, Pendukung atau Garis Depan)?


Analisis "stakeholders" mutlak diperlukan dengan cara mengidentifikasi kawan-lawan. Skema pemetaan kawan-lawan bukan berarti menyebar kebencian. Tapi, untuk menarik garis demarkasi ideologis dan membangun kewaspadaan. Sangat penting untuk menegaskan identitas aliansi.


3. Menyamakan dan mempertajam visi bersama. Sepakati tujuan dan strategi yang akan digunakan dalam mencapai visi.

4. Mobilisasi sumber-sumber yang diperlukan aliansi. Apa? Dimana? Seberapa besar? \ Bagaimana mengaksesnya? Bagaimana mengoptimalkannya?

5. Mulailah bekerja sesuai rencana. Sistematis. Konsisten. Bertahap maju.


WASPADA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar