---Di mana pun adalah ruang kelas---

Jumat, 22 Agustus 2025

Mengapa Allah Tidak Mungkin (Mustahil) Membutuhkan Selain-Nya?

Mengapa Allah Tidak Mungkin (Mustahil) Membutuhkan Selain-Nya?

Muhammad Qurrotul Aynan 


Jawaban Singkat:

Allah tidak mungkin (mustahil) membutuhkan makhluk-Nya karena Dia adalah al-Ghaniyy (Maha Kaya) dan al-Qayyūm (Maha Berdiri Sendiri) yang sempurna dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Segala yang mengada (diadakan) (mawjud) bergantung kepada-Nya, sedangkan Dia tidak bergantung kepada siapa pun dan apapun. Keyakinan ini adalah bagian dari tauhid dzat dan sifat, sekaligus menegaskan kemurnian ibadah hanya kepada-Nya tanpa menisbatkan kekurangan sedikit pun kepada Allah.


Jawaban Mendalam:

Bisa jadi ada orang yang keliru berpikir bahwa Allah “membutuhkan” makhluk-Nya untuk disembah agar memperoleh kemuliaan atau kekuasaan. Pandangan ini lahir dari pengukuran sifat Allah dengan standar sifat makhluk. Padahal, kebutuhan adalah tanda kekurangan, sedangkan kekurangan mustahil bagi Allah. Jika Allah butuh makhluk, maka keberadaan-Nya bergantung kepada sesuatu selain-Nya, yang berarti meniadakan sifat-Nya sebagai Wājib al-Wujūd (Yang Maha Niscaya Ada). Ini jelas kontradiksi dengan akidah yang benar.

Alasan yang benar mengapa Allah tidak membutuhkan makhluk adalah karena kesempurnaan dzat-Nya yang bersifat qadīm (tidak berpermulaan) dan baqā’ (tidak berkesudahan). Allah memiliki sifat al-Ghinā’ (Maha Kaya) yang berarti tidak bergantung pada apa pun. Sebaliknya, semua makhluk bergantung kepada-Nya dalam wujud, keberlangsungan, dan segala kebutuhannya. Dalam kerangka tauhid dzat, sifat, dan af‘āl, hal ini menegaskan bahwa seluruh kekuasaan, penciptaan, dan pemeliharaan berasal dari Allah semata.

Allah berfirman dalam QS Fāṭir [35]:15: “Yā ayyuhā an-nāsu antum al-fuqarā’ ilallāh, wallāhu huwa al-ghaniyyu al-ḥamīd” yang artinya: “Wahai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis riwayat Muslim: “Wahai hamba-Ku, kalian tidak akan mampu memberi mudharat kepada-Ku dan tidak akan mampu memberi manfaat kepada-Ku.” Kedua dalil ini menunjukkan bahwa Allah sempurna tanpa ketergantungan kepada ciptaan-Nya.

Secara bahasa, ghaniyy berarti cukup, tidak memerlukan tambahan, dan tidak kekurangan sedikit pun. Dalam istilah akidah, al-Ghaniyy adalah sifat Allah yang menunjukkan bahwa seluruh dzat, sifat, dan af‘āl-Nya tidak memerlukan penopang atau penentu dari luar. Perbedaan mendasar antara makna bahasa dan istilah adalah bahwa makna istilahi menegaskan kemutlakan dan kekekalan sifat ini, tanpa kemungkinan perubahan.

Konsep Allah tidak membutuhkan makhluk terkait langsung dengan tauhid dzat dan tauhid sifat. Dalam tauhid dzat, ini berarti dzat Allah sempurna dan mandiri. Dalam tauhid sifat, ini berarti sifat Allah tidak terbatas atau terpengaruh oleh makhluk. Mutakallimin Asy‘ariyyah menekankan bahwa kemerdekaan/kemandirian Allah dari segala kebutuhan adalah sifat wajib yang jika diingkari, maka rusaklah dasar akidah.

Istilah qayyūm berasal dari kata qāma (berdiri) yang dalam bentuk mubālaghah berarti tegak-mandiri, menegakkan dan memelihara selain-Nya. Dalam akidah, al-Qayyūm berarti Allah tidak bergantung pada makhluk, tetapi makhluk bergantung kepada-Nya secara mutlak. Ini mencakup pemeliharaan keberadaan makhluk sejak penciptaan hingga keberlangsungan hidupnya.

Secara rasional, jika Allah membutuhkan makhluk, berarti ada kekurangan pada dzat-Nya yang hanya dapat dilengkapi oleh makhluk. Ini mustahil, karena yang menciptakan pasti lebih sempurna dari ciptaannya. Ibarat arsitek yang membutuhkan gedung untuk bisa disebut arsitek, logika ini cacat, sebab keahlian arsitek sudah ada sebelum ia membangun. Begitu pula kesempurnaan Allah sudah mutlak sejak azali, tanpa ciptaan.

Dari sisi akidah, memahami bahwa Allah tidak membutuhkan makhluk meneguhkan keyakinan bahwa ibadah adalah untuk kemaslahatan hamba, bukan untuk Allah. Dalam ibadah, ini menumbuhkan rasa ikhlas karena menyadari bahwa Allah tetap sempurna tanpa ibadah kita. Dalam akhlak, hal ini membentuk sikap tawadhu’ dan menjauhkan kesombongan dalam amal saleh.

Kesimpulannya, Allah Maha Sempurna, tidak membutuhkan makhluk, sedangkan seluruh makhluk mutlak bergantung kepada-Nya. Keyakinan ini ditegaskan oleh dalil naqli dan akal yang sehat, menjadi bagian penting dari tauhid dzat dan sifat. Seorang muslim wajib menjaga kemurnian tauhid ini agar selamat di dunia dan akhirat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar