Ini bukan berita, dan bisa saja terjadi. Seorang junior dijegal prosesnya karena tidak mengikuti "arahan" kakak angkatannya yang menjadi salah satu elite di periode sebelumnya. Sang senior terkenal sebagai "preman flamboyan" yang gemar tebar pesona.
Y, menceritakan pada reporter bahwa seniornya itu dikenal sebagai figur pengayom. Akan tetapi, "Pengayoman apanya, itu cuma pencitraan. Omong kosong. Kalau memang ngayomi mana kadernya yang hebat," sanggah Y di warung kopi, beberapa saat lalu.
Mahasiswa yang sering menginap di sekretariat bersama tersebut, menceritakan pertemuan keduanya di sebuah forum. Sang senior diceritakan sedang membangun citra palsu dengan pura-pura menjadi pengayom di depan para juniornya. Kemudian sang senior bertanya kepada Y, dan Y tidak menjawab. Sang senior berkata,"bukankah dulu pernah saya ajari?". Merasa tidak pernah diperhatikan dulu, Y menolaknya mentah-mentah,"ajari apanya, bangsat!".
Merasa tidak suka dan beda "aliran", Sang senior menghentikan paparannya. Y pun keluar dari ruangan. Y masih terpicu emosinya dan mengumpat kakak tingkatnya tersebut.
Tiba-tiba, dari arah belakang ada yang memukulnya dan Y pun membalasnya. Setelah beberapa saat seseorang melerai aksi saling pukul tersebut. Orang tersebut bertubuh lebih gemuk dari Y mengatakan kepadanya permasalahan tersebut harus diselesaikan malam itu atau kemudian hari Y mendapatkan masalah.
Tidak suka perkelahian, Y memilih langsung meninggalkan area acara. Dan benar, Y mendapat masalah berupa dijegal saat akan membina karirnya sendiri di jenjang yang lebih tinggi.
Ilustrasi tersebut menegaskan bahwa pengalaman, wawasan, kemampuan memberikan solusi, tidak selalu berkorelasi positif dengan usia/senioritas. Dengan kata lain, seniorisme (pandangan bahwa senioritas itu jaminan kualitas) adalah ILUSI! Apalagi jika seniorisme ditambah premanisme dan flamboyanisme, komplit!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar