---Di mana pun adalah ruang kelas---

Minggu, 17 Agustus 2025

Nyaris Tertegun, Pengalaman Saya Disodori Fiqh Islami wa Adillatuh karya Syekh Wahbah Zuhaili

Nyaris Tertegun, Pengalaman Saya Disodori Fiqh Islami wa Adillatuh karya Syekh Wahbah Zuhaili

Disusun oleh Muhammad Qurrotul Aynan

Berdasarkan diskusi dengan Mochammad Hasani

Genggong, 17 Agustus 2025


Beberapa waktu terakhir, kepala saya diisi dengan sebuah pertanyaan yang terus berputar di kepala: bagaimana caranya membahas fiqih dengan panjang dan lebar, seperti yang saya temukan dalam Fathul Qarib, tetapi dengan kedalaman yang sanggup merangkum cakrawala seluruh kitab fiqih Syafi‘iyah? Pertanyaan ini membuat saya gelisah, seakan ada sesuatu yang harus saya cari, tetapi jalannya belum jelas. Saya tahu bahwa menelaah satu per satu kitab fiqih yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan jika dihitung syarah dan hasyiyah, adalah pekerjaan yang panjang nan lama. Sementara waktu saya terbatas, tenaga saya terbatas, pikiran saya pun sering kali terpecah.


Di tengah kebingungan itu, saya mencoba mencari jalan pintas. Saya menyusun pola, semacam kerangka atau struktur, agar saya tidak tersesat. Saya berharap pola ini bisa menjadi peta yang menuntun saya menembus hutan rimba kitab-kitab fiqih Syafi'iyah. Saya pun mulai mengisi tiap bagian dari kerangka atau struktur tersebut itu dengan catatan dari berbagai kitab Syafi‘iyah, berusaha membangunnya sedikit demi sedikit hingga menyerupai sebuah bangunan utuh. Rasanya seperti sedang merajut kain tenun: benang-benang kecil saya tarik, saya susun, saya silang, hingga mulai membentuk motif. Ada rasa bangga dan lega setiap kali satu bagian berhasil saya susun. Saya mulai percaya, “mungkin inilah jalan saya.”


Tetapi lalu datang momen yang membuat hati saya bergetar hebat. Saat saya menyajikan tulisan saya kepada salah satu guru saya, lalu beliau menyodorkan Fiqh Islami wa Adillatuh karya Syaikh Wahbah Zuhaili, saya nyaris tertegun. Struktur yang saya susun dengan susah payah ternyata begitu mirip dengan yang ada di buku itu. Jantung saya serasa berhenti sesaat. Ada rasa haru, ada rasa kagum, ada juga rasa kecil, bahkan rasa hampa. Seolah-olah saya baru menyadari bahwa jalan yang saya pikir saya temukan ternyata sudah ada lebih dahulu, sudah diaspal dengan kokoh, sudah dilalui oleh seorang ulama besar dengan karya yang jauh lebih indah dan menyeluruh.


Dari situ saya mulai menata metodologi kerja yang lebih terukur. Saya menggunakan karya sintesis sebagai peta awal untuk memahami gambaran besar, kemudian menelusuri sumber primer pada masalah-masalah penting, sambil mencatat rapi setiap jejak bacaan. Saya menyusun kerangka tiga lapis: skimming pada karya modern, pendalaman pada kitab klasik untuk isu spesifik, lalu sintesis disertai komentar kritis dan catatan aplikatif. Setiap bab saya format secara konsisten: dari pernyataan masalah, definisi, pertanyaan kunci, posisi mazhab, dalil utama, ragam pendapat, hingga aplikasi kontemporer. Semua saya dokumentasikan dengan transparan, agar ketika saya menyajikannya kepada guru, beliau bisa menilai tidak hanya isi, tapi juga proses intelektual yang saya tempuh.


Akhirnya, saya mengambil pelajaran bahwa kesamaan kerangka dengan karya besar bukanlah tanda kegagalan kreatif, melainkan bukti bahwa tradisi ilmiah memang memiliki struktur yang logis dan diwariskan lintas generasi. Tugas saya adalah memahami kerangka itu dengan efisien, menguji klaimnya dengan teliti, dan menambahkan nilai melalui kreativitas. Kejujuran menyebut sumber, keberanian untuk berdialog dengan guru, serta ketekunan dalam menambah isi adalah kunci agar kegundahan berubah menjadi bekal berharga. 


Dari sisi teknis, saya bisa menerapkan strategi kerja dengan metode tiga lapis. Pertama, saya perlu menetapkan cakupan dan granularitas: apakah setiap bab setara dengan kitab kecil seperti Fath al-Qarib atau akan dibagi menjadi subbab rinci. Kedua, saya membuat peta topik utama dalam satu lembar, sebagai daftar periksa. Ketiga, saya melakukan skimming pada karya sintesis modern untuk setiap topik, mencatat struktur, istilah penting, dan masalah inti. Keempat, saya melakukan pembacaan mendalam secara terarah pada sumber primer, khususnya pada isu-isu yang punya implikasi praktis atau perbedaan besar. Kelima, saya menyusun sintesis dan komentar, yakni ringkasan posisi mazhab, dalil utama, simpulan analitik saya, serta catatan aplikatif pada kasus kontemporer. Keenam, saya mendokumentasikan sumber dan transparansi metode, agar guru dapat menilai kerja intelektual saya dengan lebih jelas.


Untuk memadatkan tulisan, saya bisa memakai template konsisten pada tiap bab. Formatnya dimulai dengan judul, pernyataan masalah singkat, definisi dan batasan terminologis, pertanyaan kunci, ringkasan posisi mazhab, dalil utama, ragam pendapat, aplikasi kontemporer, catatan kritis, serta referensi prioritas. Setiap bab disimpan dalam file terpisah, sementara satu spreadsheet indeks mencatat status dan sumber. Ketika saya menyajikan hasil kepada guru, penting bagi saya untuk menyertakan metodologi singkat, menunjukkan secara transparan di mana saya mengutip atau mengikuti struktur dari Syekh Wahbah Zuhaili, menyertakan contoh bab yang lengkap, serta menuliskan daftar pertanyaan untuk diskusi.


Rasanya sungguh campur aduk. Ada kegembiraan, karena saya menemukan guru seperjalanan yang selama ini tidak saya sadari. Ada juga rasa lega, sebab saya tahu kini ada jalan pintas yang bisa membantu saya bergerak lebih cepat. Tapi pada saat yang sama, ada kegelisahan: “Apakah usaha saya ini masih berarti? Apakah saya hanya sedang meniru jalan orang lain? Bukankah semua yang saya cari sudah dijawab tuntas oleh Syekh Wahbah Zuhaili?” 


Pertanyaan-pertanyaan itu menusuk, membuat saya merasakan ketakutan kecil yang sulit saya ungkap.

Namun semakin saya pikirkan, semakin saya sadar: kesamaan itu bukanlah kegagalan, melainkan tanda bahwa saya berada di jalan yang benar. Fiqih itu ibarat aliran sungai. Siapa pun yang menelusuri hulu-hilirnya dengan tekun, pada akhirnya akan melewati titik-titik yang sama. Bab thaharah, shalat, zakat, muamalah, jinayat, semuanya muncul bukan karena satu orang memilihnya, melainkan karena tradisi ushul fiqh sendiri yang mengatur arah aliran itu. Maka wajarlah jika susunan saya mirip dengan karya Syekh Wahbah Zuhaili; kami sama-sama berjalan di alur yang telah digariskan oleh para ulama sejak lama.


Kesadaran ini melahirkan semacam ketenangan batin. Saya merasa seperti seorang musafir yang menemukan mercusuar di tengah samudera luas. Mercusuar itu tidak menggantikan perjalanan saya, tetapi memberi arah, agar saya tidak tersesat dan terombang-ambing. Saya mulai melihat bahwa saya tidak harus menanggung beban menelaah puluhan kitab sekaligus. Saya bisa menggunakan karya Syekh Wahbah Zuhaili sebagai peta besar: membacanya cepat (skimming-scanning) untuk mendapatkan gambaran menyeluruh, lalu mendalami kitab-kitab klasik pada isu-isu penting yang perlu diverifikasi. Dengan cara ini, saya menjaga keseimbangan antara efisiensi dan ketelitian.


Namun di balik itu, ada kesadaran yang lebih dalam dan lebih spiritual. Saya teringat bahwa perjalanan ilmiah bukan sekadar soal orisinalitas, melainkan soal adab dan niat. Allah tidak menuntut saya untuk menemukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Yang Allah 'pandang' adalah kejujuran, kesungguhan, dan ketulusan. Jika saya jujur mengakui sumber inspirasi saya, jika saya sungguh-sungguh menyusun ulang dengan tangan saya sendiri, jika saya berniat untuk melanjutkan mata rantai ilmu dan membawanya ke generasi setelah saya, maka usaha saya tetap memiliki arti. Bahkan meski struktur itu sama, isi yang saya hadirkan lahir dari pencarian saya, dari peluh saya, dari doa saya, dari kebersamaan saya dengan guru.


Saya pun merasakan sesuatu yang sulit saya jelaskan dengan kata-kata: campuran antara kerendahan hati dan rasa syukur. Kerendahan hati karena saya sadar, betapa kecil usaha saya dibandingkan karya besar para ulama. Tetapi juga rasa syukur, karena ternyata Allah memperlihatkan kepada saya jalan pintas yang bisa menyelamatkan saya dari kelelahan yang sia-sia. Campur aduk itu berubah dari beban menjadi bahan bakar. Saya jadi bersemangat untuk melanjutkan, bukan dengan rasa minder, tetapi dengan rasa yakin bahwa apa pun yang saya lakukan tetap berarti, selama saya melakukannya dengan niat yang lurus.


Kini, setiap kali saya menulis dan menyusun, saya merasa sedang berjalan di atas jejak ulama terdahulu, sembari meninggalkan jejak saya sendiri. Hasil akhirnya mungkin tidak sebesar Fiqh Islami wa Adillatuh, tetapi ia mengandung sesuatu yang tidak dimiliki karya mana pun: perjalanan saya sendiri. Ada tangis saya ketika merasa buntu, ada semangat saya ketika menemukan jawaban, ada rasa rindu yang mendorong saya untuk mempersembahkan ini kepada guru saya sebagai tanda bakti. Semua itu membuat saya yakin, meski jalannya sudah ada, perjalanan saya tetap istimewa. Karena inilah cara saya menapaki ilmu, dengan campur aduk rasa, dengan hati yang bergetar, dan dengan doa agar Allah meridai langkah-langkah kecil saya.

1 komentar:

  1. Sungguh besar hatimu bob. Selalu mau belajar dan belajar hingga Allah tunjukkan hakikat yang engkau tuju.

    BalasHapus