M. Q. Aynan
Tiba-tiba saja tidur saya terganggu oleh setengah mimpi soal ortodoksi paham. Entah mengapa juga, ada semacam gejala yang saya rasakan di kamar berukuran dua setengah kali dua setengah meter. Gejalanya adalah lampu yang biasanya terang kemudian menjadi agak redup.
Mirip dengan peristiwa yang melatarbelakangi adanya Renaisans di tanah Eropa. Renaisans yang terasa disini adalah ruang publik sekitar mengalami masa kegelapan karena kepentingan paham yang dikuasai oleh para elit suatu paham-yang-dilembagakan.
Tak berlebihan rasanya jika seperti itu kemudian disebut sebagai masa pertengahan di antara dua kegemilangan. Disebut pertengahan karena masa-masa sebelumnya adalah masa yang masih tercerahkan, dan kemungkinan, masa-masa selanjutnya adalah masa kebangkitan, kelahiran kembali masa tercerahkan.
Kesuramannya ditandai dengan berbagai kreativitas yang terasa makin kesini makin macet, seolah sudah sangat diatur oleh dominasi "gereja" yang sangat kuat dalam hampir berbagai aspek kehidupan. "Gereja" itu sangat mempengaruhi berbagai kebijakan yang diambil oleh pelaksana, sementara pelaksana seolah tidak mempunyai kewenangan.
Pemikiran tampak dipengaruhi oleh paham, bukan oleh penyelidikan. Hidup selalu dikaitkan dengan tujuan akhir yang mengandung muatan tertentu yang sudah ditentukan oleh entah siapa. Maka tujuan akhirnya adalah mencari posisi aman. Pemikiran tentang pengetahuan, yang dapat diuji atau tidak, banyak diarahkan kepada ideologi tertutup. Pemikiran filosofis pun tak ketinggalan seolah mengalami mati suri.
Oleh karenanya, maka apabila ada suatu renaisans di sebuah ruang kecil, pada dasarnya itu sebagai suatu gerak pulang, kembali ke rumah asalnya di dalam kamar-kamar kesusastraan, kesenian, dan ilmu pengetahuan. Jadi, itu berarti bahwa kelahiran kembali di ruang kecil tidak dipengaruhi oleh ide-ide yang betul-betul baru tanpa menggali dari perbendaharaan lama.
Selanjutnya, bisa jadi muncul pertumbuhan elite baru yang terspesialisasi sehingga mengilhami gagasan, wacana yang disegmentasi dan ditarget, dengan menggunakan citra-citra dan teladan-teladan lama dan sebagainya yang digali dari budaya klasik sehingga dapat mempersatukan kembali suatu pemahaman umum yang terpecah ke dalam serpihan-serpihan akibat perang saudara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar