---Di mana pun adalah ruang kelas---

Kamis, 09 April 2020

Satu Perspektif Orang Tidak Ikut Organisasi Ekstra Kampus



Dia tidak ikut apa-apa. Ormek tidak, UKM tidak, apalagi eksekutif mahasiswa. Dia kuliah saja. Baca buku pribadi atau pinjam di perpustakaan. Dia juga belajar menulis semaunya. Lebih sering di rumahnya bantu pekerjaan orang tua. Tidak punya pacar tapi dekat dengan banyak perempuan. Dia terkadang mengajari anak-anak seusia SD mata pelajaran dan baca-tulis Alquran.

Kalau ada aksi gerakan mahasiswa tidak ikut, namun mendukung. Dia tidak ikut ormawa beranggapan bahwa justru semacam itu dapat membuatnya stagnan. Mau melancarkan kritik terhadap senior takut su'ul adab. Takut mendapat stigma, entah "dihapus","digaris", atau "dicoret" .

Tapi dia tetap kenal bacaan di luar mata kuliah. Buku teori-teori sosial marxis, buku ekonomi politik, buku motivasi, jadi bacaannya. Selain itu juga buku-buku panduan praktis seni menulis dan berbicara juga kerap dibacanya seperti public speaking, lobby, negosiasi, diplomasi, persuasi, dan marketing.

Dari segi bacaan, dia merasa diatas angin. Biasanya anak-anak lain kata dia bahas urusan urusan yang sama saja dari zaman dulu sampai sekarang itu-itu aja. Buku mata kuliah dan buku-buku diwajibkan memang yang patut didahulukan. Masalahnya kata dia adalah orang di organisasi malah sering tidak membaca buku wajib mereka, bahkan tidak membaca buku kuliah. Kata dia mending baca buku kuliah, buku pemikiran, buku panduan praktis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar