Syarah Kritis Ta’lim Muta’allim Zarnuji: 6 Ajaran yang Tidak Boleh Dikonsumsi Mentah
Oleh: Muhammad Qurrotul Aynan
(6 Agustus 2025)
Ta’lim al-Muta’allim karya Abu Nasr al-Zarnuji adalah salah satu pedoman klasik dalam pendidikan Islam yang sangat kaya dengan nilai adab, kesungguhan niat, dan dorongan spiritual dalam menuntut ilmu. Kitab ini telah dijadikan rujukan utama di berbagai lembaga pendidikan tradisional, terutama pesantren, selama berabad-abad. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tak diragukan lagi penting dan kontekstual pada masanya, terutama ketika dunia pendidikan belum mengenal struktur sistematis dan ilmiah seperti hari ini. Namun, seperti semua teks klasik, kitab ini pun tak luput dari keterbatasan konteks dan waktu—sehingga beberapa ajarannya perlu dikaji ulang agar tidak menimbulkan problem dalam dunia pendidikan kontemporer yang berbasis pada nalar kritis dan pendekatan berbasis data.
Tulisan ini tidak bermaksud menolak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Ta’lim Muta’allim, tetapi justru hendak menempatkannya secara lebih tepat dalam konteks zaman sekarang. Ada enam ajaran dalam kitab tersebut yang menurut hemat penulis tidak boleh dikonsumsi mentah. Tidak berarti ajaran itu sepenuhnya salah, melainkan perlu dibaca secara reflektif, kritis, dan kontekstual. Esai ini akan menguraikan tiap ajaran dengan tiga struktur utama: kritik terhadap ajaran klasik, kritik terhadap nalar sekuler, dan solusi seimbang yang memadukan etika tradisi dengan pendekatan ilmiah modern.
1. Larangan Menyanggah Guru
Zarnuji menekankan larangan menyanggah guru, bahkan jika guru tersebut salah. Dalam konteks sufistik atau thariqah, prinsip ini dapat dimengerti. Murid yang sedang menjalani proses tazkiyah (penyucian jiwa) dituntut untuk menanggalkan egonya dan belajar tunduk pada bimbingan ruhaniah seorang mursyid. Namun, ajaran ini menjadi problematik ketika diterapkan di luar konteks thariqah, terutama dalam pendidikan formal yang menekankan dialog, partisipasi, dan otonomi intelektual.
Dalam banyak kasus, guru juga manusia biasa yang bisa salah, bias, atau bahkan menyalahgunakan kuasa. Apabila larangan menyanggah dijadikan norma mutlak, maka kritik konstruktif dalam proses belajar akan tumpul, dan siswa akan kehilangan keberanian untuk berpikir mandiri. Dalam jangka panjang, ini dapat mematikan semangat nalar kritis dan menciptakan budaya belajar yang hierarkis dan otoriter. Maka, ajaran ini perlu direvisi dalam implementasinya agar tidak menjadi alat pembungkaman nalar.
Sebaliknya, pendekatan pendidikan sekuler yang terlalu menekankan kesetaraan dan kebebasan mutlak juga mengandung risiko. Dalam banyak sistem modern, guru direduksi menjadi fasilitator semata, bukan lagi pembimbing moral dan intelektual. Relasi antara guru dan murid menjadi dingin dan transaksional, dan ini merugikan pembentukan karakter dan keteladanan. Kebebasan yang tidak diiringi dengan adab akan menghasilkan peserta didik yang kurang hormat, bahkan arogan.
Ketaatan kepada guru harus dibarengi dengan kebebasan bertanya dan ruang dialog. Pendidikan ideal adalah pendidikan yang dialogis, di mana guru dihormati sebagai pembimbing, namun tidak diposisikan sebagai otoritas mutlak yang tak boleh dikritik. Dalam konteks spiritual seperti thariqah, ketaatan memang diperlukan, tetapi hanya jika sang mursyid betul-betul memiliki kualitas ruhani, sanad, dan akhlak yang teruji. Di luar itu, kritik tetap harus diberi tempat, sebagai bagian dari proses belajar dan bertumbuh.
2. Tawakkal Tanpa Usaha Terukur
Zarnuji memotivasi murid untuk bertawakkal dalam menuntut ilmu. Sayangnya, dalam praktik keseharian sebagian kalangan, ajaran ini sering disalahpahami sebagai ajakan untuk pasrah tanpa usaha maksimal. Hal ini sangat berbahaya, karena bisa mengarah pada mentalitas fatalistic, menyerahkan segalanya pada “takdir”, tanpa menyusun strategi atau bekerja keras. Tawakkal yang sejati bukanlah ketidakaktifan, melainkan ketenangan setelah melakukan ikhtiar maksimal.
Seorang siswa yang tidak belajar secara terstruktur dan hanya mengandalkan doa, wirid, atau nasib, sedang terjebak dalam bentuk pelarian spiritual. Dalam pendidikan modern, perencanaan belajar, penetapan target, serta evaluasi kemajuan adalah prinsip-prinsip dasar yang tak bisa diganti oleh pasrah buta. Tawakkal harus dijadikan nilai pendukung, bukan alasan untuk tidak berbuat. Tanpa keseimbangan antara usaha dan tawakkal, murid hanya akan menjadi korban ketidakpastian yang ia ciptakan sendiri.
Di sisi lain, pendekatan sekuler ekstrem mengajarkan bahwa semua hasil ditentukan sepenuhnya oleh kalkulasi rasional, usaha manusia, dan kebetulan statistik. Ini bisa menghasilkan generasi yang kering spiritual, mudah stres, dan kehilangan kepekaan terhadap makna dan nilai transenden dalam hidup. Banyak pelajar modern mengalami burnout justru karena merasa semua beban dunia harus ditanggung sendiri, tanpa ruang untuk berharap dan bertawakkal.
Tawakkal harus dibingkai sebagai bagian dari manajemen psikologis dan spiritual dalam proses belajar. Ia hadir setelah perencanaan matang, kerja keras, dan evaluasi, bukan sebagai pengganti. Banyak lembaga pendidikan Islam kontemporer mempraktikkan pendekatan ini: siswa dilatih membuat learning plan, dibimbing menyusun strategi belajar, dan disertai dengan pelatihan spiritual seperti shalat duha, zikir pagi, dan do’a sebelum belajar. Di sini, rasionalitas dan spiritualitas saling menguatkan.
3. Cukup mengandalkan Wirid dan Dzikir
Salah satu anjuran Zarnuji yang populer adalah memperbanyak wirid dan zikir untuk memudahkan proses memahami ilmu. Meskipun ini memiliki basis spiritual dan bisa memberi ketenangan batin, ajaran ini bisa menyesatkan jika dianggap sebagai satu-satunya cara meraih pemahaman. Ada kecenderungan di sebagian kalangan untuk meyakini bahwa cukup dengan istiqamah membaca doa tertentu, ilmu akan datang dengan sendirinya, tanpa usaha aktif untuk memahami dan mempraktikkan. Ini jelas bertentangan dengan prinsip pembelajaran aktif dan berbasis pengalaman.
Tidak sedikit siswa yang mengandalkan wirid untuk lulus ujian, tetapi mengabaikan waktu belajar yang cukup, membaca bahan ajar, atau berlatih mengerjakan soal. Hal ini melahirkan sikap mistis terhadap ilmu, di mana keberhasilan dianggap hadiah dari langit, bukan hasil proses. Ini tentu menciderai prinsip Islam sendiri yang menekankan ikhtiar. Rasulullah SAW sendiri adalah manusia yang paling rajin belajar dari pengalaman, bukan hanya berdoa tanpa strategi.
Namun, pendekatan pendidikan modern yang terlalu saintifik sering memisahkan spiritualitas dari proses belajar. Akibatnya, murid cerdas bisa kehilangan orientasi nilai, dan tidak jarang mengalami kehampaan atau kehilangan arah hidup. Spiritualitas, jika dikelola dengan tepat, sebenarnya dapat menjadi kekuatan psikologis yang besar dalam menjaga semangat belajar dan mengatasi kesulitan.
Wirid dan usaha harus berjalan bersamaan. Doa memberikan ketenangan dan arah, sementara proses belajar aktif membentuk struktur berpikir. Pendidikan terbaik adalah yang mengajarkan disiplin, strategi belajar, dan manajemen waktu, namun juga menyertakan pembinaan spiritual yang menjernihkan hati dan memperkuat niat. Kombinasi ini menciptakan pelajar yang tangguh secara kognitif dan matang secara spiritual.
4. Fokus Berlebihan pada Hafalan
Dalam Ta’lim Muta’allim, Zarnuji sangat menekankan pentingnya hafalan. Ini dapat dimengerti karena di masa itu buku langka, akses ilmu terbatas, dan transmisi pengetahuan dilakukan secara lisan. Hafalan menjadi metode utama untuk mempertahankan dan mewariskan ilmu. Namun, dalam konteks pendidikan hari ini yang menyediakan berbagai sumber pengetahuan dengan mudah, pendekatan hafalan sebagai inti utama belajar menjadi kurang relevan jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang mendalam.
Terlalu fokus pada hafalan bisa menjadikan pelajar hanya sebagai gudang data, bukan pemikir. Ia bisa mengulang definisi atau hukum fikih, tetapi tidak bisa menjawab persoalan kontemporer atau berpikir kritis terhadap teks. Hafalan tanpa pemahaman juga rentan memproduksi sikap tekstualis atau dogmatis, terutama jika teks yang dihafal tidak dikontekstualisasi. Dalam kerangka taksonomi Bloom, hafalan hanya berada pada level paling dasar dari proses berpikir.
Sebaliknya, sebagian pendekatan pendidikan modern justru meremehkan hafalan. Murid langsung diajak menganalisis dan mencipta tanpa cukup basis pengetahuan yang kuat. Ini membuat mereka miskin rujukan, kabur dalam konseptualisasi, dan tidak jarang tergelincir pada relativisme pemikiran. Hafalan tetap diperlukan sebagai fondasi, tetapi harus disertai dengan pemahaman, analisis, dan sintesis.
Model pembelajaran yang ideal adalah yang menyeimbangkan antara hafalan, pemahaman, dan penerapan. Dalam konteks Islam, hafalan tetap penting, baik untuk menjaga orisinalitas teks, maupun melatih daya pikir dan konsistensi. Namun setelah hafalan, siswa perlu dilatih memahami makna teks, membandingkan sudut pandang, dan menerapkannya dalam konteks baru. Guru berperan sebagai jembatan antara teks dan konteks, bukan sekadar penguji ingatan.
5. Menekankan Ilmu Syariah Saja, Mengabaikan Ilmu Non-Syariah
Zarnuji secara eksplisit menyatakan keutamaan ilmu-ilmu syariah sebagai ilmu yang paling mulia. Dalam konteks masa itu, ketika dunia Islam menghadapi tantangan besar dalam menjaga otoritas keagamaan, penekanan ini wajar. Namun dalam konteks kekinian, ketika tantangan umat juga mencakup masalah ekonomi, kesehatan, teknologi, dan ekologi, memarginalkan ilmu non-syariah justru akan mempersempit cakrawala umat Islam. Padahal, Imam al-Ghazali sendiri, misalnya, telah mengklasifikasikan ilmu menjadi syariah dan non-syariah, fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, serta maqashid dan alat, semuanya penting dalam membangun peradaban.
Jika hanya ilmu syariah yang dianggap mulia, maka akan muncul pandangan sempit bahwa menjadi insinyur, dokter, atau ilmuwan bukanlah profesi yang mulia dalam Islam. Ini bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak akurat secara teologis. Umat Islam bisa tertinggal dalam sains dan teknologi jika paradigma ini dibiarkan berlanjut. Di era yang serba kompleks ini, semua ilmu memiliki peran masing-masing dalam membentuk masyarakat yang adil, sehat, makmur, dan bermartabat.
Sebaliknya, nalar sekuler cenderung meremehkan ilmu syariah. Ilmu-ilmu agama dianggap tidak ilmiah, tidak produktif, bahkan tidak relevan dengan kehidupan modern. Ini jelas merupakan kekeliruan, karena ilmu syariah mengandung nilai-nilai moral, sistem etika, dan prinsip-prinsip keadilan yang sangat dibutuhkan dalam praktik ilmu terapan.
Ilmu syariah dan non-syariah bukanlah musuh, melainkan mitra. Keduanya saling melengkapi: syariah memberi arah dan nilai, sementara ilmu non-syariah memberi alat dan strategi. Pendidikan Islam masa kini harus berani mengintegrasikan dua jenis ilmu ini dalam satu kurikulum utuh. Maka, belajar fiqh dan tasawuf sama pentingnya dengan belajar matematika dan bioteknologi—semuanya bagian dari ibadah dan pengabdian kepada masyarakat.
6. Ajaran Mitos dan Irasionalitas
Zarnuji dalam beberapa bagian kitabnya mencantumkan anjuran untuk menghindari jenis makanan tertentu seperti apel kecut, kepala kambing, atau makanan dari pasar karena dianggap menyebabkan lupa atau menghambat hafalan. Ia juga mengisahkan keberhasilan atau kegagalan murid berdasarkan faktor-faktor magis seperti keberadaan laba-laba atau kesalahan dalam adab. Ajaran-ajaran ini merefleksikan warisan budaya dan kearifan lokal zaman itu, namun sulit dipertanggungjawabkan secara ilmiah di zaman sekarang. Jika diterima secara literal tanpa kritik, ajaran ini bisa melahirkan cara berpikir irasional dan menjauhkan siswa dari pendekatan sains yang berbasis data.
Hari ini, ilmu gizi dan neurologi telah banyak menjelaskan bagaimana asupan makanan memengaruhi daya kognitif. Tidak ada bukti ilmiah bahwa apel kecut menghambat hafalan, misalnya. Demikian pula, tidak semua makanan dari pasar adalah syubhat atau haram. Mengajarkan hal-hal seperti ini tanpa klarifikasi akan membingungkan murid dan menanamkan mentalitas takhayul.
Namun, nalar sekuler ekstrem juga bisa terlalu kaku. Ia menolak narasi simbolik, kisah inspiratif, dan nilai-nilai spiritual yang tidak dapat dibuktikan secara eksak. Padahal, dalam pendidikan karakter dan motivasi, kisah, mitos, dan narasi tetap memiliki tempat penting jika digunakan secara proporsional.
Perlu pembedaan antara hikmah simbolik dan fakta ilmiah. Guru boleh menyampaikan cerita atau anjuran kultural sebagai bahan refleksi, tetapi tidak boleh dijadikan standar ilmiah tanpa bukti. Pendidikan yang sehat adalah yang menyelaraskan nilai-nilai moral dengan pembelajaran rasional berbasis fakta. Murid perlu dilatih untuk berpikir kritis, tetapi juga menghargai dimensi batin dan nilai tradisi.
Penutup: Pendidikan yang Mengakar dan Mengarah
Pendidikan Islam masa depan tidak bisa hanya bergantung pada nalar sekuler yang dingin dan instrumental. Tapi ia juga tidak bisa berjalan hanya dengan dogma-dogma lama yang tidak dikontekstualisasi. Ajaran klasik seperti Ta’lim Muta’allim harus dibaca dengan cara baru: bukan untuk ditolak, tetapi untuk dkonsumsi secara kritis dan kreatif. Di sanalah letak tanggung jawab intelektual kita hari ini.
Spiritualitas, adab, dan tawadhu tetap penting dalam membentuk karakter pelajar. Tapi itu semua harus berjalan seiring dengan daya pikir, penalaran ilmiah, dan keberanian untuk mengkaji ulang sumber-sumber tradisi. Zarnuji tetap bisa menjadi guru kita, jika kita tidak mematukinya secara kaku. Dan pendidikan kita bisa tetap Islami, jika kita berani menggabungkan warisan ruhani dengan kecerdasan akal yang terus bertumbuh.
Karena pada akhirnya, belajar bukan hanya soal menjadi pintar, melainkan soal menjadi manusia utuh: yang berpikir jernih, bersikap rendah hati, dan bertindak dengan kebijaksanaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar