---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 22 Desember 2021

Filsafat (Praktis) Politik (Praktis), Komunikasi (Politik) Digital, Disrupsi (Teknologi) Politik: Bagian 2



Kalau dalam filsafat yang sifatnya teoritis dikatakan bahwa teologi sebagai mitra senior dan sains sebagai mitra junior, maka dalam filsafat yang sifatnya praktis, khususnya di politik, ideologi sebagai mitra senior dan strategi sebagai mitra junior. Dengan kedua mitra tersebut, dengan segala keterbatasan pengetahuan saya, baik yang bersumber dari bacaan maupun pengalaman, saya berpikir bahwa filsafat dapat berfungsi dan beroperasi tidak hanya dalam permenungan dalam meditasi individu, dalam kesendirian, tetapi juga dalam keramaian, dalam perbuatan, pergerakan, dan perjuangan massa. Sebagaimana catatan pribadi Marcus Aurelius yang berjudul "Perenungan" atau "The Meditations" dalam bahasa Inggris yang berisi serangkaian latihan spiritual yang penuh dengan kebijaksanaan, bimbingan praktis, dan pemahaman mendalam tentang perilaku manusia.


Dalam kata pengantar buku Filosofi Teras yang ditulis oleh Henry Manampiring, A. Setyo Wibowo menyebut Marcus Aurelius sebagai "Filsuf di Medan Perang". Jika Marcus Aurelius disebut demikian, maka apabila ada seorang atau beberapa orang mahasiswa, gemar berfilsafat, mempelajari filsafat, atau melakukan perenungan filosofis, kemudian karena dituntut oleh situasi, menjadi terlibat atau berpartisipasi aktif dalam politik praktis, dapat disebut bahwa dia atau mereka adalah "Filsuf di Medan Kontestasi". Sebagaimana Marcus Aurelius, ketika memenangkan kontestasi politik praktis mahasiswa, bukannya bersenang-senang merayakan kemenangan, para mahasiswa filsuf praktis tersebut justru akan melakukan permenungan diri: apakah tindakanku tepat, apakah kontestasi dengan mobilisasi demikian banyak memang perlu dilakukan?


Mungkin timbul pertanyaan, para mahasiswa "filsuf" ini menjadi arsitek pemenangan kandidat pimpinan organisasi mahasiswa dan memimpin pengarahan strategi mobilisasi? Bukankah filsafat kesannya menjemukan, susah, rumit, dan cenderung tanpa faedah? Masa' sih seorang filsuf sampai mesti terlibat dalam pemenangan calon ketua? Amatilah beberapa "permainan". Bagi sebagian orang, peristiwa itu tak terlupakan. Bagaimana mungkin filsafat yang biasanya dianggap membuat orang lari dari dunia justru dipraktikkan di tengah kancah perpolitikan kampus?


Pertanyaan yang bersumber dari perasaan kaget, atau terkejut, dengan fenomena "Filsuf di Medan Kontestasi" tersebut, ada hubungannya dengan apa yang ditulis oleh A. Setyo Wibowo dalam kata pengantar itu. Ia menulis bahwa bisa jadi kita salah belajar filsafat, atau salah mendapatkan guru filsafat, sehingga bukannya senang pada filsafat, kita malah jadi benci dan alergi pada filsafat. Filsafat tidak selalu dalam arti cara berpikir ruwet dan menjelimet serta tidak relevan dengan hidup sehari-hari. Karena relevan dengan hidup sehari-hari, maka orang dari zaman kapan pun bisa membaca untuk berkaca, dan siapa tahu, terinspirasi darinya.


Mengapa penting membicarakan "Medan Kontestasi" dalam kehidupan sehari-hari para "Filsuf" itu? Justru karena hidup mahasiswa di luar kelas setiap hari adalah kontestasi! Dari memilih calon ketua sampai memilih calon pasangan, dari mengejar prestasi sampai mengejar posisi. Apalagi hidup di organisasi ekstra kampus macam you know lah apa saja, adu mulut, beda opini, rebutan kader, dan segala keributan lainnya. Intinya, di ormek itu isinya hampir lebih dari separuh, adalah pertengkaran! Bagaimana bisa damai di tengah suasana seperti itu? Bisakah merasakan kepuasan batin dalam hidup dari rapat ke rapat, dari kepanitiaan sampai persidangan, selalu dipenuhi konflik dan ketegangan tanpa henti?


Filsafat (praktis), baik secara umum, maupun secara khusus ketika membicarakan politik (praktis) mahasiswa, sebagai praktik hidup penting dijalani dan dijalankan betul-betul. Paling tidak, filsafat seperti itu berguna sekali untuk mengatasi emosi dan mem"bawah"i logika, bahkan untuk sejenak saja. Di tengah ketegangan dan kerumitan, bersamanya ada kepuasan dan kedamaian. Filsafat di sini bukanlah untuk sekadar mengisi waktu, menumpuk ide, atau merangkai wacana, untuk bergaya dan tebar pesona di depan adik-adik junior. Filsafat adalah praktik dan latihan, sebuah seni hidup.      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar