---Di mana pun adalah ruang kelas---

Senin, 13 April 2020

Pentingnya Sanad Perjuangan dalam Proses Kaderisasi

M. Q. Aynan

Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata bahwa sanad itu bagian dari agama (Din). Kalau bukan karena sanad, pasti siapaun bisa berkata apa yang dia kehendaki. Berdasarkan perkataan tersebut, saya katakan bahwa sanad juga bagian dari ikatan kaderisasi. Kalau bukan berdasarkan sanad perjuangan, maka arah kaderisasi bisa dibelokkan semaunya.

Jika sanad perjuangan terus terjaga, setidaknya kita bisa meminimalisir kecelakaan kaderisasi yang dilakukan oleh sebagian oknum yang dianggap senior, yang tiba-tiba muncul tanpa diketahui asal-usul prosesnya, siapa guru dan senior sebelumnya, dan seterusnya. Membahas panjang-lebar tentang proses namun kehadirannya sendiri tidak berdampak signifikan.

Yang lebih parah adalah jika sanad perjuangan ini tidak dipedulikan maka silakan tunggu kemerosotan proses angkatan yang lebih muda. Yang lebih muda nantinya akan semakin bingung arah proses mereka sendiri, terlebih bagaimana memfasilitasi dengan memberi alternatif arahan bagi orang lain.

Sanad secara bahasa berasal dari kata sanada yang berarti “bersandar”. Dari kata sanada juga muncul kata asnada yang berarti “menyandarkan sesuatu”. Sedangkan kata sanad berarti “sesuatu yang dibuat sandaran”.

Sanad perjuangan disini adalah silsilah nama-nama senior pembina yang mengkader melalui berbagai jalur kaderisasi. Dinamakan sanad, karena junior dibawahnya menjadikannya acuan dalam menilai kualitas suatu proses apakah proses tersebut shahih, valid, jelas, atau tidak.

Karenanya, kita harus membaca urutan sanad dalam memilih proses, memilih senior, memilah-milahnya, mengolah, dan memisahkan mana yang jelas dan tidak. Dengan cara ini, proses dan hasilnya bisa tampak dalam waktu dan kesempatan tertentu. Jadi, pilih sanad yang jelas atau tidak?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar