Saya barusan, di tengah obrolan ringan, tiba-tiba sampai kepada obrolan tentang sebagian orang yang tidak bertahan (atau tidak dipertahankan) dalam sebuah organisasi, padahal, mereka dinilai berpotensi, bahkan sangat memiliki potensi. Terlepas dari dinamika organisasi dan persaingan antar individu, banyak faktor, banyak variabel, yang menyebabkan tidak bertahannya sebagian orang tersebut. Salah satunya yang paling saya ingat adalah soal kerjasama tim.
Sebagian orang yang berpotensi, entah secara intelektual yang dapat diamati setidaknya dari bagaimana mereka berpendapat dan mengajukan argumentasi, atau berpotensi karena mereka terlibat aktif dalam setiap kegiatan, tentu memiliki daya tarik tersendiri bagi orang lain. Daya tarik itu sekaligus menjadi semacam daya tawar mereka, untuk nantinya memainkan peran dan fungsi dalam organisasi. Akan tetapi, entah sebelum distribusi atau penempatan, atau di tengah jalan, sebagian dari mereka justru dianggap sebagai pihak yang menghambat kinerja organisasi.
Dalam perspektif kerjasama tim, fenomena tersebut, berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi saya, bukan karena mereka kurang membaca, kurang pintar, kurang cerdas, atau kekurangan intrapersonal mereka, yang hanya berkaitan dengan diri mereka sendiri, melainkan yang berkaitan dengan interpersonal, dengan orang lain. Sebab, berorganisasi berarti tidak hanya tentang pribadi, tetapi juga persoalan bersama.
Ada sebagian orang yang memiliki potensi, cerdas, aktif berpartisipasi. Di sisi lain, mereka independen, teguh memegang prinsip. Bahkan, tak jarang, terlalu independen dan terlalu teguh memegang prinsip. Padahal, seringkali berorganisasi bukan persoalan yang sifatnya independen pribadi, melainkan kolektif bersama, bukan sifatnya prinsipil, melainkan strategis.
Selain itu, dalam berorganisasi, tidaklah sempurna jika seseorang itu konseptor murni tanpa potensi eksekutor, atau eksekutor murni tanpa potensi konseptor. Perlu sama-sama dimiliki potensi keduanya meski tentu saja biasanya lebih dominan salah satunya. Sebab, eksekutor murni tanpa potensi konseptor hanya akan memiliki daya gertak tanpa antisipasi jangka panjang. Konseptor murni tanpa potensi eksekutor hanya akan fokus membangun tanpa pelaksanaan langkah nyata.
Karena berorganisasi seringkali berhadapan dengan yang sifatnya bukan prinsipil melainkan strategis, maka butuh kalkulasi konkret kerjasama tim melalui koordinasi. Di sinilah celah dari sebagian orang yang entah tidak mampu bertahan atau tidak bisa dipertahankan. Bahkan jika itu terjadi pada saya sendiri. Beda soal ketika bicara setelah selesai periode apakah akan melanjutkan atau berhenti di titik tertentu. Ini konteksnya adalah sebelum pemfungsian atau di tengah jalan.
Seseorang yang tidak bisa diatur, hampir mustahil bisa mengatur. Seseorang yang tidak bisa diperintah, hampir mustahil bisa memerintah. Seseorang yang tidak bisa diajari, hampir mustahil bisa mengajari. Yang terbiasa disiplin tidak akan betah dengan yang maunya membangkang. Namanya struktur atau hierarki, bukan tanggungjawab dan atas nama pribadi, melainkan tanggungjawab dan atas nama bersama. Meski dilema dan berat hati, tentu akhirnya melepaskan yang membangkang dan mempertahankan yang disiplin. Kepentingan internal bersama lebih diutamakan daripada kepentingan independensi pribadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar