Oleh : Z. Adyan M
Saat itu saya masih menjadi anggota organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia(PMII), dengan sesepuh rayon yang merupakan Angkatan 15 dan dinahkodai oleh sahabat Nizar Baihaqi. sebagai seseorang yang tertarik akan hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan dan keilmuan menjadikan kegiatan saya sehari-hari adalah mengikuti diskusi yang ada di Rayon FTIK. Kegiatan ini merupakan agenda bidang dua yang diketuai sahabat Irwansyah dan sekretaris sahabati Inast.
Setelah beberapa kali melakukan diskusi, di sela-sela waktu saya ngobrol santai dan cerita-cerita dengan sahabat Irwan dan Inast tentang sepak terjang keduanya di rayon FTIK. Ditengah-tengah perbincangan ini, beliau berdua menceritakan beberapa kader mereka Angkatan 16 yang menjadi macan-macan keilmuan diantaranya sahabat Suhil, sahabat Rahman, sahabat Alunk dan satu sosok sahabat yang diketahui namanya tapi tidak dengan wujudnya.
Mendengar cerita itu saya dan beberapa sahabat yang ikut berbincang saat itu penasaran dengan sesosok senior yang tidak diketahui wujudnya seperti apa, gimana orang, sifat dan kepribadiannya. Seperti seorang karakter dalam sebuah cerita fiktif atau mitos saja.
Sahabat Irwansyah menceritakan bahwa sosok itu telah menguasai metode berpikir filsafat saat dipondok dan Aliyah, dimana Sebagian besar anggota dan kader baru mempelajari ketika menginjakkan kaki di bangku perkuliahan. Mungkin ada segelintir orang yang tahu khususnya Angkatan 18 saat itu, karena sosok itu hampir tidak pernah menampakkan sehelai rambutnya di rumah pergerakan.
Selang beberapa waktu, tepatnya di bulan Ramadhan saya dipertemukan dengan sosok kader tersebut, ia bernama Muhammad Qurrotul Aynan mahasiswa program studi S1 Tadris Bahasa Inggris, kini melanjutkan studinya di program studi S2 Pendidikan Agama Islam. Kami bertemu saat melakukan kegiatan keilmuan dan bertamu di rumah dosen senior sahabat Pak Subakri.
Di sana, kami membahas tentang ideologi yang dijelaskan oleh sahabat Subakri. Namun, sahabat Aynan waktu itu berbeda pandangan dengan sahabat Subakri. Tapi dengan kepribadiannya, ia memilih diam. Selanjutnya, ia menjelaskan pandangannya kepada saya mengenai ideologi perspektif William James.
Sebagai seorang yang sulit untuk memulai komunikasi dengan seseorang, saya minder untuk melakukan komunikasi dan berhubungan secara intensif dengan sahabat Aynan. Tapi menurut saya, pandangannya yang ia jelaskan merupakan materi pertama saya darinya. Dari sini, memandang cerita tentang sosok seseorang yang menurut saya dan mayoritas Angkatan 18 merupakan cerita fiktif dan mitos belaka merupakan sebuah kenyataan.
Merupakan sebuah harapan dengan shuhbah yang saya jalin dengannya bisa menjadi hubungan yang bisa mengarahkan saya ke Shirothol mustaqim sebagaimana sirotholladina an’amta 'alaihim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar