Kenapa Kita Menyembah Allah dan Hanya Dia?
Muhammad Qurrotul Aynan
Jawaban Singkat:
Kita menyembah Allah karena hanya Dia yang benar-benar berhak disembah. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alam semesta tanpa sekutu, serta memiliki kesempurnaan mutlak yang tidak dimiliki makhluk. Al-Qur’an menegaskan ini dalam berbagai surat dan ayat. Menyembah selain Allah adalah kesyirikan, dan seluruh makhluk, betapapun hebatnya, tetap ciptaan yang tidak layak dijadikan sesembahan.
Jawaban Mendalam:
Banyak orang keliru dalam memaknai alasan mengapa kita menyembah Allah. Ada yang beranggapan bahwa kita menyembah-Nya karena Allah memberi manfaat. Padahal, di dunia ini ada banyak hal yang memberi manfaat secara nyata dan inderawi, seperti matahari yang memberi cahaya, air yang menghilangkan dahaga, atau obat yang menyembuhkan penyakit, namun semua itu tidak lantas kita sembah. Ada pula yang berpendapat bahwa penyembahan dilakukan karena takut akan murka atau ancaman. Tetapi, binatang buas, petir, dan penyakit mematikan pun bisa menakutkan dan mencelakakan, namun tak ada seorang pun yang waras menyembahnya. Ada pula yang mengatakan bahwa kita menyembah Allah karena Dia menciptakan kita. Padahal, secara lahiriah, orang tua kitalah yang menjadi sebab keberadaan kita di dunia. Jika alasan ini yang dipakai, mestinya mereka pun disembah. Bahkan ada yang beralasan bahwa Allah menciptakan dunia ini. Padahal, ada banyak faktor lain yang terlibat dalam terbentuknya bumi dan alam semesta ini. Jika logika itu diikuti, semua faktor itu pun layak disembah. Seluruh alasan keliru ini runtuh karena membuka celah bagi penyembahan selain Allah, yang jelas bertentangan dengan prinsip tauhid.
Alasan yang benar kita menyembah Allah adalah karena Dia satu-satunya yang berhak disembah secara mutlak. Tidak ada makhluk atau entitas lain yang memiliki hak ketuhanan, baik dalam aspek rubūbiyyah, yakni kekuasaan mutlak dalam mencipta, mengatur, dan memelihara alam semesta, maupun dalam aspek ulūhiyyah, yakni hak tunggal untuk diibadahi. Dalam perspektif Asy‘ariyyah dan Māturīdiyyah, hal ini juga selaras dengan pembagian tauhid kepada tauhid dzāt (mengesakan Allah dalam keberadaan-Nya yang tiada serupa), tauhid ṣifāt (mengesakan Allah dalam sifat-sifat kesempurnaan-Nya tanpa menyerupai makhluk), dan tauhid af‘āl (meyakini semua perbuatan di alam ini pada hakikatnya adalah ciptaan-Nya). Kesadaran ini membuat kita memandang seluruh makhluk, betapa pun agung atau menakutkannya, tetap hanyalah ciptaan yang tidak layak disembah.
Dalil dari Al-Qur’an sangat jelas, seperti firman Allah: "Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang" (QS. Al-Baqarah: 163), dan "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" (QS. Adz-Dzāriyāt: 56). Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam hadis sahih riwayat al-Bukhārī dan Muslim: "Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun." Dalil-dalil ini menegaskan bahwa ibadah hanyalah untuk Allah, dan segala bentuk penyekutuan adalah penyimpangan terbesar.
Secara definisi, “menyembah” atau ‘ibādah adalah merendahkan diri secara total kepada Allah disertai rasa cinta dan tunduk sepenuhnya kepada-Nya, dalam bentuk ucapan, perbuatan, dan keyakinan. Adapun “hak untuk disembah” bermakna bahwa hanya Allah yang memiliki sifat-sifat ketuhanan secara mutlak: Dia Maha Sempurna, tidak berawal dan tidak berakhir, berdiri sendiri tanpa membutuhkan apa pun, serta memiliki kekuasaan penuh atas segala sesuatu. Semua sifat ini tidak dimiliki oleh selain-Nya.
Konsep terkait yang perlu dipahami di sini adalah tauhid ulūhiyyah, yakni mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah, dan tauhid rubūbiyyah, yakni meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, mengatur, dan memelihara alam. Dalam kerangka Asy‘ariyyah dan Māturīdiyyah, ini terhubung erat dengan tauhid dzāt, tauhid ṣifāt, dan tauhid af‘āl. Tauhid dzāt mengajarkan bahwa keberadaan Allah itu tunggal dan unik, tidak tersusun dan tidak terbagi. Tauhid ṣifāt menegaskan bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang azali, seperti ilmu, qudrah, irādah, dan hayat, yang tidak serupa dengan sifat makhluk. Tauhid al-af‘āl meyakini bahwa segala kejadian di alam semesta, dari yang besar hingga sekecil-kecilnya, adalah ciptaan dan ketentuan Allah.
Kata kunci seperti “rubūbiyyah” berasal dari kata “Rabb” yang berarti Pemelihara, Pengatur, dan Penguasa mutlak alam semesta. “Ulūhiyyah” berasal dari kata “ilāh” yang berarti yang disembah. “Dzāt” menunjuk pada keberadaan Allah yang hakiki dan unik, “ṣifāt” adalah sifat-sifat yang melekat pada-Nya, dan “af‘āl” adalah perbuatan atau ciptaan-Nya yang mencakup segala sesuatu. Memahami istilah-istilah ini dengan benar adalah langkah awal untuk membedakan mana yang haqq dan mana yang batil dalam masalah ketuhanan.
Secara rasional, tidak ada yang layak disembah kecuali Allah. Segala makhluk bergantung kepada-Nya, sementara Dia sama sekali tidak membutuhkan apa pun. Makhluk diciptakan, sedangkan Allah tidak berawal dan tidak diciptakan. Makhluk lemah dan terbatas, sedangkan Allah Mahakuasa dan tanpa batas. Bahkan hal-hal yang kita takuti atau kagumi hanyalah instrumen ciptaan Allah yang berjalan sesuai kehendak-Nya. Menyembah makhluk berarti memalingkan penghambaan dari sumber mutlak kekuasaan kepada sesuatu yang serba terbatas, sebuah kontradiksi logis yang menafikan akal sehat.
Keterkaitan masalah ini dengan akidah sangatlah jelas: pengesaan Allah dalam ibadah adalah inti dari iman. Dalam ibadah, kesadaran ini mendorong kita untuk menujukan shalat, doa, zikir, dan seluruh ketaatan hanya kepada Allah, tanpa menyekutukan-Nya dengan makhluk atau kekuatan lain. Dalam akhlak, keyakinan ini membentuk kerendahan hati, rasa syukur, dan keikhlasan, karena kita sadar bahwa segala nikmat dan ujian datang dari satu sumber yang sama, yakni Allah.
Kesimpulannya, penyembahan kepada Allah bukanlah karena manfaat langsung, rasa takut, atau sebab penciptaan secara lahiriah, melainkan karena hak ketuhanan yang hanya dimiliki-Nya. Inilah makna sejati dari lā ilāha illallāh: tiada sesembahan yang benar kecuali Allah. Kesadaran ini membentengi seorang Muslim dari segala bentuk syirik, memurnikan ibadahnya, dan meneguhkan akhlaknya dalam menghadapi kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar