---Di mana pun adalah ruang kelas---

Jumat, 22 Agustus 2025

Ringkasan Mengenal Allah menurut Sullam at-Tawfiq

Ringkasan Mengenal Allah menurut Sullam at-Tawfiq 

Muhammad Qurrotul Aynan 


Jawaban singkat:

Setiap mukallaf wajib meyakini tiga belas sifat Allah ﷻ yang menandakan kesempurnaan mutlak, seperti wujud, keesaan, keabadian, kekekalan, ketidakmiripan dengan makhluk, kemerdekaan mutlak, kekuasaan, kehendak, ilmu, pendengaran tanpa telinga, penglihatan tanpa mata, hidup tanpa ruh, dan kalam tanpa huruf atau suara. Sifat-sifat ini tidak bersifat sementara atau tercipta, melainkan azali, dan tidak ada makhluk yang menyerupai-Nya. Mukallaf juga wajib mengetahui apa yang mustahil bagi Allah, seperti tidak ada, berbilang, baru tercipta, berhenti, serupa dengan makhluk, bergantung pada makhluk, lemah, terpaksa, atau jahil. Selain itu, Allah boleh, menurut hikmah-Nya, mewujudkan sesuatu atau membiarkannya tidak ada, namun segala sesuatu terjadi sesuai ilmu dan kehendak-Nya tanpa permulaan. Pemahaman ini memberi dasar iman, tauhid, dan keyakinan dalam ibadah dan akhlak, sekaligus menegaskan keesaan dan kesempurnaan Allah.


Jawaban mendalam:

Sering terjadi salah kaprah bahwa memahami sifat Allah cukup dengan membaca atau menghafal istilahnya saja, atau sekadar meniru pendapat ulama tanpa menyadari maknanya. Jika seseorang beranggapan bahwa ketiga belas sifat Allah bisa dianggap opsional atau simbolik semata, ia keliru karena ini adalah pokok tauhid uluhiyah dan dzat yang menentukan seluruh keyakinan, ibadah, dan akhlak seorang mukmin. Alasan yang benar adalah setiap mukallaf wajib meyakini tiga belas sifat Allah secara sadar dan penuh keyakinan, karena sifat-sifat ini menandakan kesempurnaan mutlak Allah yang tidak dapat dihitung atau dicapai oleh makhluk mana pun. Dalil Al-Qur’an menunjukkan pentingnya sifat-sifat Allah: “Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Mahakuasa, Yang Maha Bijaksana” (QS. Al-Hasyr: 22-24). Hadits Nabi ﷺ menegaskan: “Iman adalah meyakini Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk” (HR. Muslim), yang mencakup pengakuan atas kesempurnaan dan sifat-sifat-Nya.

Definisi pokok di sini adalah sifat Allah azali yang tidak diciptakan, tidak berubah, dan mutlak sempurna. Makna konsep ini menegaskan bahwa Allah berbeda dengan seluruh makhluk dalam dzat, sifat, dan perbuatan, dan istilah yang menyerupai sifat makhluk hanya membantu akal memahami makna tanpa menandingi hakikat Allah. Kata kunci seperti wujud, wahdaniyah, azaliyah, al-baqa, adam musyabahah, al-istighna al-mutlaq, qudrah, iradah, ‘ilm, sam‘, basar, hayat, kalam masing-masing menunjukkan aspek kesempurnaan, ketidakbergantungan, dan kemahakuasaan Allah yang tidak mungkin dimiliki makhluk.

Secara analisis, memahami ketiga belas sifat ini menuntun mukallaf untuk menghindari syirik dan salah kaprah dalam akidah, karena ia mengetahui secara sadar apa yang wajib disandarkan hanya kepada Allah. Rasionalisasi menunjukkan bahwa menafikan atau menyamakan sifat-sifat ini dengan makhluk akan menghancurkan fondasi tauhid, karena mengaburkan batas antara Pencipta dan makhluk. Dengan memahami sifat-sifat ini, seorang mukmin dapat menyesuaikan ibadah dan akhlak dengan benar, menyadari bahwa segala perintah, larangan, dan kehendak Allah bersumber dari kesempurnaan-Nya, bukan kebutuhan atau keterbatasan.

Keterkaitan dengan akidah, ibadah, dan akhlak sangat jelas: keyakinan atas sifat-sifat Allah menegaskan tauhid dzat, sifat, dan af‘al, menumbuhkan kepatuhan dalam ibadah, dan membentuk akhlak yang selaras dengan kesadaran akan kemahakuasaan Allah. Mukallaf tidak boleh mengambil sikap taqlid kosong untuk pokok-pokok ini, karena fondasi tauhid harus diyakini secara langsung oleh akal dan hati.

Kesimpulannya, memahami ketiga belas sifat Allah secara sadar dan rinci adalah wajib bagi setiap mukallaf, karena sifat-sifat ini menunjukkan kesempurnaan mutlak, memelihara tauhid dari kekeliruan, dan menjadi dasar seluruh ibadah dan akhlak. Allah tidak memiliki lawan atau serupa, segala sesuatu diciptakan dan terjadi sesuai ilmu dan kehendak-Nya tanpa permulaan, menegaskan keesaan, kekuasaan, dan kesempurnaan-Nya yang mutlak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar