---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 11 Desember 2021

Filsafat (Praktis) Politik (Praktis), Komunikasi (Politik) Digital, Disrupsi (Teknologi) Politik: Bagian 1


Baru saja saya menonton orasi pengukuhan guru besar F. Budi Hardiman dalam bidang ilmu filsafat yang sebagian isinya tentang fenomena kehidupan dalam dunia demokrasi membuat saya merasa terhubung dengannya. Keterhubungan ini baik dalam demokrasi di lingkup luas umumnya, maupun demokrasi di lingkungan sekitar khususnya di kalangan mahasiswa.


Sebagaimana pemikiran filsafat yang kecenderungannya bermuatan kritik, orang lain yang kurang familiar-atau yang cukup tidak asing-dengan pemikiran-pemikiran filsafat biasanya menilai bahwa orang-orang yang sering berpikir filsafat tampak pesimis dengan dunia, dalam hal ini khususnya dunia politik atau demokrasi. Akan tetapi, bagi saya secara pribadi, mungkin tepat apabila dikatakan pesimis, akan tetapi lebih utuh jika penampakan pesimis tersebut berasal dari kepedulian terhadap hal-hal yang berada di balik permukaan, dan kewaspadaan terhadap hal-hal yang mungkin terjadi.


Filsafat, selain menjadi mata kuliah wajib di semua program studi seperti filsafat umum atau pengantar filsafat, filsafat ilmu, dan mata kuliah filsafat lainnya, juga dipelajari di luar kelas kuliah seperti dalam kegiatan-kegiatan kajian yang dilaksanakan di organisasi mahasiswa ekstra kampus, komunitas kajian, atau klub studi. Hanya saja, menurut saya, sebagaimana pernah saya tulis, kurikulumnya lebih banyak berisi muatan filsafat teoritis daripada filsafat praktis, sehingga pemikiran-pemikiran filsafat yang dipelajari tidak sedikit yang "jauh di sana" dan "di atas langit". Maka, dunia, realitas, atau kenyataan yang dibicarakan oleh filsafat semacam itu adalah "kenyataan sejauh dan seluas yang dibicarakan". Padahal, keseharian massa-kolektif adalah "kenyataan sedekat dan sesempit yang dibicarakan".


Oleh karena itu, ketika membicarakan "politik praktis" dalam kehidupan mahasiswa khususnya, dengan "filsafat teoritis", cenderung tidak nyambung pembicaraannya. Mahasiswa-mahasiswi, baik massa-kolektif maupun kader-individu, entah mereka sekedar "penonton politik praktis" atau "pemain politik praktis", ketika membicarakan politik praktis menggunakan filsafat teoritis, ada jarak yang lumayan jauh. Di sinilah perlu mendekatkan politik praktis dengan filsafat praktis agar antara politiknya dengan filsafatnya sama-sama praktis. Ketika sama-sama praktis, pembicaraan bisa lebih nyambung.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar