Saya punya sekian pengalaman soal kisi-kisi. Yang paling awal adalah ketika saya mengadakan forum kajian. Sebagai forum rintisan, tidak ada persiapan, hanya kemauan. Seusai menetapkan waktu dan tempat, saya menemui narasumber dan hanya memberi tahu tema secara umum. Sesampainya saya di kediaman narasumber, beliau bertanya dimana kisi-kisinya. Saya jawab tidak ada sebab saya waktu itu belum tahu bagaimana merancang kisi-kisi. Saya merasa gagal saat itu, namun saya senang bisa belajar dan tidak mengulanginya di kemudian hari.
Selanjutnya adalah menjadi peserta pelatihan. Saat itu ada beberapa instruktur. Beberapa instruktur itu tidak sama pertanyaannya antara satu dengan yang lainnya. Untungnya, saya bisa jawab, selesai pertama, dan lulus dengan nilai yang memuaskan. Tapi yang kasihan adalah peserta lain belum tentu bisa menjawab, apalagi jika pertanyaan itu sulit.
Selain sebagai peserta, saya juga pernah menjadi instruktur. Saat itu, di tahap perencanaan, saya rancang kisi-kisinya dan pelaksanaannya tidak boleh kurang, apalagi lebih. Disediakan dan disebarkan dengan tujuan agar peserta pelatihan dapat lulus dengan nilai yang memuaskan. Akhirnya mayoritas peserta bisa menjawab pertanyaan dengan baik dan mendapat nilai yang memuaskan. Tapi ada beberapa orang yang tidak bisa menjawab. Jika tim instruktur sudah merancang kisi-kisi dan menyebarkannya kepada peserta namun peserta tetap tidak bisa menjawab, maka yang bermasalah disini adalah pesertanya. Bisa dari dirinya sendiri kurang mampu menyerap atau karena kurang memperhatikan.
Kalau instruktur tidak melaksanakan forum pelatihan berdasarkan kisi-kisi yang sudah ditentukan, entah mengurangi, menambah, atau bahkan merombak total, bisa bermasalah bisa tidak. Bisa bermasalah apabila hal itu justru menyulitkan peserta, bisa tidak masalah apabila justru memudahkan peserta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar