Muhammad Qurrotul Aynan
Saya, dan mungkin juga pembaca, pernah merasakan kondisi ketika banyak ide di kepala, bahkan sampai menumpuk, tetapi macet ketika mau dituangkan menjadi tulisan utuh. Kondisi itu bisa ditangani dengan teknik tertentu, entah tradisional seperti pembelajaran menulis pada mata pelajaran atau mata kuliah menulis. Jika belum kenal dengan teknik-teknik itu, satu-satunya cara adalah, tulis saja.
Tulis bagaimana? Ya, seperti menulis catatan pribadi atau diari. Karenanya, tulis saja semua yang ada di kepala, tidak perlu ada yang disunting/diedit entah itu dihapus, diganti, dikurangi, atau semacamnya. Pokoknya ya tulis saja. Tidak perlu hiraukan apakah susunannya rapi, apakah penggunaan katanya tepat, mau bagus atau jelek, pokoknya tulis saja.
Setelah semuanya selesai, barulah sunting/edit. Entah edit sendiri atau minta pendapat orang lain yang lebih berpengalaman. Buang kata-kata yang tidak perlu, yang sekiranya malah membuat kalimat boros atau tidak efektif.
Yang perlu diperhatikan adalah, memposisikan diri bukan sebagai penulisnya, melainkan sebagai pembaca. Tidak hanya pembaca yang sudah akrab dengan pembahasan di dalam tulisan itu, perlu juga memposisikan diri sebagai pembaca awam, yang seolah-olah baru membaca tentang isi tersebut.
Bila perlu, sebarkan tulisan itu. Siapa tau ada yang bersedia memberikan pendapat, saran, atau bahkan kritik. Jika tidak ada yang menanggapi, tidak perlu terlalu terbawa perasaan. Bisa dianggap bahwa tulisan itu utamanya adalah untuk diri sendiri, dan semata-mata tulisan itu adalah pemberian yang tidak mengharapkan kembalian. Seperti tulisan ini, utamanya adalah pesan kepada diri saya sendiri. Jika pembaca mendapatkan manfaat dari tulisan ini, berarti itu adalah nilai tambah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar