Oleh : M. Q. Aynan
Saya sudah lama tertarik untuk menanggapi tulisan Sahabat Maulana, Ketua Bidang Keilmuan PMII Rayon FTIK IAIN Jember 2016-2017, namun baru bergairah untuk menanggapi. Selain tulisan tersebut mudah dimengerti, mengusik pembaca agar tercerahkan, penulisnya juga saya kenal secara pribadi, dan pendampingannya pada kader tidak basa-basi. Tulisan itu berjudul "METRA POST, RIWAYATMU KINI". Judulnya mengingatkan saya kepada syair lagu "Bengawan Solo, riwayatmu kini".
Dalam keterangan, tertulis bahwa tulisan tersebut sengaja diterbitkan atas permintaan Sahabat Maulana, sebagai bentuk kritik atas eksistensi Metra Post yang kian hari semakin laa yamutu walaa yahya. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat harapan bahwa semoga benar-benar bisa mencerahkan jiwa-jiwa yang keblinger. Pertanyaannya, sudahkah ada yang tercerahkan?
Di paragraf awal, Sahabat Maulana (selanjutnya disebut SM), menulis begitu istimewanya sebuah tulisan dengan menyertakan penjelasan dilengkapi contoh kisah seorang Panglima Jenderal Amerika yang menghabiskan 52 tahun berkarir di Dunia Militer. Selanjutnya, dijelaskan bahwa ukuran kemajuan sebuah peradaban memang tidak bisa diukur dari kemajuan budaya literasi yang unggul, namun sebuah tulisan bukan berarti tak memiliki pengaruh. Dalam konteks peradaban pergerakan, uraian SM tadi sudah semestinya menggugah pembaca, paling tidak FARDU KIFAYAH, supaya ada sebagian yang mengisi pos strategis ini. Sebabnya?
Seperti ditulis SM, dan saya setuju, bahwa setiap orang bisa menulis, namun tak semuanya menjadi seorang penulis. SM sudah menguraikan alasannya, namun saya ingin menambahkan bahwa menulis tulisan yang (dalam istilah SM) "Berdaya Magis" tidak bisa sembarangan, prosesnya sederhana, tetapi membutuhkan disiplin latihan dan pengelolaan yang matang. Jika tidak begitu, apa menariknya?
Terlebih, dengan akses informasi sedemikian rupa, sudah semestinya suatu lembaga semi otonom dapat memiliki produktivitas yang tinggi. Saya juga sepakat bahwa kemudian menjadi ironi, situasi dan kondisi yang sudah menjanjikan, justru semakin nalar dan kreatifitas semakin kerdil. Kalau alasannya kegiatan padat, ya tidak juga. Banyak waktu senggang seandainya mau mencicil, jika tidak bisa dikerjakan sekaligus.
Seperti dikatakan, namun harapan seolah hanya menjadi harapan, niat sudah bagus, tujuan sudah terbentuk, namun komitmen dan konsistensi sangat redup. Akhirnya wadah yang terbentuk dengan tujuan cukup mulia itu benar-benar seperti dalam syair lagu "bagaikan sungai yang kering, tiada air. Menanti hujan turun dari langit".
Jika sebuah organisasi yang cukup tenar dan superior di dunia kampus, namun ternyata ompong, tampak besar dan wah dari luar, namun di dalamnya tak ubahnya mesin pencetak calon kader-kader berlabel Mutakid, Mujahid, dan Mujtahid, maka, berapa lama lagi mesin ini akan kehabisan baterai?
SM mengingatkan, daripada sekedar mencari oknum untuk dijadikan kambing hitam atas kecelakaan sejarah itu, bukankah lebih mulia jika ikhtiar mereka cukup didoakan sesuai keyakinan masing-masing. Semoga khusnul khotimah. Jangan sampai ungkapan semoga Husnul khotimah justru menjadi lonceng kematian. Ia justru harus jadi lonceng kebangkitan.
Cerita yang dibumbui intrik-intrik untuk menarik anggota baru lagi juga silakan, tapi jangan sampai berakhir jadi sejarah lisan seperti tutur tinular. Dampaknya, dari generasi ke generasi, hanya memunculkan aktor-aktor politis, seakan kadernya berwajah tunggal dan seolah bukan Rayon FTIK, tapi Rayon FISIP. Uraian sudah, sekali lagi, sudah tercerahkan, belum?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar