Jika 'Bermadzhab' dalam Akidah
Muhammad Qurrotul Aynan
Jawaban singkat:
Dalam akidah, bermadzhab tidak sama dengan sekadar mengutip pendapat mutakallimin, berbeda dengan fikih di mana mukallaf bisa mengikuti pendapat imam mujtahid. Bermadzhab dalam akidah berarti memahami, meyakini, dan mengikuti prinsip dasar suatu aliran akidah tertentu, termasuk metodologi penafsiran dalil dan cara merumuskan keyakinan. Mukallaf yang mengikuti madzhab tertentu tetap tidak boleh sekadar meniru tanpa memahami dalil pokok akidah, karena bagian fundamental iman harus diyakini dengan ilmu dan keyakinan batin. Dengan kata lain, akidah menuntut kesadaran pribadi, sementara madzhab memberi panduan metodologis untuk memahami dan menyusun keyakinan.
Jawaban mendalam:
Sering terjadi kesalahpahaman bahwa bermadzhab dalam akidah berarti sekadar mengutip atau mengikuti pendapat mutakallimin tanpa memahami dalil, persis seperti praktik taqlid dalam fikih di mana seseorang mengikuti imam mujtahid. Pandangan ini keliru, karena akidah berbeda dengan fiqh. Dalam fiqh, taqlid bisa dibenarkan secara praktis karena menyangkut rincian hukum yang tidak setiap mukallaf mampu menilai dalilnya sendiri. Namun, akidah menyangkut keyakinan pokok tentang Allah, sifat-sifat-Nya, af‘āl-Nya, dan kerasulan Nabi ﷺ, sehingga bagian ini tidak boleh ditaklid buta. Bermadzhab dalam akidah berarti memilih suatu aliran atau metodologi yang sudah sistematis, seperti Asy‘ariyah atau Maturidiyah, untuk memahami dan merumuskan prinsip-prinsip akidah.
Alasan yang benar adalah bahwa madzhab akidah memberi panduan metodologis dan struktur berpikir, sehingga mukallaf dapat memahami dasar iman dengan sistematis, termasuk cara menafsirkan ayat mutasyabihat, menyusun konsep tauhid dzat, sifat, dan af‘āl Allah. Namun, pengikut madzhab tetap harus mewujudkan keyakinan dengan ilmu, pemahaman, dan kesadaran batin, bukan sekadar meniru. Dalil Al-Qur’an menekankan pentingnya ilmu dan keyakinan: “Hai orang-orang yang beriman, ketahuilah bahwa Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hashr: 18), menegaskan bahwa iman harus disertai kesadaran, bukan sekadar mengikuti orang lain.
Definisi bermadzhab dalam akidah adalah mengikuti aliran metodologis tertentu dalam memahami dan menyusun keyakinan, bukan meniru pendapat kata per kata. Makna konsep ini menekankan pengakuan sadar terhadap prinsip-prinsip iman, sekaligus menjaga konsistensi berpikir dalam memahami dalil. Istilah kunci seperti madzhab, mutakallim, taqlid, keyakinan batin, dan metodologi akidah menjelaskan bahwa ada batas antara mengikuti prinsip metodologis dan meniru pokok iman.
Secara analitis, bermadzhab dalam akidah logis karena membantu mukallaf yang belajar sistematis untuk memahami kompleksitas dalil dan prinsip iman, namun tetap menuntut aktivitas intelektual agar fondasi iman tetap diyakini secara pribadi. Tanpa pemahaman ini, sekadar mengikuti madzhab bisa berisiko menjadi taqlid buta yang berbahaya.
Keterkaitan dengan akidah, ibadah, dan akhlak jelas: madzhab akidah menjaga agar pengakuan iman konsisten dan sistematis, ibadah diarahkan sesuai prinsip iman yang benar, dan akhlak selaras dengan keyakinan yang sahih. Madzhab bukan pengganti keyakinan batin, melainkan alat untuk memahami dan meyakini dengan tepat.
Kesimpulannya, bermadzhab dalam akidah bukan sekadar mengutip pendapat mutakallimin seperti dalam fikih, melainkan memilih metodologi dan aliran tertentu untuk memahami dan menyusun akidah secara sistematis. Fondasi iman tetap harus diyakini sendiri dengan ilmu, pemahaman, dan kesadaran batin, sementara madzhab memberi panduan metodologis agar keyakinan lebih mantap dan konsisten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar