---Di mana pun adalah ruang kelas---

Rabu, 20 Agustus 2025

“Tahlilan” Pada Abad 10 Masehi / 4 Hijriyah

 

“Tahlilan” Pada Abad 10 Masehi / 4 Hijriyah

Masyarakat Islam awal di Asia Tenggara (Champa, “Samudra Pasai” pra-Pasai): Islam masuk, tradisi lokal kuat, belum ada tahlilan khas Jawa

Pendahuluan: mendudukkan istilah dan menghindari anakronisme

Istilah tahlilan—yakni praktik doa bersama untuk orang wafat yang lazim di Jawa (sering meliputi rangkaian hari ke-1, 3, 7, 40, 100, haul, dsb.)—adalah konstruksi sosial-ritual yang tumbuh di Jawa dan sekitarnya dalam konteks Islam Nusantara berabad-abad kemudian. Membawa istilah ini ke abad ke-10 M / 4 H berisiko menimbulkan anakronisme. Yang bisa kita telusuri untuk periode ini adalah bibit-bibit praktik kematian Islam (doa, dzikir, kadang pembacaan ayat Al-Qur’an untuk mayit) di komunitas pedagang dan perantau Muslim di pelabuhan-pelabuhan Champa (pantai Vietnam sekarang) dan pesisir barat laut Sumatra (wilayah Fansur/BarusLamuri/Lamreh). Bukti arkeologis dan tekstual menunjukkan hadirnya orang-orang Muslim pada masa itu, tetapi belum ada bentuk tahlilan “khas Jawa” yang terstruktur.

Catatan metodologis & sumber

Kajian historiografi untuk abad ke-10 mengandalkan:

  1. Sumber epigrafi (prasasti/tombstone Arab/Kufik; prasasti Tamil/Jawa Kuno di Barus),

  2. Berita geograf-etnograf Arab–Persia–Cina (mis. Ibn Khurdādhbih, al-Mas‘ūdī; kompilasi modern oleh G. R. Tibbetts),

  3. Arkeologi pelabuhan (Barus/Lobu Tua; Lamreh/Lamuri; situs-situs Champa),

  4. Studi batu nisan awal dan jaringan batu Aceh (Guillot & Kalus; Perret; Feener),

  5. Sintesis sejarah perdagangan Samudra Hindia (Reid; Manguin; Kalus & Guillot; Feener).

Keterbatasan terbesar adalah kekosongan dokumentasi ritual rinci—hampir tak ada teks lokal abad ke-10 yang menggambarkan tata acara kematian. Karena itu, tulisan ini membedakan secara ketat antara (a) apa yang jelas terbukti, (b) inferensi dengan dukungan lintas-sumber, dan (c) spekulasi yang ditandai sebagai hipotesis.

Latar kawasan: jaringan Samudra Hindia dan pantai Asia Tenggara abad ke-10

Pada abad ke-10, jalur Musim Dingin–Musim Panas Samudra Hindia menghubungkan Teluk Persia/Gujarat dengan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Uraian sintesis tentang peredaran Muslim dan misi dagang ke istana Song menunjukkan nama-nama duta dengan patronim Muslim dari pelabuhan Asia Selatan–Tenggara; jejaring ini menjadi saluran awal komunitas Muslim pesisir di Nusantara dan Indochina maritim (Kalus & Guillot; ringkasan dalam sebuah bab Cambridge Core).(Cambridge Core, core-prod.cambridgecore.org)

Di Sumatra utara, dua toponim sangat sering disebut para penulis Arab sejak abad ke-9/10: Fansur (Barus)—terkenal karena kapur barus/camphor—dan Lamuri/Lamuri (sekitar Aceh Besar sampai Lamreh). Komoditas kapur barus—dipakai lintas budaya, termasuk dalam konteks pengawetan/ritual—menjadikan pelabuhan-pelabuhan itu magnet dagang lintas-benua (lihat Donkin untuk geografi sejarah kamper; Tibbets untuk para geograf Arab).(Brill)

Di Champa, pelabuhan-pelabuhan selatan (sekitar Phan Rang–Phan Ri) berinteraksi erat dengan pedagang India, Timur Tengah, dan Melayu; sebagian kecil komunitas Muslim tinggal dan bergaul di sana, terlihat dari berkas epigrafi awal abad-11 serta indikasi keberadaan Muslim sejak abad-10. Satu ringkasan kontemporer menyatakan secara eksplisit: “Two Kufic inscriptions found in what was southern Champa are dated around 1030 CE and there is some indication of a Muslim community in Champa in the tenth century.” (Manguin, “The Introduction of Islam into Champa,” dikutip dalam Ken D.W.T., Champa and the Malays, hlm. 7). Kutipan ini penting: prasasti 1030 M menandai ambang bukti material; indikasi abad-10 tetap berhati-hati (indikatif, bukan konklusif).

Sumatra utara pada abad ke-10: pra-“Samudra Pasai”

Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam baru benar-benar muncul dan berkembang abad ke-13–14 (al-Malik al-Ṣāliḥ wafat 1297; jaringan batu Aceh abad-15 meluas). Kajian epigrafi sistematis Guillot & Kalus memetakan batu nisan dan kronologi Pasai abad-13–16, serta isu legitimasinya (mis. penggantian nisan kemudian).(OpenEdition Journals, KURENAI, ResearchGate) Dengan demikian, pada abad ke-10 di pesisir utara Sumatra yang kelak menjadi Pasai, kita lebih berbicara tentang node dagang seperti Barus/Fansur dan Lamuri, bukan kerajaan Islam formal. Survei arkeologi mutakhir menekankan keunikan Barus sebagai situs hunian sejak akhir milenium pertama, dengan banyak kuburan Islam tua (bertarikh kemudian, mayoritas abad-14), serta tradisi lokal tentang “44 wali” Barus yang hidup dalam memori setempat.(OpenEdition Journals)

Temuan-temuan itu memberi gambaran berikut:

  • Lingkungan sosial: komunitas multietnis (Tamil, Melayu, Arab-Persia, Jawa Kuno), terlihat dari prasasti Tamil (1088 M) dan Jawa Kuno (diperkirakan abad-10) di Barus/Lobu Tua—memberi konteks ragam budaya sebelum lahirnya polities Islam lokal.(OpenEdition Journals)

  • Jejak Islam: kehadiran Muslim dapat ditarik dari laporan para geograf Arab tentang dagang Fansur/Lamuri (kompilasi Tibbets), dan dari batu-batu nisan Islam bertarikh beberapa abad sesudahnya yang menunjukkan kesinambungan komunitas Muslim pesisir.(Cambridge Core)

Semua ini memperkuat tesis bahwa abad ke-10 adalah fase protoplasmik: ada Muslim, ada kematian (tentu), ada ritus minimum Islam (du‘ā’, talqīn/𝘵𝘢𝘩𝘭īl dalam arti kalimat tauhid, sedekah), tetapi belum ada format “tahlilan Jawa” yang sistematis.

Champa pada abad ke-10: komunitas kecil Muslim dan interaksi lintas-kultur

Di Champa selatan, bukti paling keras berasal dari dua inskripsi Kufik bertarikh ca. 1030 M. Kutipan ringkasan yang merekap penelitian Pierre-Yves Manguin berbunyi: “Two Kufic inscriptions … dated around 1030 CE and there is some indication of a Muslim community in the tenth century.” (Manguin, “The Introduction…,” dalam Ken D.W.T., hlm. 7). Ini menunjukkan komunitas—barangkali kecil, kosmopolitan, maritim—yang berinteraksi dengan tradisi Cham dan Melayu. Karena basis sosialnya pedagang perantau, pola ritualnya kemungkinan sederhana: pembacaan syahadat, doa untuk almarhum, pengurusan jenazah sesuai syariat semampunya, dan tanpa penyusunan slametan yang kelak dikenal di Jawa.

Literatur juga mengingatkan agar kita tidak menekankan “Caham = Muslim” terlalu dini. Ken D.W.T. mencatat bahwa citra Champa yang “Islam” banyak terbentuk pasca-1471 (pengungsian Cham Muslim ke Malaka/Kelantan), sedangkan abad-10/11 masih sporadis. Ia menulis bahwa Islam “had not yet made major inroads into Champa” sebelum abad-15; faktor etno-kultural lebih dominan (Ken D.W.T., hlm. 7; mengutip Manguin dan Marrison). Dengan demikian, bila ada doa untuk mayit di komunitas Muslim Champa abad-10, itu lebih mirip doa keluarga/komunitas kecil ketimbang hajatan komunal besar.

Apa yang mungkin dilakukan komunitas Muslim ketika ada kematian (abad ke-10)?

Secara normatif, dalam tradisi awal Islam (yang menyebar lewat mazhab-mazhab fikih Samudra Hindia, terutama Syafi‘i di kemudian hari), elemen minimum yang ditemukan luas ialah: (1) talqīn/kalimat τawḥīd, (2) memandikan, mengafani, menyalatkan, menguburkan, (3) du‘ā’ bagi mayit, (4) sedekah atas nama mayit. Perdebatan apakah pahala bacaan Qur’an “mencapai” mayit (iṣāl al-thawāb) memang ada dalam fikih klasik; tetapi menyangkut abad ke-10 di Asia Tenggara, kita tidak punya teks lokal yang menunjukkan pola majelis bacaan berjadwal seperti tahlilan Jawa. Karena komunitasnya kecil dan lintas-bangsa, kemungkinan besar bentuknya ringkas, berbasis keluarga dan jaringan pedagang.

Bukti arkeologis yang kita punya justru nisan dan tipologi batu, bukan deskripsi liturgis. Feener menunjukkan bagaimana isi semantik inskripsi nisan awal di Sumatra mencerminkan perubahan wacana religius abad-14/15 (ketika Islamisasi menguat), berbeda dari abad-10 yang jauh lebih senyap datanya.(KURENAI) Survei Perret dkk. menandaskan bahwa Barus menyajikan kelimpahan kuburan Islam tua (umumnya abad-14) dan memori lokal tentang “44 wali”, tetapi hampir tak ada teks yang menjelaskan rangkaian doa untuk mayit pada masa awal (pra-Pasai).(OpenEdition Journals)

Rekonstruksi hati-hati: dua sketsa etno-historis

(A) Pesisir Champa selatan, ca. 990–1030 M.
Sebuah komunitas dagang kecil di pelabuhan dekat Phan Rang, beranggotakan pedagang Gujarat, Arab-Persia, Melayu, dan sebagian Cham Muslim. Ketika seorang pedagang wafat saat musim angin utara, rekan-rekannya menangani pemulasaraan: memandikan, mengafani, salat jenazah—mungkin dipimpin faqīh kafilah atau orang tertua. Mereka berdoa dan mungkin membaca beberapa ayat yang dihafal; keluarga memberi sedekah untuk pelaut miskin. Tidak ada bukti tahlilan berjadwal—komunitasnya terlampau cair dan mobil. Sketsa ini konsisten dengan bukti epigrafi Kufik pasca-1030 dan indikasi adanya komunitas Muslim abad-10 yang kecil. (Manguin via Ken D.W.T., hlm. 7).

(B) Pesisir Barus/Fansur–Lamuri, ca. 950–1000 M.
Barus sebagai pelabuhan kamper—dikenal para penulis Arab—mengundang pertemuan budaya: pedagang Muslim India-Barat, penutur Tamil, komunitas lokal Austronesia; jejak prasasti Tamil (1088) dan Jawa Kuno (diperkirakan abad-10) memperlihatkan latar plural. Ketika ada kematian di komunitas Muslim, kemungkinan besar dilakukan praktik minimum syariat berbalut kebiasaan lokal (jamuan sederhana pascapemakaman, penataan ruang kubur mengikuti lanskap setempat). Batu nisan Islam tertua yang sekarang kita temukan di Barus kebanyakan bertarikh abad-14, jadi bukti pola doa abad-10 harus direkonstruksi secara tidak langsung melalui jaringan perdagangan dan kebiasaan umum Muslim perantau. (Perret, survei 2019; katalog batu Aceh & epigrafi Pasai oleh Kalus–Guillot).(OpenEdition Journals)

Mengapa tahlilan khas Jawa belum ada (abad ke-10)?

Beberapa alasan historiografis:

  1. Basis sosial komunitas Muslim masih tipis dan kosmopolitan (pedagang musiman), tidak membentuk desa-desa Muslim homogen yang menjadi substrat budaya slametan dan tahlilan di Jawa kelak.

  2. Institusionalisasi Islam lokal (masjid desa, ulama kampung, patronase penguasa Muslim) di Sumatra utara baru menguat abad-13/14 (Pasai, lalu Aceh) dan di Jawa lebih lambat lagi.(Oxford Research Encyclopedia)

  3. Tipologi nisan (batu Aceh, dll.) yang sering dipakai untuk menjejak islamisasi memuncak abad-14/15; sumber paling “berbicara” tentang ritual justru periode itu, bukan abad-10.(KURENAI)

  4. Kontinuitas tradisi lokal (jamuan duka, ritus rumah tangga) tentu sudah ada, tetapi format Islam-Jawa tahlilan—dengan struktur hari-hari tertentu dan bacaan-bacaan terkodifikasi—adalah hasil perjumpaan lebih kemudian antara Islam Syafi‘i, tarekat, dan budaya desa-Jawa yang mapan.

Diskusi epistemologis: menguji klaim, membedakan tingkat kepastian

  • Bukti langsung (tinggi kepastian): keberadaan komunitas/individu Muslim di Champa (inskripsi Kufik ca. 1030; indikasi komunitas abad-10) dan Barus/Lamuri (toponimi dalam geograf Arab; kepurbakalaan Lobu Tua; nisan Islam kemudian). Kutipan kunci: “Two Kufic inscriptions … dated around 1030 CE and there is some indication of a Muslim community in the tenth century.” (Manguin via Ken D.W.T., hlm. 7).

  • Bukti tak langsung (sedang): praktik doa untuk mayit dan pembacaan ayat dalam komunitas Muslim perantau—selaras tradisi Islam umum di Samudra Hindia—tetapi tanpa format slametan. Sintesis tentang perputaran Muslim dan sarana konversi di Asia Monson menegaskan konteks mobilitas dan komunitas sojourner.(Cambridge Core)

  • Spekulasi (rendah): mencoba menebak teks-teks yang dibaca dan urutan acara—kita tidak punya naskah lokal abad-10 dari Champa/Sumatra yang menggambarkan tata cara kematian secara rinci; maka setiap detail liturgis spesifik (mis. “pembacaan Surah X pada malam ke-3”) tidak dapat diklaim untuk abad-10.

Kesimpulan

Pada abad ke-10 M / 4 H, Islam hadir di Champa dan pesisir utara Sumatra dalam skala kecil melalui jejaring dagang Samudra Hindia. Ritus kematian Islam pastilah dilakukan (salat jenazah, doa, sedekah, talqīn/tahlīl sebagai kalimat tauhid), namun tidak ada bukti bahwa tahlilan khas Jawa—sebagai format slametan-komunal berjadwal—sudah terbentuk. Di Sumatra, Samudra Pasai sendiri belum muncul sebagai kerajaan Islam (baru abad-13/14), dan bukti-bukti liturgis yang lebih “verbal” justru berasal dari gelombang islamisasi kemudian (abad-14/15) yang terekam dalam batu nisan dan jaringan batu Aceh. Dengan kerangka metodologis yang ketat—memisahkan bukti keras dari hipotesis—kajian ini menyimpulkan: “tahlilan” sebagai tradisi Jawa belum eksis pada abad-10; yang ada ialah doa-doa kematian Islam yang bersenyawa dengan kebiasaan lokal, dalam komunitas pesisir kosmopolitan yang masih cair.


Catatan kutipan (in-note)

  1. “Two Kufic inscriptions found in what was southern Champa are dated around 1030 CE and there is some indication of a Muslim community in Champa in the tenth century.” (Pierre-Yves Manguin, “The Introduction of Islam into Champa,” dikutip dalam Ken D.W.T., “Champa and the Malays,” hlm. 7).

  2. “Islam had not yet made major inroads into Champa …” (ringkasan argumen Marrison/Manguin; Ken D.W.T., hlm. 7).

  3. Tentang Barus sebagai situs unik dengan “numerous old Islamic inscribed tombstones” dan kesinambungan memori lokal “44 Muslim saints” (Perret dkk., artikel survei 2019, bagian pembuka HTML—tanpa nomor halaman; dikutip sebagai data kontekstual, bukan verbatim panjang).(OpenEdition Journals)



Daftar Pustaka

  • Donkin, R. A. (1999), Dragon’s Brain Perfume: An Historical Geography of Camphor. Leiden: Brill. (Ringkasan judul & info penerbit), tautan katalog: https://brill.com/abstract/title/6591 . (Brill)

  • Feener, R. Michael. (2021), “Islamisation and the Formation of Vernacular Muslim Gravestone Traditions in Northern Sumatra,” Journal of Islamic Archaeology 8(2). PDF repositori Kyoto: https://repository.kulib.kyoto-u.ac.jp/dspace/bitstream/2433/270383/1/13639811.2021.1873564.pdf . (KURENAI)

  • Guillot, Claude, & Ludvik Kalus. (2008), Les monuments funéraires et l’histoire du sultanat de Pasai à Sumatra (XIIIe–XVIe siècles). Paris: Association Archipel (Cahiers d’Archipel). Rujukan dalam: Archipel (Inscriptions of Sumatra series). (OpenEdition Journals, Cambridge Core)

  • Ken D. W. T. (tanpa tahun), Champa and the Malays. Naskah ulasan (vietchampa.pdf). Kyoto Review library / arsip daring: https://www.sabrizain.org/malaya/library/vietchampa.pdf . Kutipan langsung pada hlm. 7.

  • Perret, Daniel, dkk. (2019), “Recent Archaeological Surveys in the Northern Half of Sumatra,” Archipel (edisi daring, HTML). https://journals.openedition.org/archipel/2061 . (Tentang Barus, Lobu Tua, batu nisan Islam, tradisi “44 wali”). (OpenEdition Journals)

  • Perret, Daniel. (2011), “Aceh as a Field for Ancient History Studies,” dalam Verandah of Violence / kumpulan studi Aceh (versi draf; jangan dikutip tanpa izin). Arsip: https://www.sabrizain.org/malaya/library/acehancienthistory.pdf . (Ikhtisar situs awal dan kebutuhan penelitian). (sabrizain.org)

  • Rekap kompilasi: Muslim Circulations and Islamic Conversion in Monsoon Asia (bab dalam volume Cambridge Core)—menyintesis mobilitas pedagang Muslim sejak awal Islam dan lonjakan interaksi abad-10 (akses PDF bab: Cambridge Core). (Cambridge Core)

  • Tibbetts, G. R. (1979), A Study of the Arabic Texts Containing Material on South-East Asia. Leiden: Brill. (Kompilasi primer Arab tentang Fansur/Lamuri, camphor, pelayaran; rujukan bibliografi Cambridge). (Cambridge Core)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar