[18/2 05.01] Muhammad Qurrotul Aynan: *SENIOR PMII KEREN*
Oleh :Dasukie, Af
🌾Sebagai bagian dari produk pengkaderan PMII IAIN JEMBER, saya harus menulis meskipun ini sangat subjektif dan sepertinya buang-buang waktu saja, ini Hanya amatan dan sepintas pengalaman pribadi saya saat berproses di PMII. Tahun 2003 tepatnya 18 tahun silam saya mulai kenal dengan PMII melalui Bimtest Pra masuk ke STAIN JEMBER saat itu. Saya kagum betul dengan senior-senior PMII yang pinter-pinter saat mengisi acara demi acara di dalam kelas kala itu. Perkenalkanpun bertambah saat saya masuk PMII melalui pintu MAPABA.pintu mapaba telah mengenalkan banyak hal tentang produk-produk yang dimiliki oleh PMII tentu sangat normatif seperti profil, NDP, AD/ART, PO dan beberapa buku monomental yang tulis secara cerdas oleh sahabat seperti mahbub Junaidi, Malik Haramain, fauzan Alfas dan sahabat yang lain.
🌾Perkenalan dengan normatifitas PMII memantik lebih jauh lagi, apa sebenarnya yang ada pada rumah pergerakan itu, memang benar konon PMII anti kemapanan, para aktivisnya punya sytle yang kontra dengan kemapanan, rambut gondrong dan celana bolong-bolong, Free market ideas dan tradisi PMII selalu menemukan Momentumnya, meski radius saya dengan aktivis 98 cukup jauh tetapi cipratan spirit bahkan nuansa intlektual dan pergerakan cukup dinamis. Tidak sedikit dari sahabat-sahabat aktivis didalam tas atau setiap hari kemana-mana bawa buku bahkan teman yang nakal sekalipun bawa buku. Yang saya tahu saat ke Rayon jika ketemu dengan senior pasti ditanya baca buku apa, bahkan kadang disuruh presentasi buku-buku yang telah dibaca. Budaya PMII tidak berhenti dengan pertanyaan buku, budaya itu berkembang dengan menjamurnya studi club atau halaqoh2 yang dikomandani oleh senior-senior. Studi club yang saya tahu tidak lain khusus mengasah intlektual dan setiap minggu arisan giliran presentasi bab antar bab didalam buku. Tradisi ini tidak berhenti disana sayapun dikenalkan dengan cofe morning dan rujak party yang isinya membahas seputar ilmu, politik, dan organisasi.
🌾 Sebagai kader, saya melihat dan merasakan betul para senior saya itu rajin baca buku dan pemikiran-pemikirannya keren-keren, indikasinya saat orasi ilmiah, ngisi seminar, ngisi diskusi dan beberapa forum ilmiah lainnya. Sebagai catatan, senior sekaligus guru saat itu, adalah mereka-mereka para senior dari lintas fakultas, kita bebas belajar pada senior siapa saja tampa ada sekat fakultas dan Prodi,sehingga saya belajar banyak hal pada kompetensi mereka masing-masing. Hampir saat kerayon ada tulisan-tulisan segar yang bisa dijadikan bahan diskusi karena tulisan itu ditulis oleh siapa saja sebagai asupan gizi kader. tradisi menulis bebas itu yang saya bawa sampai saat ini. asupan gizi kemudian berkembang ke warung tempat nongkrong ilmiah para kader-senior, saat itu ada warung bu pilor, bu kana dan bu marem. Disana kita memadu mesra dialektika aktifis, jadi kalau ditanya kuliah dimana mas, Jawabannya di PMII,benar di PMII karena transformasi ilmu hampir berjalan 24 jam dengan prototipe dosen yang berbeda-beda dari para senior.
🌾Hasil olah pikir di PMII kemudian dibawa kekampus untuk didiskursuskan dengan elemen mahasiswa dari berbagai aktivis organisasi lainnya sehingga ruang kelas cukup hidup dengan adu argumentasi dari para aktivis. Saya pribadi sering dibisiki senior agar mampu mematahkan argumentasi dari aktivis lain dan itu wajib katanya, dari itulah jika tidak ada jam kuliah saya selalu parkir diri didalam perpustakaan kampus.hampir para aktivis haus ilmu saat itu, karena dinamika kampus tensinya cukup tinggi dengannya kita dituntut baca dan terus baca.
🌾 Tulisan tidak sistimatis ini bukan hendak membandingkan saya dengan para sahabat karena setiap generasi beda tantangannya, tapi baca (Iqra') hemat saya bukan soal generasi antar generasi tapi kebutuhan setiap generasi yang dianjurkan oleh Agama, oleh karenanya para sahabat PMII jangan berhenti belajar apalagi masih berstatus mahasiswa kewajiban membaca harus dijalankan biar tampak jelas pembedanya antar PMII dengan bukan PMII karena yang diwariskan senior pada saya adalah membaca dan terus membaca. Saya menulis berdasarkan pengalaman PMII-saya, bagaimana dengan PMII anda, mari sejenak berfikir. Refleksi 54 tahun PMII IAIN-JEMBER, 17 Februari 2021.
[18/2 05.01] Muhammad Qurrotul Aynan: MASIHKAH SENIOR PMII KEREN? BAGAIMANA DENGAN JUNIORNYA?
Oleh :M. Q. Aynan
Sebagai satu bagian kecil dari sekian banyak produk pengkaderan PMII IAIN JEMBER, saya terpaksa menulis dan memang ini sangat subjektif dan biarlah buang-buang waktu saja. Ini juga cuma berdasarkan pengamatan dan sepintas pengalaman pribadi saya saat berproses di PMII.
Saya sudah mulai kenal dengan PMII saat baru masuk diterima menjadi mahasiswa IAIN JEMBER saat itu. Sedangkan mendengar cerita-cerita tentang PMII sejak Madrasah Aliyah sebab kunjungan kakak kelas yang sudah kuliah di PTKIN ke asrama pesantren.
Entah karena absurditas saya, saya kagum dengan sebagian senior PMII yang betul-betul pinter, bukan karena ingin terlihat pinter, saat mengisi acara demi acara di berbagai forum dan kegiatan dari MAPABA sampai yang lain.
Perkenalan pun dilanjutkan dengan pengakraban. Konon sih PMII anti kemapanan. Salah satunya bisa diamati dari penampilan khususnya busana dan gaya rambut. Rambut gondrong sih masih ada, namun semakin kesini kok kelihatannya makin klimis ya. Angkatan 2016 Tarbiyah yang gondrong sekitar belasan hingga dua puluhan orang, entah sekarang. Celana bolong-bolong lumayan juga lah. Free market ideas kayaknya sudah agak bergeser ke limited market ideas.
Konon juga, tidak sedikit dari sahabat-sahabat aktivis di dalam tas atau setiap hari kemana-mana bawa buku bahkan teman yang nakal sekalipun bawa buku. Semakin kesini, tampaknya ada pergeseran juga. Entah karena buku fisik sudah diganti dengan buku elektronik, atau buku yang banyak halaman dan berat itu diganti dengan artikel-artikel pendek, atau malah diganti dengan perawatan rambut dan kulit semacam Pomade dan Skincare.
Yang saya kurang tahu, konon dengarnya, saat ke Rayon jika ketemu dengan senior pas ditanya baca buku apa, sebagian orang malah tidak betah, apalagi jika disuruh presentasi buku-buku yang telah dibaca. Atau pertanyaan itu sudah menjadi seperti barang yang menyeramkan, entah.
Klub kajian atau halaqoh-halaqoh yang dikomandani oleh senior-senior, tinggal berapa tersisa sudah. Ngopi dan ngerujak juga lihat-lihat (bukan dengar-dengar) yang isinya bukan membahas seputar ilmu, politik, dan organisasi, agak bergeser ke topik seputar makanan, minuman, belanja, dan jalan-jalan.
Sebagai kader, saya melihat dan merasakan betul para kader yang lebih dulu berproses dan memerankan senior itu rajin baca buku dan pemikiran-pemikirannya keren-keren, indikasinya saat orasi ilmiah, ngisi seminar, ngisi diskusi dan beberapa forum ilmiah lainnya.
Tadisi menulis yang kuat dan bertanggungjawab itu yang saya bawa sampai saat ini. Asupan gizi kemudian berkembang ke warung tempat nongkrong ilmiah para kader-senior, saat ini ada warung di Jubung Rest Area dan area lainnya. Saya pribadi sering dibisiki sebagian kecil senior agar mampu mematahkan argumentasi dari aktivis lain dan itu wajib kata para mas(ter) itu.
Tulisan absurd ini, bisa dibilang, merupakan otokritik. Entah tulisan ini mau dibilang mirip tragedi, parodi, atau bahkan komedi. Atau kalau mau lebih keren, sebut saja tulisan ini adalah tentang absurditas eksistensi senior-junior. Saya menulis berdasarkan pengamatan mata PMII-saya, bagaimana dengan mata PMII anda, mari menertawakan diri bersama, sebentar. Representasi 54 tahun PMII RFTIK IAIN-JEMBER, 17 Februari 2021.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar