---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 10 Agustus 2021

Teori Tanpa Praktik Lumpuh, Praktik Tanpa Teori Buta

 


Kehidupan pribadi tak semuanya hanya urusan pribadi, sendiri. Apalagi, ketika pribadi satu dengan pribadi lainnya berinteraksi, pribadi itu berurusan dengan urusan yang melibatkan lebih dari satu pihak. Terlebih apabila antar pribadi itu berinteraksi dalam satu wadah, melakukan praktik dalam berorganisasi, maka diperlukan alat untuk melihat, melihat dengan penglihatan yang tidak sempit, sudut pandang yang lebih luas.


Buku sudah banyak ditulis oleh para pakar. Bahan bacaan juga lebih bervariasi seiring perkembangan internet. Jika literatur yang mudah diakses itu tidak dipraktikkan, maka bahan bacaan tetap akan menjadi mentah, tanpa pernah diolah. Sebanyak apapun alat penglihatan, sebanyak apapun teori yang tersedia untuk memandang persoalan, apabila tidak dipraktikkan, akhirnya lumpuh juga.


Sebaliknya, apabila praktik yang dilakukan tidak ada rujukan teori, padahal sudah banyak ahli yang menuliskannya dalam karya mereka, maka arah akan menjadi buram, kabur, dan tidak jelas. Penglihatan menjadi buta, asal jalan tak tahu mau dibawa kemana. Fakta, konsep, prinsip, dan prosedur di dalam operasional sehari-hari, hanya hasil karangan, coba-coba, yang penting terlaksana, yang penting terealisasi, mengandalkan asumsi, imajinasi, atau bahkan halusinasi.


Pada dasarnya, dalam realitas keseharian, teori dan praktik memang sering tidak berjalan beriringan. Akan tetapi, itu bukan alasan untuk melanggengkan kecenderungan atau tren yang salah kaprah. Itu juga bukan alasan untuk lebih rela hanyut dalam arus (seolah-olah) kewajaran. Justru bagaimana praktik itu, meskipun tidak sepenuhnya seiring dengan teori, terapi mendekati, karena memang didasari oleh pertimbangan berbasis fakta yang teramati secara nyata, konsep yang dirancang secara utuh, prinsip yang dibangun secara kokoh, dan prosedur yang disusun secara sistematis.


Jika tidak, maka praktik buta akan cenderung menimbulkan opini negatif, pandangan sinis, dan interpretasi liar. Oleh karenanya, mempraktikkan teori penting agar tidak lumpuh, kemudian ditambah praktik yang menggunakan teori yang memiliki rujukan otoritatif untuk melengkapi. Selanjutnya, keputusan yang diambil lebih bisa diterima dengan baik oleh segenap pemangku kepentingan.


Sangat perlu, penting, dan mendesak, keseimbangan antara teori dan praktik, antara praktik dengan teori. Apalagi jika itu menyangkut pengambilan keputusan atau kebijakan yang berkaitan langsung dengan banyak orang. Terlalu banyak teori, atau malah teorinya tidak utuh, akan menghasilkan suara sumbang saja. Praktik juga perlu disertai dengan banyak mendengar masukan, baik itu kuantitas pihak pemberi masukan, maupun kualitas pembisik. Dengan mendengar masukan yang berkualitas, praktik akan menjadi efektif dan efisien, keputusan yang diambil memuat kepastian, jelas dan terarah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar