Hari itu tak seperti biasanya. X baru kali ini memberi peringatan kepada Y. Y, yang biasanya selalu tersenyum dan tertawa lepas, tiba2 terdiam. Mendadak suasana menjadi hening tanpa kata. Y meninggalkan X sendirian.
X mungkin tidak menyangka setelah hari itu Y tidak mau lagi bertemu dengan X. Beberapa bulan kemudian peringatan yang pernah diberikan X sungguh terjadi. Y terseret sebuah insiden, sehingga ia kehilangan popularitasnya.
Meski "diusir", X masih saja terus menceritakan pesona luar-dalam Y. X akan menyela pembicaraan dengan suara keras tiap kali ada ungkapan yang menjelekkan Y. Bahkan X pernah menantang seseorang yang menjadikan Y sebagai bahan candaan meski secara fisik seseorang itu lebih gagah daripada X.
Setelah kehilangan popularitasnya, Y terbaring sakit. X tak bisa menahan diri untuk tidak mengunjungi Y meski bisa saja dia diusir untuk kedua kalinya.
Untungnya, Y menerima kunjungan X, bahkan sempat berucap bahwa X memang berkata jujur dulu.
Setelah Y sembuh, betapa kagetnya ia mendengar kematian X. Padahal saat itu menurutnya sangat pas untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan X, bisa rukun kembali.
Di rumah duka, lagi2 Y heran mengapa sepi pengunjung. Ahli waris menuturkan bahwa semasa hidupnya, X banyak menghabiskan waktunya untuk menjaga Y dan ia bukanlah figur yang populer. Y menghampiri jenazah X. Ia sedih dan sangat menyesal mengapa dulu tidak memperhatikan peringatan X. Sesal tinggal sesal.
Kesetiaan luar biasa tidak pernah luntur, dibawa hingga ke liang kubur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar