Pertandingan, Supporter, dan Wasit
Muhammad Qurrotul Aynan
Menarik membaca status/story WA Abdul Muis, Kabid Advoger PR PMII FEBI IAIN Jember. Muis menulis, "Di setiap pertarungan yang asik, permainan itu selalu ada. Di dalam pertarungan inilah awal mula muncul suatu pemikiran-pemikiran bahwasanya kelompok-kelompok supporter dari antara si pihak petarung melakukan apa saja sekiranya si petarung yang ia pilih memenangkan liga tersebut."
Yang terlibat dalam permainan di lapangan tentu saja pemain dari dua tim yang berbeda. Wasit ada untuk menjadi penengah antara keduanya, terutama apabila terjadi suatu pelanggaran yang dilakukan oleh salah seorang pemain. Selain itu, sebetulnya ada lagi pihak yang terlibat. Salah satunya adalah para pendukung atau supporter yang terkadang luput dari perhatian sebagian penonton ketika menonton sebuah pertandingan.
Lebih lanjut Muis menulis, ''ketika sudah menemukan solusi atau solasi, supporter tersebut mendoktrin si petarung untuk melakukan yang ia katakan dengan alasan agar kamu bisa memenangi liga ini dan saya sebagai supporter akan menggerakkan supporter yang lainnya."
Di satu sisi, keberadaan supporter memainkan peranan penting dalam mendukung tim dan pemain kegemaran. Peran itu dapat berupa datang ke tempat pertandingan untuk menyaksikan pertandingan secara langsung, penampilan khusus seperti yel-yel, menggunakan atribut yang sama, termasuk juga ikut menjaga ketertiban. Yang terakhir ini seringkali terlupakan entah disengaja atau tidak. Yang pasti, dalam beberapa kesempatan, justru yang terjadi sebaliknya.
Tentang persoalan ketertiban itu, Muis mengakhirinya dengan menulis, "Begitulah kira kira statement suporter yang saya rekam sebelum ia dihantam oleh batu batu yang melayang di stadion karena terjadinya kericuhan atas kesalahan yang dilakukan oleh petarung dan diketahui oleh wasit, sehingga antar supporter tidak terima yang menyebabkan kericuhan dan liga tersebut discorsing sehingga para pemain mulai mencari wasit agar rencana jahatnya dalam pertarungan tersalurkan. Begitulah yang terjadi."
Di kalimat terakhir, Muis menyeru, "Berhati-hatilah wahai wasit". Memang, menjadi wasit perlu berhati-hati, baik dalam mengambil keputusan maupun menjaga diri. Menjadi wasit tentu harus bersikap tawasuth. Tawassuth bukan berarti bersikap tidak tegas atau plin-plan. Layaknya seorang wasit (dari kata "waasith" yang berarti penengah) dituntut ketegasan dalam memimpin suatu pertandingan, tidak memihak siapa pun, apalagi "diam-diam" ikut bermain. Tak ketinggalan juga menjaga diri dari ancaman para supporter yang mungkin saja menyimpan dendam kepada wasit lantaran supporter itu tidak puas terhadap keputusan itu. Ya, minimalnya lah, begitu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar