STRATEGI PENYELIDIKAN SUARA
Menaksir target suara
1. Menyiapkan data rincian daerah pemilihan dan alokasi keterwakilan.
2. Membuat rincian jumlah penduduk dan jumlah pemilih tetap di dalam daerah pemilihan yang bersangkutan.
3. Menyiapkan data hasil pemilihan sebelumnya.
4. Mengurutkan perolehan keterwakilan kelompok perwakilan.
Menaksir peluang suara
1. Menentukan target minimal suara yang harus diperoleh.
2. Menghitung peluang suara dengan menghitung data jumlah dan nama pemilih, data wilayah, referensi perolehan suara dalam pemilihan sebelumnya, target minimal dan peluang maksimal perolehan suara.
STRATEGI PENGAMANAN SUARA
Saksi koalisi
1. Pemetaan berdasarkan pada beberapa pertanyaan mendasar.
- Berapa orang saksi yang disediakan oleh partai politik?
- Di titik mana saja saksi ditempatkan?
- Bagaimana pembiayaannya?
- Bagaimana latar belakang saksi tersebut?
- Ditempatkan di asal daerahnya atau bukan?
2. Mempertimbangkan komitmen dan loyalitas. Sebagai sebuah tim yang bekerja secara kolektif, maka saksi pemilihan pun harus memiliki komitmen dan loyalitas agar tidak mendua. Koalisi/tim harus transparan terkait hak dan kewajiban sebagai saksi.
3. Saksi perlu dibekali pengetahuan mengenai teknis pemilihan terutama dalam proses pemungutan dan penghitungan suara. Saksi koalisi perlu memahami hal berikut.
A. Waktu dimulai dan berakhirnya pemungutan dan penghitungan suara. Dalam hal ini saksi diupayakan untuk hadir sebelum waktu dimulainya pemilihan untuk mendata persiapan logistik di lokasi, apakah sudah terpenuhi atau belum.
B. Ketentuan suara sah dan suara tidak sah
C. Kriteria pemilih yang dapat menggunakan hak pilihnya di lokasi.
D. Tata cara mengantisipasi apabila ada kecurangan di lokasi.
Saksi calon
1. Calon perlu melakukan pemetaan posisi titik-titik lokasi. Pastikan bahwa posisi titik-titik yang akan dipantau oleh saksi calon adalah basis calon. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga suara pemilih yang kemungkinan besar akan memilih calon yang bersangkutan. Calon perlu melihat kembali koalisi akan menempatkan saksinya dimana saja. Jika terdapat posisi titik-titik lokasi yang tidak menyediakan saksi dari koalisi calon, maka calon harus mengalokasikan saksi pribadi untuk menggantikan posisi saksi dari koalisi .
2. Calon perlu melakukan pemetaan posisi titik-titik lokasi yang akan dipantau oleh saksi calon.
A. Posisi titik-titik basis calon, perlu dipastikan adanya saksi calon atau saksi koalisi calon yang akan memantau karena posisi titik-titik ini yang biasanya mendulang suara calon paling besar sehingga perlu dipastikan keamanan suaranya.
B. Posisi titik-titik basis koalisi, seringkali calon bertarung di daerah yang bukan merupakan basis konstituen koalisi. Sehingga perlu dilakukan pemetaan berkaitan dengan ada tidaknya posisi titik-titik basis koalisi.
C. Posisi rawan kecurangan, perlunya pemetaan posisi yang rawan kecurangan yang akan berpotensi merugikan suara calon. Misalnya di titik-titik yang menjadi basis banyak koalisi atau posisi yang memiliki gesekan cukup tinggi.
3. Calon perlu melakukan pelatihan bagi Saksi Calon. Sebagaimana seorang saksi dari koalisi, tugas saksi calon pun tidak jauh berbeda. Saksi Calon harus memperhatikan beberapa hal :
A. Pengetahuan dasar pemilihan : kriteria pemilih yang dapat menggunakan hak pilihnya di lokasi, cara pemberian suara yang sah, cara penghitungan suara.
B. Waktu mulai dan berakhirnya pemungutan dan penghitungan suara. Saksi perlu hadir sebelum pemungutan suara dimulai dan memantau hingga pemungutan suara selesai, tata cara mengantisipasi apabila ada kecurangan di lokasi.
C. Mengetahui lokasi pemilihan. Biasanya baru akan diketahui setelah menjelang hari H pemungutan suara. Sehingga perlu koordinasi dengan panitia, koalisi, dan tim pemantau setempat.
STRATEGI PEMETAAN PEMILIH DAN PESAING
Mapping atau profiling
Pemetaan pemilih dan pesaing
1. Pemetaan diri sendiri: kekuatan dan kekurangan diri sendiri.
2. Pemetaan pesaing: kekuatan dan kekurangan pesaing.
3. Pemetaan medan pertarungan politik: karakteristik masyarakat pemilih.
4. Pemetaan iklim: isu-isu aktual kontemporer yang sedang berkembang.
Secara umum, terdapat tiga peta sosial politik yang perlu dipahami oleh calon dan timnya, antara lain:
1. Peta jaringan pemilih: pendapat pemilih mengenai diri calon dan pesaingnya; perilaku pemilih berdasarkan wilayah pemilihan, tingkat status social ekonomi serta pendidikan, segmentasi sosial di masyarakat, afiliasi organisasi masyarakat, dll.
2. Peta jaringan sosial masyarakat: ikatan kekeluargaan; ikatan hubungan asmara; kelompok sosial, dll
3. Peta media komunikasi: pertemuan langsung dan media sosial.
Berbagai poin penting dalam pemetaan jaringan ini adalah:
A. Pemetaan jaringan dapat menetapkan jejaring yang berpotensi menjadi mesin politik untuk calon, baik yang berasal dari lingkungan dalam koalisi calon, maupun lingkungan luar koalisi calon, yaitu konstituen nonpartisan.
B. Pemetaan jaringan dapat memetakan wilayah dari masing-masing jejaring.
C. Selanjutnya dengan pemetaan jaringan, calon juga dapat melakukan inventarisasi nama-nama tokoh yang yang berpotensi untuk menjadi tim pemenangan sehingga calon atau sponsor dapat membentuk struktur tim pemenangan dengan tokoh-tokoh yang tersedia.
Contoh Analisis SWOT Sederhana Seorang Calon:
1. Strengths (kekuatan): Cerdas; Intelektual; Sukses; Muda; Ganteng.
2. Weaknesses (kelemahan): Kurang Bergaul ke bawah, Emosi labil; Minim pengalaman politik; Tidak mahir "menjual".
3. Opportunities (peluang): Jumlah pemilih pemula 30 persen; Jumlah pemilih lama 15 persen; Memiliki kedekatan dengan jaringan tertentu; Didukung oleh pihak-pihak tertentu.
4. Threats (ancaman): Lawan calon petahana (incumbent); Lawan berpengalaman dalam politik; Lawan sangat mahir "menjual"; Lawan berasal dari jaringan yang didukung oleh mayoritas suara pada pemilihan sebelumnya.
Contoh Perencanaan Strategis yang Dibuat Berdasarkan Analisis SWOT di
Atas:
1. Membuat program-program atau menyusun strategi-strategi untuk mendekati akar rumput. Hal ini untuk menutupi kelemahan citra kurang bergaul ke bawah.
2. Membuat program-program atau menyusun strategi-strategi untuk merebut dukungan pemilih pemula dengan pendekatan bahasa sederhana. Hal ini untuk memaksimalkan kekuatan yang dimiliki untuk merebut peluang.
3. Mengoptimalkan peran tim media untuk membongkar kasus-kasus yang terjadi selama kepemimpinan lawan dalam pemerintahan.
4. Menarik lawan ke dalam lingkaran perdebatan akademis untuk menutupi kelemahan penguasan bahasa gaul, sekaligus untuk menciptakan ancaman baru bagi lawan.
STRATEGI PENGGALANGAN SUARA
Berikut berbagai poin penting yang dapat dibuat political mapping-nya berdasarkan political profiling yang terkait strategi mobilisasi:
1. Membangun Jaringan Politik beserta Struktur Organisasinya.
- Membuat Desain Struktur Tim Pemenangan.
- Membentuk Tim Pemenangan di semua level, bahkan sampai ke level paling bawah.
- Memperluas jaringan sosial kemasyarakatan.
2. Melakukan Pengarahan Tim Pemenangan.
- Memahami tingkah laku pemilih.
- Membuat Struktur Organisasi Tim Pemenangan.
- Melakukan penargetan.
- Media kampanye
- Melakukan penyusunan program.
- Selalu melakukan evaluasi program.
3. Melakukan Penyusunan Program Pemenangan.
- Membuat Desain program kunjungan ke jejaring.
- Menyampaikan visi dan misi dalam bentuk orasi politik.
- Melakukan aksi sosial.
- Terlibat dalam kegiatan publik atau privat
- Melakuan Kontrak politik.
- Melakukan komunikasi secara tradisional.
- Melakukan komunikasi kekinian dengan dukungan multimedia dan media alternatif lainnya.
4. Berusaha Memenuhi Persyaratan Pencalonan.
a. Berusaha mendulang dukungan koalisi.
b. Memenuhi persyaratan administrasi.
5. Melakukan pembentukan Tim Kampanye.
6. Melakukan pembentukan Tim Saksi.
Tujuan Strategi ini antara lain:
A. Membangun organisasi pemenangan Calon yang Efektif dan Efisien.
B. Mendesain kerangka kerja organisasi yang jelas dan terukur.
C. Menentukan target-target pemenangan dan jadwalnya.
Pemetaan Pribadi Calon
- Apa saja hal baik tentang diri calon yang dapat disampaikan oleh pemilih?
- Apa saja hal buruk yang dapat disampaikan oleh pemilih tentang calon?
- Apa sajakah asset dan kewajiban calon?
- Apakah usia, jenis kelamin, gender, dan pengalaman calon merupakan kelemahan atau kekuatan?
- Apakah prestasi calon? Apakah yang telah dicapai oleh jejaring koalisi di mana calon menjadi bagian di dalamnya?
- Siapa sajakah yang telah calon bantu? Apakah mereka akan memberikan apresiasi secara publik?
- Mengapa calon layak menjadi seorang calon? Apa prestasi calon pada jabatan terakhir?
- Mengapa pemilih harus memilih calon?
- Apa sajakah yang dapat calon tawarkan kepada pemilih?
- Apa sajakah yang membuat calon berbeda dengan calon lain?
- Bagaimana kinerja calon selama ini?
- Apa sajakah pengalaman dan kaitan politis calon dengan pemilih?
- Calon pernah berpartisipasi di mana saja dan sebagai apa?
- Apakah pernah calon ketika sebagai atasan atau pimpinan sebelumnya kurang bertanggungjawab?
Pesan Kampanye
Calon perlu membuat sebuah pesan yang baik, yang memiliki indikator:
Jelas dan singkat. Mudah untuk dipahami oleh penerima pesan.
Menarik. Terutama ditujukan kepada pemilih yang akan diyakinkan.
Kontras. Mampu melakukan differensiasi calon dari pesaing.
Menyentuh. Kepada apa yang paling urgen bagi pemilih kandidat.
Konsisten. Disampaikan secara berkelanjutan.
Calon hanya membutuhkan sebuah pesan untuk menjawab pertanyaan pemilih: mengapa saya (pemilih) harus memilih Anda (calon) dan bukannya pesaing (calon lain) Anda?
Calon perlu melakukan latihan dalam menyampaikan pesan sehingga calon mencapai tingkat paling nyaman ketika menyampaikannya ke pihak pemilih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar