M. Q. Aynan
Judul tersebut sengaja mengambil empat kata kunci. Dua kata kunci awal dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi selama sekitar lebih dari tiga tahun. Sebagai pengemban amanah di beberapa organisasi dan berkarya lewat pengajaran dan penulisan, setidaknya ada dua tema yang sering dibahas yaitu "sistem" dan pikiran seseorang. Akan tetapi, sistem dan pikiran seseorang menurut saya sulit dibahas dan abstrak. Akibatnya, jika dibahas jauh malah pembahasannya menjadi absurd. Untuk itu, yang bisa diamati menurut saya dari sistem adalah kebijakannya, jika pikiran seseorang maka karyanya, baik tulisan dan karya lainnya.
Sedangkan kata kunci kedua yaitu kritik dan propaganda, juga masih berkaitan dengan dua kata kunci sebelumnya karena dua kata kunci terakhir menjadi instrumen untuk menanggapi dua kata kunci pertama. Hal itu dilatarbelakangi oleh tanggapan baik yang berupa tulisan saja maupun disertai gambar. Banjir tanggapan tersebut dalam amatan saya mengaburkan perbedaan antara kritik dan propaganda, atas nama kebebasan berbicara. Padahal menurut saya, bebas berbicara tidak identik dengan sembarangan berbicara.
Ada kecenderungan tertentu pada sebagian orang, khususnya di lingkungan mahasiswa atau secara umum di lingkungan masyarakat, yakni cerewet menyerang pengemban amanah baik eksekutif di mahasiswa maupun eksekutif di dosen, namun ketika ia sendiri mengemban amanah ia tidak mau dikomentari. Bagi saya itu standar ganda. Standar yang tidak ganda adalah menanggapi orang lain sebagaimana ketika ditanggapi oleh orang lain. Apabila sudah merasa, dan perasaannya betul, bahwa sudah menanggapi secara baik tetapi mendapat balasan yang tidak linier, bisa jadi ada kemungkinan lain, salah satunya adalah miskonsepsi.
Miskonsepsi yang pernah terjadi dalam pengalaman saya pada konteks ini adalah miskonsepsi tentang kritik. Saya pernah menulis dan saya meminta seorang adik tingkat saya memberikan kritik. Ia tidak mau dengan alasan tidak suka memberi kritik. Saya balas justru karya yang bagus itu perlu dikritik. Kalau tidak dikritik bisa jadi karya itu buruk sehingga istilahnya under-critic. Pembaca karya tidak mengomentari sebuah karya karena tidak ada pencapaian kualitas baik bobot estetik maupun bobot politik yang bermutu sehingga tidak perlu dilakukan kritik atas karya tersebut. Bobot tersebut yang membuat berharga
Saya tidak melanjutkan percakapan tersebut. Akan tetapi, dalam amatan saya, adik saya itu memiliki kesan kurang baik mengenai istilah kritik. Ada miskonsepsi disana disebabkan menurut saya banyak orang yang mengklaim mengeluarkan kritik, tetapi justru bukan kritik yang muncul, melainkan propaganda. Sebagaimana sudah tertulis, kritik justru menunjukkan penghargaan dan ada nilai dan bobot tertentu. Jika tidak berharga, justru tidak perlu ada kritik.
Berbeda dengan propaganda. Yang utama dalam propaganda adalah bagaimana mempengaruhi, terlepas berharga atau tidak, serta nilai dan bobotnya. Kalau ada sebaran tulisan saja atau disertai gambar, yang tanpa mencantumkan data dan argumen pendukung yang valid, tentu itu bukanlah kritik menurut saya, melainkan propaganda. Bahkan, propaganda tersebut bisa tergolong propaganda hitam apabila menimbulkan konflik horizontal, permusuhan, memecah belah, melanggar etika atau norma tertentu, menyebarkan teror atau membentuk stereotype serta stigma negatif. Jadi, pilih mengeluarkan kritik atau propaganda?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar