---Di mana pun adalah ruang kelas---

Selasa, 09 Februari 2021

Kekuatan Intelektual dan Gerakan Non-Kotak

Kekuatan Intelektual dan Gerakan Non-Kotak

Muhammad Qurrotul Aynan


Kekuatan intelektual, disadari atau tidak, adalah kekuatan utama suatu penaklukan. Jika tidak cukup memahami peta kekuatan intelektual, maka pemahaman tentang dominasi akan menjadi kurang utuh. 


Kekuatan intelektual bagi sebagian orang mungkin dapat dikenali dengan unjuk kekuatan. Jadi kekuatan intelektual itu ditunjukkan, khususnya secara lisan, di depan orang banyak. Padahal, unjuk kekuatan itu bisa saja melalui penjelasan yang berputar-putar, panjang-lebar, dan terlalu melangit. Berbeda dengan anggapan itu, justru kekuatan intelektual seringkali tidak ditunjukkan, tersembunyi. Selain itu, kekuatan intelektual justru tampak dari penjelasan yang fokus, singkat, dan membumi.


Kenyataan yang terjadi ketika pemahaman tentang kekuatan intelektual itu tidak utuh adalah penugasan tenaga pengajar yang wajib satu wilayah, entah sama-sama orang Indonesia atau sama-sama satu fakultas. Di sisi lain, orang yang satu fakultas belum tentu betul-betul mumpuni, benar-benar menguasai apa yang diajarkan. Pokoknya satu fakultas, dengan dalih "menggunakan produk dalam negeri".


Padahal, kunci kebangkitan kekuatan intelektual adalah jaminan transfer. Perlu ada semacam reformasi kekuatan intelektual yang ditandai dengan transfer kekuatan intelektual, meskipun tidak sama fakultasnya. Jadi, apabila tidak ada transfer kekuatan Intelektual, maka juga tidak akan ada pergeseran kekuatan intelektual.


Apalagi, jika memang berkomitmen untuk Non-Kotak, dalam arti tidak terkotak-kotak berdasarkan fakultas misalnya, maka tidak ada alasan untuk tidak menjamin transfer kekuatan intelektual. Jadi, ketika berkomitmen untuk Non-Kotak dan menghendaki pergeseran kekuatan intelektual, maka fakultas yang kekuatan intelektualnya lebih dominan, diundang untuk datang, siap dan mau untuk diajari dalam rangka peningkatan kekuatan intelektual, ditambah transfer ilmu intelektual, didik dan latih , transfer strategi dan taktik kontestasi, tunjukkan cara kerjanya.


Kekuatan intelektual bukan ditunjukkan oleh satu bidang saja, melainkan ditunjukkan oleh berbagai bidang, lini, dan sektor. Jika tidak ada pergeseran kekuatan intelektual, maka pemenang lama tetap bisa mempertahankan sejarah lama, bahkan menjadi akhir sejarah. Jadi, apakah percaya diri dengan kekuatan intelektual sendiri, berhenti belajar, atau siap dan mau diajari? Tetap berhenti di satu bidang, lini, dan sektor, atau berbagai bidang? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar