Nietzschean Kekanak-kanakan?
Muhammad Qurrotul Aynan
Pembuka: Salah Paham?
Nietzsche banyak disalahpahami. Ungkapan ini bagi peminat studi filsafat dan pemikiran tentu sudah sering dijumpai. Sebagaimana diungkapkan oleh A. Setyo Wibowo, sebagai penulis soliter, yang didera penyakit berkepanjangan, ia sendiri memang tidak terlalu ingin mudah dipahami.
A. Setyo Wibowo menambahkan bahwa Nietzsche menulis dengan aforisme, ungkapan-ungkapan pendek yang bernas, namun tidak selalu jelas kaitannya satu dengan lainnya. Tulisannya yang sistematis juga tidak selalu mudah ditangkap maksudnya. Mengakui sebagai bagian dari jamannya yang modern dan nihilis, Nietzsche mencoba melampauinya.
Jika A. Setyo Wibowo berbicara mengenai salah paham dalam konteks Indonesia, maka saya dalam tulisan ini hendak berbicara tentang salah paham, atau paling tidak, kurang paham mengenai pemikiran Nietzsche dalam konteks mahasiswa di kampus saya.
Beberapa mahasiswa yang saya amati membaca buku terjemahan karya Nietzsche atau buku-buku yang membahas tentang Nietzsche, atau juga aforisme pendek. Tentu hal itu berpengaruh, entah langsung atau tidak, entah diakui atau tidak, terhadap bangunan pemikiran dalam melihat realitas sehari-hari.
Tentang Nihilisme
Seperti aforisme Nietzsche, aforisme beberapa mahasiswa tersebut juga berupa ungkapan-ungkapan pendek yang tidak terlalu jelas kaitannya satu sama lain juga sulit ditangkap maksudnya. Selain ungkapan, sikap dan perilaku beberapa mahasiswa tersebut bersifat nihilis dan senantiasa menuntut kebaruan.
Karena bersifat nihilis, maka ungkapan dan sikap yang dilandasi keyakinan bahwa semua nilai-nilai (value) itu tidak berarti. Lebih jelasnya, bahwa sejatinya tidak ada makna/nilai-nilai dalam hidup ini yang berlaku bagi semua manusia. Ungkapan dan sikap nihilis sering dikaitkan dengan skeptis radikal atau pesimisme ekstrim. Jadi, tidak percaya, sangat ragu, terhadap realitas dan orang lain, bahkan mungkin tidak percaya kepada orang lain.
Persoalannya adalah beberapa mahasiswa yang saya amati itu sikap nihilisnya adalah nihilis pasif. Itu berarti bahwa mereka menganggap kenyataan bahwa tidak ada yang bisa dipercaya dan bahwa hidup, khususnya kehidupan kampus maupun kehidupan sehari-hari pada umumnya, sejatinya tidak berarti, kondisi mental dan fisik mereka akhirnya akan menurun.
Padahal, seperti ditulis oleh Nolen Gertz , bahwa yang disarankan oleh Nietzsche bagi orang-orang adalah sikap nihilis yang aktif. Nihilis aktif, setelah menolak bahwa nilai-nilai tersebut ada nihilis aktif berpikir bahwa karena tidak ada nilai-nilai yang betul-betul penting, maka berarti hidup sesuai kehendak pribadi. Nihilis aktif menemukan kebebasan dan kedamaian dalam ketidakadaan. Nihilis aktif menghancurkan nilai yang ada untuk menciptakan tujuan baru. Mereka tidak takut terhadap kenyataan bahwa mereka tidak percaya akan apapun. Dengan demikian, mereka bebas untuk memutuskan hal-hal dalam hidupnya.
Tentang Moral
Friedrich Nietzsche mengidentifikasi moralitas budak dengan kasta pendeta, meskipun ia mengidentifikasi di tempat lain dengan para budak. Orang-orang ini adalah orang miskin, tidak sehat, lemah, dan impoten, dan mereka belajar untuk membenci kekuatan dan kesehatan para majikan. Mereka menjuluki tuan mereka "jahat" dan menyebut diri mereka "baik" sebaliknya. Jadi, moralitas budak dicirikan oleh kontras antara "baik" dan "jahat."
Kontras antara moralitas tuan dan moralitas budak adalah salah satu aspek yang lebih dikenal dari pemikiran Nietzche, tetapi menurut para pakar bisa menyesatkan. Menurut pakar, sangat mudah, meskipun naif, untuk melihat Nietzche sebagai penyusun kontras ini sehingga memuji moralitas tuan dan meremehkan moralitas budak yang mendominasi waktu sejarah peradaban.
Jadi, ketika pemikiran Nietzsche tentang moral ini disalahpahami oleh mahasiswa, maka gerak sejarah akan menghasilkan dua kelompok yang diidentifikasi sebagai yang "baik" dan yang "jahat". Yang sejalan akan diidentifikasi sebagai yang "baik", sedangkan yang tidak sejalan akan diidentifikasi sebagai yang "jahat". Sekali lagi, pembacaan seperti ini sangat naif, untuk melihat antara yang sejalan dengan yang tidak sejalan sehingga memuji moralitas yang sejalan dan meremehkan moralitas yang tidak sejalan yang mendominasi gerak sejarah kehidupan.
Penutup: Kebutuhan Untuk Percaya
Pembacaan tidak teliti dan kurang hati-hati menyebabkan pemikiran Nietzsche sering disalahpahami, menyebabkan pemikiran Nietzsche kemudian diterjemahkan menjadi sebagai anti-golongan yang mendorong kelompok "unggul" untuk menyingkirkan moralitas pendeta-budak.
Para pakar baik A. Setyo Wibowo, Nolen Gertz, maupun lainnya hendak menawarkan tafsir atas Nietzsche yang dilandaskan pada pemikiran tentang “kebutuhan untuk percaya”. Manusia selalu butuh mempercayai sesuatu untuk mengutuhkan kehendaknya (dirinya). Seperti kata A. Setyo Wibowo, semakin manusia butuh percaya, kepercayaan apa pun yang dipegangnya akan dibekukan dan dikehendaki secara mati-matian. Fanatisme tidak berkaitan dengan kepandaian atau kebodohan, kekayaan atau kemiskinan. Orang pandai tapi butuh percayanya besar, akan fanatik. Sebaliknya, lanjut A. Setyo Wibowo, orang sederhana di dusun bisa bersikap bak distinguished people di depan macam-macam kepercayaan. Fanatisme juga tidak khas hanya di agama. Semua jenis kebenaran yang diusung agama, ideologi, sains atau bahkan filsafat bisa diubah oleh orang-orang berkebutuhan percaya besar ini menjadi “ide mummi”. Saat kebenaran-kebenaran menjadi “mummi”, balsem dan harum-haruman rempah-rempah tidak bisa menghilangkan kenyataan bahwa mereka “sudah mati” dan mematikan.
Lagi-lagi mengutip A. Setyo Wibowo, ungkapan kontroversial Nietzsche “Tuhan sudah Mati” memang menyeramkan, namun yang mengagetkan, Nietzsche mengatakan bahwa ternyata manusia-lah pembunuh-Nya: siapapun, termasuk Nietzsche dan jaman modernnya yang nihilis.
Kebenaran, kejujuran, keadilan, atau apapun yang dianggap telah "mati" oleh mahasiswa, berarti pembunuhnya adalah mahasiswa yang butuh percayanya besar, fanatik, meskipun ia terbilang pandai. Seperti kata Nolen Gertz, Nietzsche menyarankan untuk menjadi seorang nihilis aktif, bebas, termasuk terbebas dari ekspektasi, dari ikatan terhadap keyakinan, kebutuhan percaya yang berlebihan, dan fanatisme. Bebas dari itu semua menuju keunggulan dengan menerima kenyataan di depan macam-macam kepercayaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar