M. Q. Aynan
Ada salah satu kecenderungan yang secara sadar atau tidak dianut oleh sebagian pengurus dalam organisasi mahasiswa ekstrakurikuler. Kecenderungan itu adalah tidak menempatkan diri sebagai seorang pelayan. Kata pelayan memang sering mengalami penurunan makna, namun sejatinya pelayan sangat mulia sekali. Ketika sebagian pengurus tidak menempatkan dirinya sebagai pelayan maka yang mengalami dampaknya bukan hanya kalangan pengurus, melainkan juga para kader dan anggotanya.
Setiap kader dan anggota merupakan pendukung roda organisasi untuk terus berlangsung. Mereka yang akan menjadi generasi penerus dan pengganti periode selanjutnya dalam rotasi kepengurusan. Langsung atau tidak, pengurus dituntut untuk memenuhi suatu standar kualitas tertentu, dan karena itu akan memberikan pengaruh pada kinerja organisasi. Anggota atau kader tidak bergantung pada pengurus, tetapi justru pengurus yang bergantung pada mereka. Mereka adalah orang yang teramat penting yang harus dipuaskan dalam pelayanan.
Namun masih banyak orang yang berfokus pada target jumlah kuantitatif dan hal yang bersifat formal lainnya, dan mengabaikan sisi pelayanan dalam standar kualitas. Mereka bahkan tidak sadar bahwa kini trennya adalah anggota dan kader tidak lagi sekedar mempertimbangkan jumlah massa, karena terbukti mereka bersedia bertahan dan memberikan lebih demi pelayanan, demi khidmat. Bahkan yang tertulis dalam tiap periode adalah masa khidmat, bukan masa kuasa. Khidmat berarti pelayanan. Karena itulah, suatu pergeseran pola pikir merupakan keharusan untuk membentuk pola pikir yang berfokus pada pelayanan.
Tulisan ini mengingatkan pentingnya pelayanan dan upaya meningkatkannya. Pemahaman ini sangatlah penting karena jika kecenderungan untuk tidak menempatkan diri sebagai pelayan sebab belum paham pada akhirnya mereka kehilangan perhatian anggota dan kader mereka.
Pemahaman ini juga harus secara menyeluruh dan kolektif. Jika tidak, maka yang akan merasa kurang puas bisa saja dari sesama pengurus yang sudah berusaha melayani tetapi merasa dibiarkan sendirian. Untuk itu, selain kolektif pada akhirnya, pemahaman untuk pergeseran pola pikir ini perlu diawali memang dari pimpinan umum dan badan pengurus harian, bidang dibawahnya, hingga pembagian kerja masing-masing personel(job description). Pembagian kerja agar tidak tumpang tindih di satu sisi dan ada yang menganggur di sisi lain. Jangan sampai masih tersisa pertanyaan: saya disini, mau melakukan apa?
🌼
BalasHapus