M. Q. Aynan
Cukup banyak jenis forum entah dalam rangka ilmiah maupun kaderisasi. Akan tetapi, terkadang saya merasa kurang terdorong untuk mengikuti forum tersebut disebabkan faktor moderatornya. Terkesan bahwa panitia kurang teliti memilih moderator entah memang begitu atau karena tidak ada orang lain.
Moderator secara sederhana dapat dimengerti sebagai orang yang diberi tugas untuk mengelola forum sebagai penengah. Penengah di antara siapa, di antara pembicara dan pendengar. Untuk itu, seorang moderator mesti menguasai tentang dasar-dasar topik yang akan dibahas, tahu latar belakang pembicara, tahu latar belakang pendengar.
Tak jarang saya amati, orang yang menjadi moderator jauh di bawah pembicara. Misalnya topiknya tentang konflik Palestina, namun moderatornya tidak memahami dasar geopolitik. Paling tidak, moderator berada satu tingkat di bawah pembicara, sama dengan pembicara, atau bahkan bisa lebih tinggi.
Kejadian yang lebih menyebalkan bagi saya adalah ketika moderator yang kurang cakap itu dipakai lagi, diberi penghargaan pula. Saya ragu tidak ada yang lebih pantas sedikit.
Saya secara pribadi enggan dijadikan moderator. Malas saja, kecuali saya lihat sekiranya tidak ideal, terpaksa bersedia. Saya berusaha menjadi moderator yang sungguh siap dengan mengetahui peserta, pembicara, topik, waktu, dan suasananya, dan tidak bisa mendadak.
Di permulaan moderator menggambarkan forum secara singkat. Lalu memperkenalkan riwayat hidup pembicara dan menjelaskan latar belakang pembicara dalam forum setidaknya untuk mengira-ngira apa yang akan dipaparkan oleh pembicara.
Di sesi tanya-jawab, tidak semua peserta punya kesempatan bertanya. Saya punya dua pilihan. Pertama, jika saya memilih untuk menggunakan kewenangan saya, dan juga waktunya mepet, saya akan membatasi pertanyaannya. Kedua, jika agak longgar saya biasanya mempersilakan siapa pun untuk bertanya, lalu pembicara memilih pertanyaan mana yang akan dijawab.
Ada kemungkinan lain sebenarnya yang sangat jarang saya lakukan. Jika pembicaranya setingkat dengan saya, dan pendengarnya mengajukan pertanyaan yang tidak relevan dengan fokus pembicaraan, saya tidak segan-segan menganulir pertanyaan tersebut. Pernah terjadi beberapa kali, dan ada dua tanggapan. Kalau tidak ngotot maka saya menyarankannya untuk bertanya di lain kesempatan atau lewat pribadi. Kalau ngotot, apalagi dengan restu pembicara, saya lagi-lagi tidak segan untuk menguliti pertanyaanya. Masih lebih efisien begitu daripada dipaksa untuk dijawab, justru membuat pembicara bingung bagaimana menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar