Makna Kalimat Syahadat Pertama
Muhammad Qurrotul Aynan
Jawaban Singkat:
Kalimat syahadat pertama, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah,” menegaskan pengesaan Allah secara mutlak. Artinya, seorang mukallaf harus mengetahui, meyakini, dan mempercayai bahwa hanya Allah yang memiliki hak ibadah, sebagai Yang Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Awal, Maha Kekal, Maha Pencipta, Maha Pemberi rizki, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Semua ciptaan selain-Nya bersifat makhluk yang bergantung, sedangkan Allah memiliki sifat kesempurnaan tanpa kekurangan. Dengan keyakinan ini, seorang muslim menegakkan tauhid dzat, sifat, dan af‘āl, serta memastikan semua ibadah hanya ditujukan kepada-Nya, sehingga kehidupan beragama selaras dengan akidah yang benar.
Jawaban Mendalam:
Sering kali orang keliru berpikir/merasa bahwa cukup mengucapkan “la ilaha illallah” secara lisan tanpa memahami atau meyakini maknanya. Mereka mungkin beranggapan bahwa sekadar ritual atau pengakuan verbal sudah cukup untuk menjadi muslim. Pandangan ini salah karena jika kalimat ini tidak disertai keyakinan dan pemahaman, maka pengesaan Allah tidak tegak, dan amal ibadah bisa salah arah, bahkan bisa mengarah pada kesyirikan tersamar, karena hati belum benar-benar tunduk kepada Allah.
Alasan yang benar adalah bahwa kalimat pertama syahadat menuntut pengetahuan, keyakinan, iman, dan pengakuan penuh bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Hal ini bukan sekadar ucapan, tetapi menegaskan pengesaan Allah dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Ia menegaskan bahwa Allah adalah Yang Maha Esa (Al-Wāhid, Al-Aḥad), Maha Awal (Al-Awwal), Maha Kekal (Al-Qadim), Maha Hidup (Al-Ḥayy), Maha Mengurus (Al-Qayyūm), Maha Pencipta dan Pemberi rizki (Al-Khāliq, Ar-Rāziq), Maha Mengetahui (Al-‘Ālim), Maha Kuasa dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu (Al-Qadīr, Al-Fa‘‘āl), serta bahwa semua ciptaan bersifat makhluk, sedangkan Allah tetap dengan kesempurnaan-Nya tanpa permulaan atau kekurangan.
Dalil Al-Qur’an menegaskan hal ini, misalnya Allah berfirman: “Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya)” (QS. Al-Baqarah: 255). Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mengucapkan ‘la ilaha illallah’ dengan ikhlas dari hati, masuklah ia ke dalam Islam” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalil ini menegaskan bahwa pengakuan lisan dan keyakinan batin adalah syarat sahnya pengesaan Allah.
Secara definitif, kalimat syahadat pertama berarti pengakuan mutlak bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, berbeda dari semua makhluk, dan segala perbuatan-Nya tidak bergantung pada siapa pun. Definisi ini menegaskan kesatuan dzat, sifat, dan af‘āl Allah, sehingga seorang mukallaf mengetahui bahwa segala sesuatu selain-Nya adalah makhluk yang bersifat hamba dan bergantung.
Makna konsep ini menekankan bahwa tauhid dzat (keesaan Allah dalam dzat), tauhid sifat (kesempurnaan sifat Allah), dan tauhid af‘āl (Allah sebagai pengatur seluruh perbuatan) saling terkait. Keyakinan ini mencegah penyekutuan Allah dan menegaskan bahwa ibadah hanya kepada-Nya.
Istilah kunci seperti Al-Wāḥid berarti Maha Esa tanpa susunan, Al-Aḥad berarti satu-satunya tanpa sekutu, Al-Qadīm berarti kekal tanpa permulaan, Al-Khāliq berarti Maha Pencipta, Al-Rāziq berarti Maha Pemberi rezeki, Al-‘Ālim berarti Maha Mengetahui, dan Al-Qadīr serta Al-Fa‘‘āl menekankan kekuasaan dan kehendak Allah atas segala sesuatu. Semua kata kunci ini menunjukkan bahwa Allah berbeda mutlak dari makhluk dalam dzat, sifat, dan perbuatan.
Secara rasional, pengakuan dan pemahaman ini logis karena hanya Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa yang berhak menerima pengabdian total. Jika pengakuan ini diabaikan atau disamakan dengan makhluk, maka amal ibadah bisa keliru dan akal sehat menuntut ketegasan dalam pengesaan Tuhan.
Keterkaitan dengan akidah, ibadah, dan akhlak jelas: akidah menegaskan keyakinan pada Allah, ibadah diarahkan hanya kepada-Nya, dan akhlak mencerminkan pengabdian dan ketaatan kepada Allah dalam setiap interaksi dengan makhluk. Tanpa keyakinan ini, prinsip-prinsip syariat tidak dapat dilaksanakan dengan benar.
Kesimpulannya, kalimat pertama syahadat adalah fondasi seluruh akidah Islam, menegaskan pengesaan Allah dalam dzat, sifat, dan af‘āl. Memahami dan meyakininya memastikan semua ibadah dan akhlak seorang mukallaf sesuai syariat, serta menjauhkan dari kesyirikan dan kekeliruan spiritual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar