Kepada
Yth.
Saya sendiri
di masa kapanpun
Menjadi pelajar di perguruan tinggi itu privilese, kesempatan istimewa. Belajar sampai perguruan tinggi itu butuh biaya lebih. Sudah semestinya mengusahakan yang terbaik. Suatu saat, para pelajar lah yang akan menjadi pemimpin di negeri ini, pemimpin apapun itu.
Selain akademik, perlu juga keterampilan hidup, termasuk kemampuan beradaptasi, mengelola waktu, berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, serta meningkatkan kapasitas diri sehingga siap menjadi problem solver. Selain itu juga, perlu dimengerti bagaimana cara belajar efektif, berpikir kritis, kreatif, dan strategis.
Jangan hanya belajar di dalam ruang kuliah. Sayang sekali jika hanya belajar di dalam kelas saja. Kalau hanya mengandalkan kuliah di dalam ruang akademik, hanya akan keluar membawa sertifikat kelulusan dan ijazah saja. Hidup di masa mendatang Masa depan tidak hanya bergantung pada bukti di atas kertas.
Jangankan hidup setelah lulus, hidup sebelum lulus, di luar kelas, di organisasi saja, tidak mudah ditebak, sangat dinamis. Kalau di akademik perkuliahan, materi dan ujiannya terukur, ada kurikulum yang sudah tersusun dan terencana. Jadwalnya, butir soal, tugas per pertemuan, UTS, UAS, lebih mudah dipelajari daripada di luar kelas perkuliahan yang sudah harus siap terjun.
Kalau di luar kelas perkuliahan, langsung terjun dan siap bertahan hidup. Karena itu, perlu belajar untuk memimpin, belajar menghadapi banyak orang, beragam isi kepala, menjadi bagian dari masyarakat ketika belum lulus kuliah.
Keterampilan teknis penting sebagai kemampuan awal. Tetapi keterampilan strategis, seperti jiwa kepemimpinan, menganalisis situasi dan lingkungan, mengelola hubungan dan komunikasi, itu bekal untuk menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas.
Nilai, IP, hasil di KHS, bukannya tidak penting. Penting sekali. IPK paling tidak 3,5 ke atas. Baru ketika nilai stabil, lengkapi dan sempurnakan dengan kemampuan dan kecakapan selain nilai yang berupa angka, dengan nilai yang bermakna.
Jaga nilainya, usahakan untuk lulus tepat waktu. Kalaupun tidak tepat waktu, jangan lama-lama sampai lebih dari 10 semester. Manfaatkan waktu di luar jadwal kuliah untuk kegiatan yang lain.
Selain kuliah, mempelajari mata kuliah yang sudah tersedia, intinya kompetensi yang sesuai dengan program studi. Jika program studi pendidikan, maka pelajari betul tentang ilmu pendidikan dan praktik mengajar. Selain kompetensi program studi, kalau bisa tambahi dengan kemampuan bahasa internasional seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab. Ketiga, kemampuan untuk melakukan penelitian, minimal mampu berpikir ilmiah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Syukur bisa melakukan penelitian dan menuliskannya ke dalam laporan penelitian.
Sebagaimana juga yang seringkali terjadi, bahwa kegiatan atau pekerjaan setelah lulus belum tentu relevan dengan program studi. Lulusan Tarbiyah belum tentu semua menjadi guru di sekolah atau madrasah. Oleh karena itu, yang penting dipersiapkan adalah kesiapan atau kemampuan beradaptasi. Beradaptasi dengan bidang yang berbeda atau malah betul-betul baru sama sekali.
Saya kira, tidak ada lulusan yang tidak memiliki penyesalan sama sekali. Sedikit banyak, ada rasa penyesalan. Tinggal bagaimana penyesalan itu tidak banyak. Sedikit saja penyesalan karena di masa sebelumnya seseorang sudah mengusahakan yang terbaik, meski ada beberapa yang tidak atau belum tercapai.
Saya sampaikan lagi. Saya ulangi, sebagaimana di pembukaan tadi.
Menjadi pelajar di perguruan tinggi itu privilese, kesempatan istimewa. Belajar sampai perguruan tinggi itu butuh biaya lebih. Sudah semestinya mengusahakan yang terbaik. Suatu saat, para pelajar lah yang akan menjadi pemimpin di negeri ini, pemimpin apapun itu.
Semoga berhasil dalam belajar, semoga berhasil dalam hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar