---Di mana pun adalah ruang kelas---

Sabtu, 06 Februari 2021

Keterampilan Dasar Membangun Keserasian dalam Komunikasi: Catatan Diskusi Sederhana

Berorganisasi berarti berhubungan dengan banyak orang. Tidak hanya tentang hubungan dengan internal anggota dan fungsionaris, tetapi juga dengan pihak eksternal. Untuk membentuk dan merawat hubungan tersebut agar tetap baik, diperlukan komunikasi yang baik pula.


Persoalannya adalah bagaimana memulai dan melaksanakannya secara berkelanjutan. Kesuksesan berkomunikasi tentu akan menambah kelancaran dalam upaya meraih tujuan bersama. Fungsionaris, utamanya pimpinannya, dituntut memiliki kecakapan tinggi dalam berkomunikasi dengan orang lain. Untuk itu, banyak para praktisi komunikasi membagi beberapa strategi beragam yang pernah mereka praktikkan dalam menjalankan perannya.


Satu di antara orang yang merangkum strategi berkomunikasi yang pernah dipraktikkan oleh beberapa praktisi adalah Nurul Hidayah yang merupakan Ketua Umum Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia masa khidmat 2019/2020, lembaga dimana saya berkhidmat selama setahun terakhir. Sempat muncul rangkuman itu dalam forum Rapat Tahunan Komisariat, lalu saya berinisiatif untuk menuliskannya agar lebih banyak orang yang selalu berupaya mengembangkan keterampilan dasar berkomunikasi guna mengasah kemampuan mereka dan memperbaiki kinerja dalam membangun hasil komunikasi yang efektif, informatif, serta persuasif.


Dalam rangkumannya, membangun keserasian dan saling memahami dalam komunikasi supaya ada kesan lebih dekat, lebih akrab, tergantung bagaimana seseorang memulainya. Jika di awal seseorang itu cenderung menggunakan bahasa yang sifatnya formal, penggunaan bahasa resmi, bahasa kantor, maka lawan komunikasi juga akan memberikan tanggapan yang sama.


Untuk membangun komunikasi yang mudah akrab, maka seseorang harus menyadari terlebih dahulu bahwa lawan komunikasi adalah orang yang dianggap dekat, dipercayai, sebab ketika bertemu dengan seseorang, tidak kemudian menggunakan bahasa baku untuk menanyakan alamat atau lainnya. Akan tetapi, perlu penggunaan bahasa yang terbuka, lentur, yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.


Contohnya, "Assalamu'alaikum, Cak. Ada dimana? Ada waktu, nggak? Ada keperluan. Kiranya kita bisa ngobrol, nggak di warung kopi? Atau saya langsung ke rumah njenengan?"


Penggunaan bahasa dalam komunikasi yang seperti itu yang seringkali tidak digunakan oleh teman-teman (sekitar. red) sehingga banyak senior dan alumni yang memandang ada batasan, ada jarak, antara teman-teman dengan mereka sendiri.


Komunikasi yang dibangun sejak awal memang cenderung formal. Sehingga ada rasa canggung, ada rasa sungkan, dan sebagainya. Mungkin rasa sungkan sudah menjadi suatu kepercayaan atau nilai yang terbangun. Akan tetapi, perlu dibuka juga kran komunikasi menggunakan bahasa sederhana, menjadikan orang lain lebih terbuka dengan kita, itu yang perlu dimulai untuk dibangun agar orang lain juga merasa nyaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar