PEMBUKAAN
Ketika kekuasaan yang ada menghendaki tiap ucapan dan tindakan merupakan satu rangkaian yang telah digariskan, dan politik sebagai panglima. Pengertian "politik sebagai panglima" mungkin jarang terdengar tetapi malah bisa dirasakan penerapannya. Politik sebagai panglima berarti suatu pengerahan segala hal untuk kepentingan politik. Mobilisasi sesekali memang perlu. Tapi dalam perkembangannya, prinsip ajaran "politik sebagai panglima" kemudian dapat berarti sikap taat buta pada pertimbangan suatu kekuasaan politik - di atas pertimbangan lain apa pun.
Disorientasi dalam "Politik Sebagai Panglima"
Pertanyaannya, bisakah fokus mewujudkan pengembangan SDM? Jelas, itu bukan sebuah pekerjaan mudah. Tantangan terbesar dan terberat dalam merealiasikan pembangunan SDM adalah kecenderungan tidak kondusifnya situasi politik yang berkepanjangan. Sebelum, saat, dan sesudah musim pemilihan, ‘pertarungan' antarkelompok semakin sering terjadi seiring dengan kepentingannya masing-masing.
Jika hal ini terus berlanjut tanpa bisa dikendalikan, disorientasi politik akan dituai yang justru berimplikasi negatif terhadap pembangunan SDM. Kalau itu yang terjadi, bukan malah forum kajian atau penampilan kesenian yang akan menjadi suguhan, melainkan justru manuver dan intrik para pemain politik. Itu akibat dari sebuah sistem demokrasi langsung yang berlaku. Untuk mendulang suara, calon beserta pendukungnya harus pandai “berdagang” dan “menjual diri”. Namun, persoalannya menjadi sangat rumit apabila perang strategi tersebut justru dipakai untuk menghabisi lawan politik. Ini praktik politik yang tidak sehat dan justru membuat praktik dan budaya demokrasi menjadi kebablasan.
REORIENTASI DALAM "KEMAJUAN PENDIDIKAN ADALAH KEBENARAN HAKIKI"
Di alam demokrasi, permainan politik di lingkungan sekitar ini harus tetap elegan dalam memasarkan posisi politiknya. Calon dan pendukungnya harus bisa menawarkan program konkret kepada konstituennya, bukan “menghabisi lawan” dengan cara yang licin. Bagaimanapun pemotongan pasti akan melahirkan pemotongan berikutnya. Lalu, jika disorientasi politik ini masih terus berlanjut dan tak dihentikan, atau paling tidak diminimalisir, akibat yang harus dialami pun pasti akan sangat signifikan.
Kaum intelektual menjadi tak nyaman berproses di dalam, sehingga mereka akan mencari tempat dan wadah lain yang lebih menjamin keamanan dan kenyamanan. Akibat selanjutnya, tren intelektual yang sudah berjalan naik akhirnya jadi berantakan.
PENUTUP
_*"Bagi seluruh peserta yang menjadi ataupun tidak, sebagai tim sukses atau ikut campur, ataupun berpihak kepada calon yang terpilih, agar tidak terlalu gaduh karena perasaan senang atau bangga atas kemenangan. Sebab kontestasi politik bukanlah menjadi tujuan, melainkan hanya sebagai alat ataupun jalan daripada kita menjalani proses di rayon. Di samping itu, setelah ini ada hal yang lebih penting daripada politik tersebut yakni menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan dan menjadikan kemajuan pendidikan di dalam rayon kita, mengingat rayon kita adalah rayon fakultas tarbiyah dan ilmu keguruan."._
M. Masyfu' Zuhdi
3 Desember 2021
_*"Masih ada dunia lain. Sisi revolusioner dari istilah 'dunia lain' dapat beriringan dengan wacana pengembangan SDM. Lagi pula, sebagai tren baru, 'Pendidikan adalah kebenaran hakiki' , segala sesuatu yang lain-termasuk arus tunggal politik-adalah 'utopianisme yang fantastis'. Revolusi hari ini bukanlah sumber potensi revolusioner ala komunis, tetapi tanda kebanggaan akan kemajuan pendidikan, pengembangan SDM."*_
M. Q. Aynan
3 Desember 2021
Tidak ada komentar:
Posting Komentar