Ide dan Konsep yang Bagus adalah yang Bisa Dieksekusi
Muhammad Qurrotul Aynan
Beberapa hari lalu secara tidak disengaja muncul obrolan oleh beberapa orang. Fokusnya adalah pada tiga orang. Jadi, anggap saja satu orang 'ruangan' dan satu orang 'lapangan'.
Ada ungkapan yang sudah kaprah, jamak dipersepsikan bahwa orang-orang lain di sekitar orang yang terlibat dalam obrolan banyak yang bertipe 'konseptor'. Hal itu lantaran ketika ada forum-forum diskusi, rapat, atau musyawarah, sering ramai usulan, tanggapan, menyanggah, dan penguatan.
Itu mungkin benar, namun tidak sepenuhnya benar. Sebab, seperti diamati oleh salah seorang pembicara di obrolan itu, bahwa setidaknya ada dua konseptor yaitu 'konseptor yang sekedarnya' dan 'konseptor sejati'. Saya sepakat dengan pendapat ini.
Saya setuju, tentunya bukan karena hanya mengamati dari luar, melainkan sering terlibat dalam menggagas sesuatu atau yang bisa disebut juga mengonsep suatu kegiatan atau agenda lain entah itu bersifat teknis atau prosedural.
Alasannya karena sebuah gagasan atau konsep menurut saya mesti merujuk kepada gagasan atau konsep yang pernah ditulis oleh para ahli. Sementara, tidak sedikit orang-orang yang dianggap 'konseptor' itu menggagas atau mengonsep tidak punya rujukan yang jelas. Selain itu, meskipun ada rujukan, seringkali gagasan tersebut sudah jauh dari gagasan aslinya, atau tidak relevan dengan kenyataan di depan mata. Padahal, kenyataan di lapangan adalah kenyataan yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga.
Oleh karena itu, sudah cukup lama saya berkesimpulan bahwa gagasan atau konsep yang bagus adalah yang bisa dieksekusi. Sebaliknya, apabila tidak dapat dieksekusi berarti masih ada yang bermasalah darinya. Entah karena memang kurang bagus atau cukup bagus tapi masih terlalu abstrak sampai tidak bisa dicerna dan dipahami secara sederhana.
Selanjutnya, apabila terus begitu, maka akan terjadi penumpukan gagasan, surplus ide tetapi defisit eksekusi. Kaya rencana tetapi miskin pelaksanaan. Padahal, seperti disampaikan sebelumnya, bahwa kenyataan menuntut agar segera ditangani, segera ada eksekusi supaya persoalan-persoalan nyata cepat teratasi, cepat terselesaikan, dengan langkah nyata pula. Jika tidak, maka gagasan itu hanya akan menumpuk di kepala masing-masing penggagas tetapi tidak bisa dilihat wujudnya.
Akhirnya, lingkungan penggagas itu hanya tampak seperti kumpulan para pembual banyak kepala tetapi tidak memiliki tangan dan kaki, atau punya tangan dan kaki tapi lumpuh. Padahal, sebuah organ tubuh harus lengkap baik dari bagian kepala beserta isinya, tangan, sampai kaki. Di sinilah pentingnya membagi peran demi efektivitas, untuk mendapatkan hasil akhir berupa organ tubuh yang lengkap, berupa gagasan yang dieksekusi. Gagasan bagus, eksekusi tembus, sebab sekali lagi, ide yang bagus adalah yang bisa dieksekusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar