M. Q. Aynan
Ada yang mengeluh ke saya. Keluhannya muncul ketika saya saat beberapa waktu lalu meningkatkan intensitas pertemuan kami. Ia merasa bahwa saya baru saat itu sering menemuinya. Hal itu berbanding terbalik dengan kakak yang lain. Mereka dulunya sering menemuinya, sekarang tidak lagi. Saya sampaikan bahwa memang saya lebih sering menemuinya sebab saya melihat ia sudah mulai ditinggalkan kakak yang lain.
Ketika kader tidak lagi sering ditemui kakaknya, setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, bukannya tidak mau menemui tetapi sang kakak sudah bertambah sibuk sebab mengemban amanah yang lebih besar. Kedua, sang kakak tidak bertambah sibuk tetapi sudah tidak butuh lagi.
Mengapa tidak butuh? Bisa jadi ada kemungkinan-kemungkinan. Akan tetapi, satu kemungkinan yang sering saya temui adalah kader dianggap sebagai target ekonomi-politik. Ia hanya akan dianggap apabila menguntungkan secara ekonomis atau menguatkan secara politik. Jika pesta ekonomi-politik sudah usai, ia tidak dibutuhkan lagi dan tidak dihubungi lagi.
Berbeda jika kader dianggap aset, ia akan dijaga sungguh-sungguh. Ada atau tidak hajat ekonomi-politik, ia akan terasa penting dan akan dihubungi. Sebab, jika dianggap aset, kader akan di-berdaya-kan. Sebaliknya, jika ia dianggap target, ia akan di-perdaya-kan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar