M. Q. Aynan
Ada sebagian kader yang menurut saya muda, tidak hanya usianya tetapi juga pola pikir mereka. Bagi saya, pikiran-pikiran mereka segar, meski belum tentu diterima secara luas. Bagi mereka, di era platform serba baru ini, jumlah sama sekali kurang begitu penting.
Pada masanya, jumlah banyak memang menjadi kebanggaan tersendiri. Akan tetapi, seiring waktu, sampailah kepada titik jenuh, ketika jumlah banyak tadi menjadi seperti buih di lautan, mengambang.
Inilah yang membuat bingkai pemahaman determinasi jumlah menjadi tidak relevan lagi dan malah bisa berubah menjadi beban. Para kader muda tadi mengajarkan bahwa jauh lebih penting saling berkarya, memfungsikan diri, dan berkolaborasi, ketimbang persoalan jumlah.
Pada masanya pula, kita menyaksikan betapa hasrat untuk merekrut sebanyak-banyaknya yang begitu besar pada akhirnya membuat banyak anggota menjadi merasa pasif. Kohesi retak dan tidak terawat. Manusia yang berada di dalamnya tidak menjadi sumber daya, karena tak pernah merasa diberdayakan.
Mau diapakan sumber daya itu? Tidak sedikit pihak pengelola yang tak tahu mesti berbuat apa. Atau bisa saja tahu namun takut melangkah dan tidak berani mengambil keputusan. Lainnya sudah terlalu lama hidup dalam penantian kesadaran kolektif.
Memang, risiko sebagai penerus yang muda dan remaja, dalam bidang apa pun. Masih berfungsikah mesin peremajaan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar